Harapan dari Setiap Paket Makanan Bergizi di Pidie Jaya

20 Juli 2026

Mariana Kurniawati

Bagikan sekarang

cover image

Enam bulan setelah bencana banjir dan longsor, Kak Bit (45) masih mengingat jelas apa yang terjadi pada keluarganya, pada desanya, di akhir November 2025 itu. Hari di mana ia harus menyelamatkan anak-anaknya agar tidak terendam banjir. Tapi tidak juga melupakan tanggung jawab pada desanya yang berada di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.

“Kami kan tidak pernah banjir jadi santai saja di rumah walaupun hujan deras. Jam dua malam, tiba-tiba airnya terus mengalir. Air masuk dari dinding yang kena tebas. Kami tidak sempat menyelamatkan peralatan rumah. Semua terendam,” tuturnya.

Malam itu, Kak Bit, suami, dan kedua anaknya bertahan di rumah karena kondisi tidak memungkinkan untuk mengungsi. Ia menumpuk beberapa barang yang tersisa seperti kursi, meja, dan kasur untuk dijadikan tempat yang aman bagi anak-anak. Sedangkan ia dan suami bertahan di dalam air menunggu pagi datang.

Sebelum bencana terjadi, Kak Bit berperan sebagai kader Posyandu di desa. Sesudah bencana, ia tetap berkomitmen untuk menjalankan perannya walaupun kondisi sangat tidak menentu. Keluarganya mengungsi, rumahnya rusak, hanya tersisa pakaian basah yang ia kenakan, tapi itu semua tidak membuat Kak Bit kehilangan panggilannya.

“Dari hati saya juga, kalau saya tidak ikut membantu, macam mana anak-anak. Saya sebagai kader, saya harus bertanggung jawab di desa. Setelah banjir, kurang lebih seminggu anak-anak kekurangan makanan. Yang dikonsumsi hanya mi instan. Pokoknya makanan yang apa adanyalah. Tidak memenuhi gizi anak-anak,” ujarnya.

Perhatian Kak Bit terhadap anak-anak di desa pun didukung oleh beberapa lembaga kemanusiaan termasuk Wahana Visi Indonesia (WVI). Dapur khusus kelompok rentan mulai beroperasi di posko pengungsian. Setiap hari, selama kurang-lebih satu bulan, Kak Bit bersama para kader lain memasak serta membagikan paket makanan bergizi untuk balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan lansia. Para kader Posyandu juga mendapat dukungan dari warga kampung. Semua pihak saling membantu sesuai kemampuan masing-masing.

“Waktu itu, masyarakat sangat senang karena mendapat makanan dari dapur khusus karena memang sangat membutuhkan. Waktu itu keadaan kampung kami belum sehat. Warga desa masih di hunian sementara jadi asupan makanannya kurang, terutama untuk anak-anak,” jelas perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai penjahit ini.

Kegiatan ini memberi dampak baik bagi 614 anak dan 2.928 dewasa yang didampingi oleh WVI selama melakukan tanggap bencana banjir dan longsor di dua kabupaten di Aceh. Selain fokus pada gizi dan kesehatan anak, dapur khusus kelompok rentan juga memberdayakan potensi yang ada di desa. Salah satu contohnya adalah sosok kader Posyandu seperti Kak Bit yang dengan tulus dan sigap menyediakan makanan bergizi untuk kelompok rentan dalam kondisi darurat.

Tugas yang tidak mudah ini Kak Bit jalani dengan hati yang lebih ringan karena sepenuhnya didukung oleh suami. Keputusannya untuk mengutamakan anak-anak di desa juga jadi sumber harapan baginya untuk memulai semuanya kembali dari awal.

“Harapan saya untuk anak-anak di desa ini, tetap semangat, tetap berjuang meskipun kondisi desa kita belum membaik. Anak-anak harus tetap menjaga kesehatan walaupun kondisi kita masih serba berkekurangan,” pungkasnya.

Penulis: Mariana Kurniawati (Communication Executive)