12 Oktober 2026
Samuel Wangsa
Bagikan sekarang

Kompas.com, Jakarta - Hasil analisis data Cek Kesehatan Gratis (CKG) anak selama satu tahun menunjukkan gejala masalah kesehatan jiwa cenderung meningkat seiring bertambahnya usia peserta didik.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), peningkatan tersebut terlihat dari jenjang sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA). Gejala kecemasan dan depresi yang terdeteksi melalui skrining mencapai tingkat tertinggi pada peserta didik jenjang SMA.
Data tersebut merupakan hasil analisis CKG terhadap 23,5 juta anak selama periode Februari 2025 hingga Februari 2026. Direktur Reconstra, Iwan Ariawan mengatakan, gejala masalah kesehatan jiwa sudah mulai terdeteksi pada peserta didik kelas 4-6 SD. Namun, persentasenya meningkat cukup tajam ketika anak memasuki jenjang SMP dan SMA.
“Ini kelas 4 sampai 6 SD. Di sini sudah ada juga skrining untuk masalah kejiwaan, masalah gejala depresi dan gejala cemas. Sama ya ini baru namanya juga skrining, baru gejala kita belum sampai diagnosis, tapi ini kan perlu tatalaksana, nih. Kita sudah ketemu secara dini di sini,” ujar Iwan dalam seminar Tindak Lanjut Cek Kesehatan Gratis Anak, Kamis (13/8/2026).
Gejala meningkat sejak SMP
Pada jenjang kelas 4-6 SD, sebanyak 5,3 juta anak telah mengikuti CKG selama satu tahun. Dari jumlah tersebut, 1,1 persen menunjukkan gejala kecemasan dan 1,3 persen menunjukkan gejala depresi.
Persentase tersebut meningkat ketika anak memasuki kelas 7 SMP. Sebanyak 1,7 juta anak kelas 7 SMP mengikuti CKG, dengan 7 persen menunjukkan gejala kecemasan dan 7,4 persen menunjukkan gejala depresi. Pada kelas 8 SMP, dari 1,49 juta anak yang mengikuti CKG, sebanyak 8,7 persen menunjukkan gejala kecemasan dan 9,1 persen menunjukkan gejala depresi.
Sementara itu, pada kelas 9 SMP, sebanyak 1,42 juta anak mengikuti CKG. Hasil skrining menunjukkan 10,3 persen mengalami gejala kecemasan dan 10,7 persen mengalami gejala depresi. “Masalah kesehatan jiwa yang sudah lumayan kelihatan dan kalau diperhatikan dari yang tadi, kalau ingat data yang tadi ini naik,” tutur Iwan.
Kecenderungan peningkatan tersebut berlanjut ketika anak memasuki jenjang SMA. Pada kelas 10 SMA, sebanyak 1,45 juta anak mengikuti CKG. Hasil skrining menunjukkan 14,6 persen mengalami gejala kecemasan, sedangkan 15,5 persen menunjukkan gejala depresi. Adapun pada kelas 11-12 SMA, sebanyak 1,9 juta anak mengikuti CKG. Sebanyak 15,3 persen menunjukkan gejala kecemasan dan 15,9 persen menunjukkan gejala depresi.
Dengan demikian, berdasarkan data skrining tersebut, gejala kecemasan dan depresi pada peserta didik menunjukkan kecenderungan meningkat dari jenjang SD hingga SMA.
“Kalau kita lihat masalah kejiwaan meskipun ini baru gejala, gejala cemas, gejala depresi makin naik. Jadi gimana program kesehatan mental kita nih di sekolah?” ucap Iwan.
Guru didorong jadi pertolongan pertama psikologis
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, tingginya persentase gejala kecemasan dan depresi pada peserta didik SMP dan SMA perlu menjadi perhatian dalam penguatan layanan kesehatan jiwa. Menurut Budi, hasil CKG menunjukkan pentingnya memperkuat deteksi dini kesehatan mental anak dan remaja, termasuk melalui lingkungan sekolah.
“Masalah mental tinggi di SMA ya Bu, SMP SMA. Kalau SD enggak. Sekarang kelihatan anak-anak sekarang tuh mental health-nya lebih aware,” ujar Budi.
Indikasi masalah kejiwaan tersebut diperoleh melalui instrumen skrining Self Reporting Questionnaire (SRQ-20). Namun, Budi menilai penggunaan istilah medis dalam instrumen skrining masih dapat menjadi kendala bagi anak ketika mengungkapkan kondisi psikologis mereka. Karena itu, Kemenkes akan menyederhanakan instrumen skrining dengan menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami. Pertanyaan, misalnya, dapat diarahkan pada pengalaman yang lebih dekat dengan keseharian anak, seperti kesulitan tidur atau rasa cemas dalam beberapa minggu terakhir.
Budi juga menyoroti keterbatasan jumlah psikolog klinis di Puskesmas. Pemenuhan kebutuhan tenaga tersebut dinilai membutuhkan waktu yang panjang. Sebagai alternatif, ia mendorong penguatan kapasitas guru, khususnya wali kelas, agar mampu memberikan pertolongan pertama psikologis kepada siswa.
“Guru walinya yang diajarkan. Nah nanti kami bisa konsultasi. Guru walinya dikasih P3K Psikologis (Pertolongan Pertama pada Kesehatan Psikologis). Nah itu dibikin modulnya, diajarin aja ke guru-guru wali agar cepat langsung bisa jalan,” ucapnya.
Menurut Budi, wali kelas dapat menjadi salah satu pintu pertama bagi siswa untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi. Dengan pembekalan kemampuan dasar, guru diharapkan dapat mengenali gejala awal dan memberikan pendampingan sebelum siswa memperoleh penanganan lebih lanjut.
Selain melalui sekolah, Kemenkes juga mempertimbangkan layanan konsultasi kesehatan jiwa secara daring. Layanan tersebut dinilai dapat menjadi alternatif bagi remaja yang lebih nyaman berkomunikasi melalui platform digital atau merasa enggan datang langsung ke fasilitas kesehatan.
“Bikin yang online-online saja agar anak-anak muda ini bisa konsultasi online. Karena mereka lebih suka online daripada kita nyiapin psikolog klinis di Puskesmas bisa 20 tahun itu 10 tahun,” ujar Budi.
Stigma hambat tindak lanjut Deputi Pemenuhan Hak Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Rini Handayani mengatakan, persoalan kesehatan jiwa anak juga berkaitan dengan penggunaan gawai dan interaksi di media sosial. Namun, persoalan lain yang tidak kalah penting adalah rendahnya tindak lanjut setelah anak menjalani skrining.
Menurut Rini, meskipun CKG telah membantu menemukan indikasi masalah kesehatan jiwa sejak dini, tidak semua hasil skrining kemudian dilanjutkan dengan konsultasi atau penanganan oleh tenaga profesional. Salah satu hambatan utamanya adalah stigma di lingkungan keluarga. “Kadang-kadang orang tua itu malu untuk menyampaikan kondisi anaknya. Seakan-akan kesehatan jiwa atau kesehatan mental itu identik dengan ‘gila’, padahal tidak seperti itu,” tutur Rini.
Karena itu, hasil CKG tidak semestinya berhenti pada angka skrining. Temuan gejala kecemasan dan depresi perlu menjadi pintu masuk untuk memperkuat edukasi, deteksi dini, pendampingan di sekolah, serta akses terhadap layanan kesehatan jiwa bagi anak dan remaja.