30 April 2026
Mariana Kurniawati
Bagikan sekarang

Setelah berbulan-bulan hidup tanpa kepastian air bersih, warga dusun yang terletak di Kabupaten Tapanuli Tengah akhirnya bisa bernafas lega. Pembangunan pipanisasi yang telah rampung membuat air kembali mengalir deras ke rumah-rumah warga. Masa sulit ketika mereka harus berjalan ke sumber air yang jauh hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar telah berakhir. Bagi Obelius (31), perubahan ini bukan sekadar kemudahan, tetapi juga rasa aman bagi keluarganya di tengah situasi tanggap bencana banjir dan longsor yang terjadi di Sumatra.
Obelius sehari-hari bekerja sebagai seorang pekerja honorer yang tinggal bersama istri dan dua anaknya. Ia juga terlibat dalam proses pembangunan pipanisasi di desanya. Sehingga ia bukan hanya merasakan dampak tetapi juga berkontribusi dalam pengerjaan pipanisasi ini.
Sebelum adanya perbaikan sistem, kondisi air di rumahnya sering kali tidak mencukupi. Aliran air kecil dan tidak stabil membuat kebutuhan dasar sehari-hari seperti mandi, mencuci, dan memasak menjadi sulit dilakukan.
“Dulu airnya sedikit, tidak memuaskan. Sekarang sudah kuat dan deras, jadi beberapa hari ini tidak ada lagi yang mengeluh soal air,” ungkapnya.
Situasi semakin sulit saat bencana melanda. Selama hampir satu minggu, air tidak mengalir sama sekali. Dalam kondisi tersebut, Obelius dan keluarganya terpaksa mandi dan mencuci di sungai yang berjarak sekitar 500 meter dari rumah. “Waktu itu hampir satu minggu tidak ada air. Kami mandi dan mencuci di sungai. Walaupun kelihatan jernih, tapi tidak bisa dipastikan bersih,” ceritanya.
Berbagai upaya sempat dilakukan secara mandiri. Ia bahkan pernah mengganti pipa dengan biaya sendiri karena mengira kerusakan berasal dari jaringan di sekitar rumah. Namun usaha tersebut tidak membuahkan hasil.
Perubahan mulai terlihat ketika Wahana Visi Indonesia (WVI) hadir memberikan dukungan pembangunan pipanisasi air bersih. Bantuan berupa material seperti pipa dan perlengkapan lainnya sangat membantu masyarakat yang sebelumnya tidak mampu memperbaiki sistem secara mandiri. Pembangunan dilakukan secara gotong royong.
Sebagai seseorang yang ikut membangun, ia merasakan kebanggaan tersendiri. Kini, ia dan keluarganya juga menjadi bagian dari masyarakat yang menikmati hasil dari kerja bersama tersebut.
Setelah sistem pipanisasi selesai dan mulai berfungsi secara optimal, perubahan yang dirasakan sangat nyata. “Sekarang air sangat cukup, bahkan bisa dibilang berlebih. Kami juga tidak perlu takut lagi kalau air akan habis,” ujarnya. Tidak ada lagi warga yang harus meninggalkan pekerjaan hanya untuk mencari air. Hal ini tentu berdampak pada kehidupan sehari-hari keluarganya. Pekerjaan rumah tangga menjadi lebih ringan, terutama bagi istrinya yang mengurus kebutuhan rumah. Anak-anaknya juga kini dapat mandi dengan lebih nyaman di rumah tanpa harus pergi ke sungai.
Di tingkat masyarakat, perubahan juga terlihat jelas. Jika sebelumnya sering terdengar keluhan warga terkait air yang tidak mengalir, kini keluhan tersebut tidak lagi terdengar. Warga dapat kembali fokus pada pekerjaan sehari-hari tanpa terganggu oleh kebutuhan dasar air bersih.
Melihat perubahan ini, masyarakat berkomitmen untuk menjaga dan merawat sistem pipanisasi yang telah dibangun. Warga sepakat untuk menggunakan air secara bijak dan bersama-sama menjaga fasilitas agar dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.
“Kami sangat berterima kasih kepada WVI yang sudah membantu desa kami. Mungkin kami tidak bisa membalas, tapi kami hanya bisa mendoakan supaya semua yang sudah membantu diberkati dan pekerjaannya berjalan dengan baik,” tuturnya.
Kini, bagi Obelius dan masyarakat dusun, air bersih bukan lagi sesuatu yang harus diperjuangkan setiap hari. Air telah menjadi bagian yang pasti dalam kehidupan mereka; membawa kemudahan, kenyamanan, dan rasa aman yang sebelumnya sempat hilang.
Penulis: Beni Imran Sentosa (Penyedia Jasa Individu program WASH Tanggap Bencana Banjir dan Longsor Sumatra)
Penyunting: Mariana Kurniawati (Communications Executive)