21 September 2026
Mariana Kurniawati
Bagikan sekarang

Saat ini, ada satu memori penting yang terekam dalam benak anak-anak di Flores, Nusa Tenggara Timur. Memori akan gempa magnitudo 7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026, yang menghancurkan rumah dan sekolah. Bencana yang pada suatu pagi mengubah kehidupan mereka.
“Waktu gempa, saya lagi tidur. Saya langsung lari ke tempat tidurnya Bapak tapi material rumah sudah berjatuhan. Saya berlindung bersama Bapak,” tutur Alno, anak laki-laki berusia 13 tahun yang tinggal di Kabupaten Manggarai. Gempa membuat rumahnya rata tanah. Ia bersama kedua orang tua serta saudara kandungnya mengungsi di tenda darurat. Aktivitas rutinnya terhenti dan malah diwarnai dengan rentetan gempa susulan. “Saya masih trauma,” ujarnya.
Di Kabupaten Nagekeo, Beti (9) juga menjadi penyintas gempa. Sebagian rumahnya runtuh. “Saat gempa, Mama bawa saya dan adik lari keluar rumah. Sekarang saya tinggal di rumah tante dan sekolah di posko,” cerita anak perempuan ini.
Ribuan anak di Flores merasakan hal yang sama seperti Alno dan Beti. Bencana menyebabkan ketidakpastian dan kekhawatiran. Ritme kehidupan terganggu secara tiba-tiba. Anak-anak yang Wahana Visi Indonesia (WVI) dampingi di enam kabupaten yang terdampak gempa, sudah berada dalam situasi rentan. Ketika bencana terjadi, kerentanan itu semakin ekstrim.
Namun, di tengah situasi ini, anak dan keluarga di Flores juga menunjukkan ketangguhan yang luar biasa. Orang tua saling menolong satu sama lain meskipun sedang sama-sama dalam kesulitan. Anak-anak menjadi prioritas utama bagi orang tua. Sedangkan anak-anak dengan kepolosannya, membuat gempa mengambil rumah atau sekolah tapi bukan sukacita atau semangat mereka.
WVI segera merespon peristiwa ini dengan mengubah mode program yang sebelumnya pembangunan masyarakat menjadi tanggap darurat. Kesenjangan kebutuhan akibat gempa harus segera diisi kembali. Bukan hanya agar anak dan keluarga selamat, tapi juga untuk menjaga martabat serta semangat yang anak dan keluarga di Flores miliki di tengah situasi yang tidak mudah ini.
Hingga 14 September 2026, tanggap darurat yang WVI lakukan telah menjangkau lebih dari 21.000 orang – 13.400 diantaranya adalah anak-anak. Kegiatan-kegiatan yang WVI lakukan selama satu bulan tanggap darurat terdiri dari:
Distribusi bantuan non pangan
Akses air bersih dan sanitasi
Dukungan psikososial awal untuk anak
Dapur darurat untuk balita
Tanggap darurat ini akan WVI lakukan hingga November 2026. Karena kami ingin mendampingi Alno hingga nanti ia menjadi pemain bola, Beti hingga nanti ia menjadi guru, serta anak-anak lain di Flores hingga nanti setiap cita-cita mereka tercapai.
Penulis: Mariana Kurniawati (Communication Executive)