10 Maret 2026
Mariana Kurniawati
Bagikan sekarang

26 November 2025 menjadi memori kelam bagi Tina (16). Remaja perempuan ini harus meninggalkan rumahnya yang rusak di salah satu desa di Kabupaten Tapanuli Tengah. Banjir besar menerjang rumah dan desanya. Bersama keluarganya, Tina mengungsi ke posko. Di sana, hidup terasa serba terbatas. Namun Tina melihat sebuah kesenjangan yakni, belum ada lembaga yang memberikan perhatian khusus pada asupan makanan anak dan bayi.
Bersama Wahana Visi Indonesia (WVI), Tina memutuskan untuk terlibat aktif. Ia seorang pengungsi tapi juga berperan sebagai kader koordinator dapur umum yang menyediakan makanan khusus untuk anak-anak. Dapur ini biasa disebut dengan nama Dapur PMBA (Pemberian Makan Bayi dan Anak).
Dengan perannya ini, Tina mendapat pelajaran baru yang mengubah perspektifnya. Ia dilatih memasak makanan bergizi tanpa garam dan penyedap rasa (MSG) – sebuah standar yang sangat asing baginya. Awalnya, tantangan datang dari lidah mereka sendiri. “Makanannya tidak enak, terlalu tawar,” keluh banyak orang termasuk Tina. Anak-anak di posko pengungsian menolak makan karena terbiasa dengan rasa asin yang kuat. Namun, tim tanggap bencana banjir Sumatra WVI secara konsisten melakukan edukasi. Tina mulai sadar bahwa dibandingkan menyenagkan lidah dengan penguat rasa, asupan nutrisi untuk masa depan anak jauh lebih penting.
Perubahan terbesar terjadi ketika Tina mulai mampu menghadapi keluhan dari para orang tua. Saat orang tua mengeluh anak mereka tidak mau makan, Tina dengan sabar menjelaskan dan membuktikan bahwa anak-anak bisa dilatih untuk menerima rasa alami makanan. Keberhasilan paling nyata ia rasakan di rumahnya sendiri. Adiknya yang semula pilih-pilih makanan dan menganggap makanan sehat itu kurang rasa, perlahan mulai bisa menerima. Tina juga berhasil mengedukasi rekan-rekan sesama relawan dan para ibu di pengungsian. Ia sendiri berubah dari seorang remaja yang ikut mengeluh, menjadi seorang pendidik yang gigih membela kesehatan anak.
Pada 4 Februari 2026, posko ditutup dan Tina kembali ke desanya dengan harapan baru. Namun, alam kembali menguji. Seminggu setelah kembali ke rumah, banjir susulan yang lebih besar datang. Rumah sementara yang mereka huni tersapu bersih. Tina dan keluarganya kehilangan tempat tinggal untuk yang kedua kali. Kondisi ini terasa sangat sulit bagi Tina dan keluarganya. Yang tersisa hanya baju yang dikenakan, tanpa rumah dan hanya menumpang di gereja atau di rumah Ibu Nani, sesama kader Dapur PMBA.
Tapi, di tengah kesulitan ini pun, Tina tidak berhenti membantu sesama pengungsi. Sepulang sekolah, ia tetap menjadi motor penggerak bagi warga lainnya. Dapur PMBA menjadi tempat ia berkontribusi untuk membantu meringankan beban para pengungsi.
Kisah Tina menunjukkan bahwa bencana memang bisa menghancurkan bangunan fisik, tetapi tidak menghancurkan karakter. Perubahan yang Tina alami – dari seorang penyintas menjadi kader yang paham nutrisi dan terampil – adalah investasi jangka panjang bagi desanya. “Bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang baik, bertemu dengan staf WVI. Sudah banyak membantu kami di posko dari awal sampai sekarang kurang-lebih tiga bulan. Terima kasih sudah hadir untuk kami,” ujarnya.
Saat ini, meski Tina masih tinggal menumpang, ia tetap menjadi pelindung bagi anak-anak di lingkungannya. Ia memastikan, bahwa di tengah bencana sekalipun, generasi penerus harus tetap mendapatkan asupan terbaik.
Penulis: Sonti Manik (Project Officer Tanggap Bencana Banjir dan Longsor Sumatra WVI)
Penyunting: Mariana Kurniawati (Communication Executive)