Ahli Membuka Akses Air Bersih dari Hulu ke Hilir

14 April 2026

Mariana Kurniawati

Bagikan sekarang

cover image

Tiga belas tahun bergabung dengan Wahana Visi Indonesia membawa Mita Sirait (48) mendalami sektor Water, Sanitation and Hygiene (WASH) dari hulu ke hilir. Pengalaman dan pengamatan di akar rumput ia rangkum menjadi strategi program WASH yang Wahana Visi Indonesia (WVI) implementasikan. Wawasan dari pertemuan nasional dan internasional ia kontekstualisasikan agar memberi dampak bagi anak dan masyarakat di desa-desa terjauh di Indonesia. “Karena tidak ada orang yang bisa sehat tanpa bersih. Dan tidak mungkin bisa bersih tanpa air, sanitasi, dan higiene. Semua orang butuh WASH supaya bisa sehat, produktif, dan bermartabat,” ujar perempuan yang sejak November 2014 berperan sebagai WASH Specialist di WVI.

Mengubah Realita jadi Dampak Nyata

Menjadi seorang spesialis di sektor WASH memberi kesempatan Mita berkeliling ke daerah-daerah dampingan WVI yang tersebar dari Sumatra hingga Papua. Dari perjalanan ini Mita kerap menangkap realita bagaimana anak dan masyarakat tinggal di desa yang sulit diakses dan sulit mengakses air bersih. Kenyataan ini memengaruhi tumbuh-kembang balita di Kalimantan Barat, mengganggu kesehatan dan kebersihan anak-anak di Papua, dan membuat anak-anak di Nusa Tenggara Timur kehilangan waktu bermain karena harus jalan kaki jauh untuk timba air. Ketiadaan akses air bersih menjadi pemicu ketidakberdayaan anak dan masyarakat di daerah terjauh di Indonesia.

“Kalimantan Barat adalah wilayah dampingan WVI yang paling menantang secara geografis pada saat saya mulai menjadi spesialis WASH. Daerah ini juga yang paling sering saya kunjungi. Jalan setapak berlumpur dan curam, atau kadang naik rakit sederhana untuk lewati sungai. Perjalanan ke desa ditempuh selama dua sampai tiga jam sekali jalan. Belum lagi, tidak ada sinyal. Jadi jika terjadi sesuatu di jalan, tidak akan ada yang tahu sampai ada orang desa yang lewat,” cerita Mita.

Suatu kali, Mita sempat terjebak di tengah perjalanan. Malam itu, motor yang ia tumpangi rusak padahal tempat tujuan masih jauh. Ia dan tim WVI di Kalimantan Barat hanya bisa menunggu di tengah gelapnya hutan, berharap ada warga desa yang lewat dan bisa membantu.

“Waktu itu saya mengeluh dalam hati, untuk apalah saya ada di sini. Di tengah hening, di kepala saya terlintas semua wajah yang saya temui di desa yang baru saya kunjungi. Di sana anak-anak tidak mengenal kebersihan dan tanpa ekspresi. Hanya ada dua rumah yang punya WC dengan saluran air bersih. Di situlah saya sadar betapa Tuhan mengasihi anak dan masyarakat di desa yang sangat jauh itu. Tuhan menghadirkan WVI untuk menjangkau dan menunjukkan kalau harapan itu ada,” tuturnya.

Perjalanan yang sulit dan melelahkan fisik jadi tantangan kecil untuk Mita karena ia tahu tujuan utama pekerjaan ini. Setelah menghadapi berbagai momen sulit, ia juga menyaksikan bagaimana desa dampingan WVI satu per satu mulai sadar pentingnya hidup bersih dan sehat, bergotong-royong membangun jaringan air bersih, dan menjaga agar air bersih terus bisa mengalir ke setiap rumah. Dampak baik ini menular pada cara berpikir Mita. Ia tidak lagi melihat anak dan masyarakat yang paling rentan dengan kacamata yang sama.

“Ini mendorong saya ikut bersuara untuk orang-orang yang tidak bisa bersuara dan tidak terjangkau. Saya ikut berusaha supaya semua anak dan orang dewasa mendapat air dan sanitasi yang layak. Tidak ada yang tertinggal dan ditinggalkan. Saya percaya, kita diberi kapasitas untuk bisa mencapai tujuan itu, bisa melakukan implementasi program WASH yang lebih kontekstual dan berkualitas,” ungkap perempuan kelahiran Parapat, Sumatra Utara ini. Dari realita yang menggelisahkan, Mita mengupayakan banyak cara untuk bisa mengembangkan senyum di wajah anak-anak karena air bersih sudah dekat.

Peran Penting Seorang WASH Specialist di WVI

Sebagai seorang spesialis, Mita bertugas untuk mengembangkan metode yang tepat agar air bersih bisa diakses dalam jangka waktu yang lama. Terlebih karena akses air bersih bukan hanya bicara soal konstruksi atau hal-hal teknis tapi juga berfungsi jangka panjang, dikelola secara berkelanjutan, sumber airnya terlindungi, serta ada perubahan perilaku dari pengguna air. Hal ini jadi tantangan yang berbeda untuk Mita karena Indonesia memiliki konteks yang beragam.

Mita dan WVI tidak pernah berhenti belajar dan mencari tahu cara terbaik agar anak dan masyarakat dapat mengakses air bersih dan hidup lebih sehat. Ada masa di mana Mita perlu berada di area dampingan dalam waktu yang lama untuk mengamati dan mencari cara yang paling kontekstual. Atau ada juga masa di mana Mita bersama tim perlu menyelaraskan strategi di tingkat nasional untuk memperluas dampak prorgram. Tak lupa juga, ada masanya untuk menampilkan beragam praktik baik dari anak dan masyarakat ke kancah internasional.

“Terapkan, tidak berhasil, coba lagi dengan metode berbeda, lalu terapkan lagi. Begitu seterusnya sampai ketemu formula yang pas untuk konteks tertentu, sembari meningkatkan kapasitas staf lapangan. Lakukan, lihat, dan evaluasi lagi sampai akhirnya saya bisa mengatakan, untuk WASH di Indonesia, saya tahu seluk-beluknya,” tuturnya. Pengalaman ini kemudian menjadi dasar untuk Mita dan WVI membangun modul dan panduan teknis sederhana, sehingga lebih mudah digunakan oleh staf dan pengelola air dan masyarakat awam. Pemahaman ini juga jadi modal utama ketika ada pertemuan internasional, baik dengan lembaga lain maupun mitra World Vision lainnya. Hal ini telah berhasil membuat WVI menjadi salah satu organisasi yang memiliki kapasitas untuk menggarap program WASH dengan pendekatan pengembangan transformasional ataupun saat tanggap bencana.

Program WASH yang WVI terapkan bukan hanya fokus pada penyediaan fasilitas, tapi terlebih dulu perlu membangun komitmen, kesadaran, dan rasa kepemilikkan masyarakat. Semua jaringan air bersih di desa merupakan hasil kolaborasi antara masyarakat, pemerintah setempat dengan WVI. Masyarakat menyumbang material yang bisa didapat di desa, tenaga, dan koordinasi gotong-royong termasuk penyediaan konsumsi dan pengaturan jadwal pekerjaan. WVI mengisi kesenjangan yang masyarakat dan pemerintah desa tidak bisa penuhi misalnya, material yang sulit didapat di desa dan menurunkan tenaga ahli seperti Mita atau staf lapangan yang berkualitas. Tak jarang juga kontribusi masyarakat jauh lebih besar daripada WVI bilamana pihak desa perlu melepas lahan untuk dijadikan area pipanisasi atau bak penampungan.

Kolaborasi yang setara ini jauh lebih berharga daripada fasilitas air bersih dan sanitasi itu sendiri. Kolaborasi ini juga yang menjamin keberlanjutan fasilitas yang dibangun. Anak dan masyarakat yang kembali merasa berdaya dan bermartabat menjadi pencapaian terbesar dalam program WASH yang WVI terapkan. Bonusnya, akses air bersih hadir di desa, membawa anak dan masyarakat pada kualitas hidup yang lebih. Mita adalah bagian penting dari proses ini.

Kerja sama antara dirinya yang memiliki wawasan WASH dengan tim di lapangan yang mengenal konteks anak dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan program WASH yang WVI implementasikan. Mita menyadari bahwa program WASH juga perlu didukung oleh tim lapangan yang makin hari makin ahli tentang WASH. Karena itu, selain sibuk dengan implementasi program, ia juga mentrasfer wawasan kepada para staf WVI yang menjadi garda terdepan. Proses kerja jadi bisa lebih sederhana karena ada staf-staf di lapangan yang paham implementasi program WASH.

“Saya juga merasa berhasil ketika staf di lapangan mampu melakukan intervensi teknis secara mandiri walaupun sederhana. Saya tahu hal ini akan menjadi pengetahuan dan keterampilan yang berguna seumur hidup,” jelasnya. Mita sangat mengagumi karya para staf di lapangan yang tidak kenal lelah dan selalu bisa tersenyum ketika menghadapi medan yang sulit dan dinamika yang rumit. “Totalitas dan berdedikasi. Hal yang membuat masyarakat desa juga percaya kepada WVI karena mereka juga sadar bahwa desanya sangat sulit dijangkau dan memiliki tantangan yang tidak mudah,” katanya.

Akses Air Bersih untuk Semua

Bagi Mita, tidak ada harapan yang lebih penting daripada anak-anak mendapat air bersih dan sanitasi yang layak dan aman. Anak-anak bisa tinggal di desa yang bersih sehingga tumbuh-kembangnya ideal. Tidak perlu berjalan jauh untuk mengambil air sehingga ada waktu bermain dan belajar. Anak-anak bisa menggunakan WC yang aman dan nyaman di rumah, di sekolah atau di manapun. “Anak-anak, semuanya. Tidak ada yang tertinggal dan ditinggalkan,” tutur Mita.

Bukan hanya anak dan masyarakat yang tinggal di desa-desa terjauh, akses air bersih juga menjadi hak bagi yang tinggal di tengah padatnya perkotaan. Ketimpangan akses air bersih juga masih Mita saksikan kota-kota besar. “Pemandangan yang mengusik dan tidak bisa saya lupakan, kenapa di kota, di zaman modern pun masih ada orang yang tidak punya air bersih dan WC di rumahnya,” ungkapnya.

Air bersih untuk semua adalah tujuan utama Mita, WVI, dan juga kita. Karena, pepatah lama “air adalah sumber kehidupan” masih berlaku dulu, sekarang, dan di masa mendatang.

Penulis: Mariana Kurniawati (Communication Executive)