Anak-anak di Sumatra Lalui Masa Sulit Pasca Bencana

15 April 2026

Mariana Kurniawati

Bagikan sekarang

cover image

Saat itu suasana desa terasa berbeda. Desa yang biasanya tenang berubah jadi penuh kekhawatiran. Hujan yang turun terus-menerus membuat tanah menjadi labil sehingga terjadi longsor dan banjir. Banyak warga terpaksa meninggalkan rumah mereka demi keselamatan. “Bagi saya, kejadian itu menjadi pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan. Hari ketika kami harus meninggalkan rumah dan belajar untuk bangkit kembali,’’ ujar Patria (10).

Akhir November 2025, tiga provinsi di Sumatra mengalami banjir dan longsor yang berdampak masif pada kehidupan anak dan keluarga. 1.207 orang meninggal dan 4.595 keluarga harus mengungsi. Dalam kondisi ini, anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan. Salah satunya adalah Patria, seorang anak yang tinggal di desa terdampak di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara.

“Pagi hari ketika saya bangun tidur, saya lihat rumah tante saya sudah kosong karena mereka mengungsi ke rumah nenek. Di depan rumah tante, banjir sudah sangat dalam. Air terus naik. Tidak lama kemudian, kami semua meninggalkan rumah dengan rasa takut dan tidak pasti. Hari itu kami mengungsi dan malamnya kami tidur di tempat mengungsi bersama warga lain,” ia menceritakan kembali peristiwa saat banjir melanda.

Rumah keluarga Patria rusak parah, begitu juga warga lain yang berada di lorong yang sama. Banjir dan longsor menerjang tempat tinggal dan harta benda mereka. Menyaksikan bagaimana rumah tersebut tidak bisa lagi dihuni membuat hati Patria sedih. Menjalani hari mengungsi di rumah warga juga bukan hal yang mudah baginya.

“Di tempat pengungsian, makanan sangat terbatas. Banyak nyamuk jadi kami tidak bisa tidur nyenyak. Pada awal mengungsi, kami juga kesulitan mendapatkan pakaian. Di sekitar kami banyak anak kecil yang menangis. Saat itu saya juga merasa sangat khawatir karena menunggu Bapak yang masih berada di tempat yang kebanjiran. Saya takut tidak bisa bertemu lagi dengan Bapak. Tapi setelah sekitar satu jam menunggu, Bapak kembali. Saya merasa sangat lega,” ungkapnya.

Selain Patria, anak-anak lain juga merasakan hal yang sama. Di usianya yang memasuki masa pra remaja, Patria dan anak-anak di desa terdampak harus mencerna realita dan berbagai perasaan yang begitu tiba-tiba. Kaget, khawatir, sedih, atau takut adalah perasaan yang anak-anak ungkapkan setelah banjir dan longsor terjadi. Kehidupan anak-anak pun berubah drastis. Banyak hal jadi sangat terbatas seperti asupan gizi, air bersih, tempat tinggal layak, pendidikan, serta waktu untuk bermain.

Hal inilah yang membuat dukungan psikososial bagi anak-anak sangat penting untuk segera dilakukan saat bencana. Sesegera dan serutin mungkin, anak-anak perlu waktu dan ruang untuk kembali menjadi anak-anak. Wahana Visi Indonesia (WVI) memfasilitasi kebutuhan ini dengan membuka Ruang Ramah Anak saat melakukan tanggap bencana banjir dan longsor di Sumatra.

Ruang Ramah Anak bisa berbentuk tenda atau ruang kelas atau bahkan teras rumah. Selama layak dan aman untuk digunakan, Ruang Ramah Anak bisa diselenggarakan. Di sana akan ada beberapa orang dewasa yang sudah terlatih untuk mendampingi anak-anak pasca bencana. Kegiatannya mungkin terlihat sederhana seperti mewarnai, menggambar, bernyanyi, atau melakukan permainan. Namun, di sinilah anak-anak dapat dengan aman mengungkapkan perasaaan dan pendapatnya ketika harus menghadapi kehidupan yang tiba-tiba berubah karena bencana. Ruang Ramah Anak juga bisa berfungsi sebagai tempat anak-anak belajar mengenai perlindungan dan hak-hak anak.

“Beberapa kakak dari WVI waktu itu datang menyapa. Mereka tanya nama, umur, dan sekolah saya. Ramah-ramah. Sejak itu, hari-hari saya mulai berwarna lagi. Bisa main dan belajar lagi. Saya merasa lebih berarti, percaya diri. Saya merasa lebih kuat dan tidak terlalu sedih lagi ketika mengingat kampung saya yang terkena banjir. Saya dan teman-teman juga belajar tidak buang sampah sembarangan, belajar tentang pentingnya perlindungan diri,” ujarnya.

Kini, kurang-lebih tiga bulan pasca bencana, Patria dan keluarganya sudah bisa pindah ke hunian sementara yang lebih aman. Tidak lagi di posko pengungsian. Namun, ia terus mengingat bagaimana kegiatan-kegiatan di Ruang Ramah Anak menjadi salah satu penjaga semangatnya selama mengungsi.

“Bagi saya, kehadiran WVI sangat berarti karena membantu saya bangkit kembali. Saya lebih bersemangat menjalani hari-hari. Harapan saya untuk masa depan adalah agar desa saya bisa kembali seperti dulu. Saya ingin kembali tertawa bersama, bermain bersama teman-teman, dan berkumpul lagi dengan keluarga serta orang-orang di kampung kami,” pungkas Patria.

Anak dan keluarga di Sumatra sedang berusaha untuk bangkit lebih cepat dan pulih lebih kuat. WVI berkomitmen untuk melakukan tanggap bencana banjir dan longsor Sumatra hingga Juni 2026. Fokus tanggap bencana adalah anak-anak. WVI mengupayakan anak-anak dapat kembali hidup utuh sepenuhnya di masa yang tidak mudah ini. Mari kita dukung dan doakan agar anak-anak di Sumatra dapat terus tersenyum dan percaya kalau selalu ada harapan untuk Sumatra.

Penulis: Yohana Simatupang (Pekerja lepas untuk program tanggap bencana WVI di Sumatra)
Penyunting: Mariana Kurniawati (Communication Executive)