15 April 2026
Mariana Kurniawati
Bagikan sekarang

Selama lebih dari 30 tahun menjadi petambak, Harto (53) menghadapi berbagai tantangan dalam mengelola tambaknya. Namun, perubahan besar mulai terlihat ketika ia secara mandiri memutuskan menanam mangrove di sekitar tambak. Keputusan ini muncul dari kesadaran pribadi setelah melihat kelestarian lingkungan yang makin terancam di sekitarnya.
Kondisi lingkungan di sekitar tambaknya berubah drastis. Ia menceritakan bagaimana area sungai di dekat tambak pernah mengalami penggusuran yang berdampak pada hilangnya vegetasi alami. Sejak saat itu, lingkungan terasa lebih panas dan tambak kehilangan keseimbangan alami. Ikan-ikan tidak lagi memiliki tempat berteduh sehingga memengaruhi kondisi tambak secara keseluruhan.
Tidak hanya itu, karena tambak berada di Kelurahan Keputih, Surabaya ini tidak ada mangrove, tanggul tambak jadi lebih rentan. Harto beberapa kali mengalami tanggul jebol hingga gagal panen. Kondisi ini menjadi titik balik baginya untuk mulai mencari cara agar tambaknya bisa lebih tahan terhadap perubahan lingkungan.
Melalui pendampingan Wahana Visi Indonesia (WVI) melalui program Mangrove Adaptive and Resilient Village for Enhanced Livelihoods by Adopting Sustainable and Environmentally-Friendly Aquaculture (MARVEL SEA), Harto mulai paham tentang fungsi mangrove. Ia belajar pembibitan mangrove yang baik serta mengenal jenis-jenis mangrove yang cocok ditanam di area tambak. Pengetahuan ini membuka wawasannya bahwa mangrove bukan hanya tanaman tapi bagian penting dari ekosistem tambak.
Dari proses belajar itu, tumbuh kesadaran dalam diri Harto. Tanpa menunggu arahan lebih lanjut, ia berinisiatif menanam mangrove secara mandiri di sekitar tambaknya. Keputusan ini menjadi langkah penting yang menunjukkan perubahan cara pandangnya terhadap lingkungan.
Inisiatif ini memang berhadapan dengan tantangan. Bibit mangrove yang ia tanam sering dimakan kambing dan kepiting. Selain itu, menanam mangrove ternyata cukup menguras tenaga. Tapi Harto tetap melanjutkan niatnya karena sudah memahami manfaat jangka panjang dari mangrove.
Ketika mangrove mulai tumbuh, manfaatnya mulai terasa. Mangrove membantu melindungi tanggul tambak dan lingkungan sekitar tambak mulai membaik. Bagi Harto, ini bukan tentang memperbaiki tambak tapi menjaga keberlanjutan usahanya sebagai petambak.
“Sekarang saya sadar kalau tidak ada mangrove, tambak jadi lebih rentan. Mangrove ini seperti pelindung, bukan hanya untuk tambak tapi juga untuk masa depan kami,” ungkapnya.
Perubahan yang dialami Harto jadi sangat berarti karena lahir dari kesadaran dan inisiatif pribadi. Ia tidak hanya mengalami perubahan fisik pada tambaknya, tapi juga dalam cara beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.
Ke depan, Harto berharap makin banyak petambak yang memiliki kesadaran serupa. Ia membayangkan, kawasan tambak yang lebih hijau, tidak gersang, dan mampu memberi hasil panen yang lebih menguntungkan.
Penulis: Santo Petrus (Koordinator program MARVEL SEA di Surabaya)
Penyunting: Mariana Kurniawati (Communication Executive)