Air, Gender, dan Transformasi

11 Maret 2026

Mariana Kurniawati

Bagikan sekarang

cover image

Salah satu area dampingan Wahana Visi Indonesia (WVI) di Kabupaten Melawi adalah dusun terjauh di Kalimantan Barat. Pada saat WVI mulai melakukan pendampingan di sana, diperlukan waktu tiga jam bermotor trail untuk bisa sampai ke dusun. Selalu ada kemungkinan motor terjatuh di jalan tanah kuning berlumpur apabila hujan dan terperangkap di jalan tak bersinyal apabila motor mengalami kerusakan.

Kondisi kesehatan anak sangat buruk, penderita tuberkulosis juga tinggi. Lingkungan sangat kotor, baik dari tinja manusia maupun hewan. Buang air besar sembarangan adalah hal yang biasa apalagi di dusun ada sungai, sehingga sungai menjadi jamban terpanjang. Guru, tenaga kesehatan, dan pendatang tidak bersedia tinggal atau berkunjung ke dusun karena lingkungan yang sangat kotor dan bau. Hal ini membuat Ibu Lipah, seorang warga desa, merasa tertolak dan sangat malu karena kampungnya dicap sangat kotor. Hal ini juga membuatnya berkomitmen melakukan perubahan.

Titik Balik Dusun

Tahun 2017, Ibu Lipah dilatih tentang STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat). Ia belajar tentang air, sanitasi dan higiene, serta perubahan perilaku. Ia kemudian melakukan pemicuan stop buang air besar sembarangan dan menggerakkan ibu-ibu bergotong royong membangun WC. Lebih dari 40 orang ibu-ibu bekerja sama mengangkut semen, pasir, kerikil dan paralon. Para perempuan desa ini berjalan kaki lewat sungai ke kampung sekitar satu jam lamanya. Satu sak semen dibawa berdua supaya bisa diangkut, per orang sekitar 50 kilo. "Masyarakat mengira kami dapat uang dari WVI, tapi saya jelaskan, tidak ada bayaran dari WVI. Itu adalah dari hati kami supaya dusun segera stop buang air besar," katanya bersemangat sambil mengutarakan betapa beratnya berhadapan dengan tuduhan dan penolakan masyarakat pada saat itu.

Transformasi Seluruh Warga

Para bapak awalnya skeptis tapi karena melihat para ibu serius bekerja, akhirnya ikut turun membantu. Mereka membawa material ke kampung, ikut memasang tenda, dan berjaga malam di ujung dusun untuk menjaga tumpukan material karena mobil tidak sanggup masuk ke dusun. Mereka ikut juga menggali lubang untuk membuat tangki resapan untuk WC. Tiga bulan gotong royong se-kampung ini akhirnya berhasil membuat semua keluarga di dusun mempunyai WC.

Bukan hanya pembangunan fasilitas, pemerintah desa juga mengeluarkan peraturan dusun yang melarang masyarakat buang air besar di sungai. Dusun ini kemudian diverifikasi oleh Dinas Kesehatan secara door to door. Hasilnya seratus persen masyarakat menggunakan WC rumah tangga. Transformasi ini menjadi sejarah besar di dusun. Deklarasi Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS) membuat dusun dikunjungi banyak orang, menerima tamu dari dusun dan desa lain, dari kecamatan hingga kabupaten.

Perubahan yang Berkelanjutan

Keberhasilan ini mendorong perubahan perilaku lebih melekat di masyarakat. Setiap orang mulai merasa nyaman buang air besar di rumah masing-masing. Sungai menjadi lebih bersih dan nyaman untuk mandi dan anak bermain. Masyarakat besama WVI lanjut membangun jaringan air bersih. Pengalaman gotong royong untuk sanitasi telah membantu menyukseskan gotong royong berikutnya. Prosesnya kemudian menjadi lebih ringan.

Ketika jaringan air bersih di desa selesai dibangun, semua rumah mendapat kran masing-masing. Jaringan ini dikelola oleh komite air dusun. Setiap keluarga wajib membayar air sesuai banyaknya pemakaian. Uang yang terkumpul ini kemudian berkembang untuk simpan pinjam sehingga kas komite air semakin berkembang. Dusun punya dana untuk melakukan berbagai kegiatan. Cara pandang masyarakat mulai berubah, program-program WVI lainnya seperti pos gizi, kebun gizi, pengasuhan dengan cinta dan program pemerintah lainnya pun masuk dan berjalan saling melengkapi.

Warisan untuk Anak-anak di Masa Depan

Selesai urusan sanitasi dan air bersih, Ibu Lipah tidak berhenti. Beliau terus mendorong perubahan pola asuh, hidup lebih bersih dan mendorong orangtua mengelola air minum aman di rumah. Setidaknya, memberikan anak air minum yang sudah dimasak. Secara berkala, beliau memeriksa air minum yang dibawa oleh anak-anak ke sekolah, memastikan airnya sudah dimasak. Beliau juga mendorong anak-anak balita ke posyandu, menggerakkan kebun gizi dan terlibat di pos gizi. Tidak ada lagi temuan gizi buruk di kampung.

Transformasi terjadi. Lingkungan semakin bersih, anak-anak semakin sehat. Pendatang pun mau berkunjung ke dusun tanpa takut akan tertular penyakit karena lingkungan kotor. Bahkan seorang pendatang yaitu, guru yang membantu mengajar di sekolah, akhirnya bersedia tinggal di dusun. "Kampung ini sudah berubah. Seorang staf pemerintah kabupaten waktu datang ke dusun mengatakan itu kepada saya. Walaupun tidak sempurna tetapi sudah layak untuk ditinggali. Ini semua karena dukungan masyarakat, WVI, dan pemerintah," ucapnya saat menghadiri acara penutupan kantor operasional WVI di Melawi September 2025 lalu.

Ibu Lipah adalah contoh perempuan yang membawa perubahan melalui akses air bersih dan sanitasi. Ada banyak ibu-ibu lain di wilayah dampingan WVI yang melakukan perubahan karena tergerak untuk hidup lebih sehat dan lebih baik. Air dan sanitasi adalah salah satu pintu masuk perubahan itu.

Selamat Hari Air Sedunia.

Penulis: Mita J. Sirait (WASH Specialist Wahana Visi Indonesia)

Penyunting: Mariana Kurniawati (Communication Executive)

Air, Gender, dan Transformasi