Hidup Seorang Anak di Dusun Tanpa Keran Air

16 Maret 2026

Mariana Kurniawati

Bagikan sekarang

cover image

Sudah dari generasi ke generasi, keluarga Distin (8) mengalami sulitnya akses air bersih. Bahkan sejak orang tua Distin masih anak-anak, air bersih telah menjadi kendala. Sekarang, anak perempuan yang duduk di bangku kelas tiga Sekolah Dasar ini juga masih harus berjuang mengambil air ke kali. Masih belum ada keran yang mengalirkan air bersih ke rumah-rumah di dusun tempatnya tinggal di Kabupaten Timor Tengah Selatan ini.

“Saya ingin punya keran di rumah supaya ambil airnya di rumah saja,” ujar Distin. Tidak jarang jadwal berangkat sekolah dan waktu bermainnya terganggu karena harus menimba air untuk kebutuhan sehari-hari. “Saya pernah pergi timba air di kali sampai telat sekolah dan ibu guru marah. Atau kalau lagi asyik main, diminta Bapak pergi timba air, saya kesal,” tuturnya.

Di rumah, ia tinggal bersama enam saudara serta Bapak dan Mama. Sembilan anggota keluarga membutuhkan air bersih tiap hari, terutama Mama Netty (45), ibu Distin. Kegiatan rumah tangga dan berkebun membutuhkan air bersih dalam jumlah besar.

“Kalau untuk saya, biasa kami ambil air itu untuk masak, cuci piring, dan di kamar mandi. Kalau nyuci pakaian di kali, kalau musim panas. Jadi kita sebagai ibu-ibu butuh air banyak. Jadi harus ambil air itu lumayan banyak untuk satu hari. Setiap hari kami butuh air jadi setiap hari juga kami timba. Tidak putus untuk timba air,” cerita Mama Netty.

Menimba air ke kali menjadi tugas Distin dan saudara-saudaranya. Terkadang Bapak dan Mama turut membantu jika pekerjaan di kebun sudah selesai. Dengan kekuatan seorang anak perempuan berusia delapan tahun, Distin merasa membawa jerigen berkapasitas lima liter sangatlah berat. Belum lagi keluarga Distin butuh sekitar 10 jerigen dalam satu hari. Ini pun sebenarnya masih jauh dari standar kesehatan World Health Organisation (WHO) yang menyatakan, satu orang membutuhkan sekitar 50 liter air per hari agar terhindar dari segala risiko kesehatan (https://www.unwater.org/water-facts/wash-water-sanitation-and-hygiene). Sedangkan Distin dan keluarganya masih memanfaatkan kurang-lebih 50 liter air untuk kebutuhan sembilan orang per hari.

“Akhir-akhir ini, pemerintah sudah mendidik kami untuk hidup bersih. Ketika hidup bersih tapi susah air berarti kami tidak menciptakan yang namanya hidup bersih. Kami jadi masih seperti dulu,” ungkap Bapak Edi (48), ayah Distin. Wawasan dan niat untuk mulai hidup bersih dan sehat masih harus ia pendam karena air bersih belum datang.

Mengambil air di kali juga bukan perkara mudah. Distin dan keluarganya harus menggali mata air di sungai. Bila musim kemarau, galian mata air bisa terus terjaga tapi situasi akan sangat berbeda ketika musim hujan. “Yang paling susah itu kalau musim hujan. Kami mau masak tapi air bersih susah karena ditutup dengan air sungai yang keruh. Jadi untuk dapat air bersih di tengah musim hujan, kami setengah mati,” jelasnya.

Satu-satunya solusi yang keluarga Distin miliki untuk memenuhi kebutuhan air bersih selama musim hujan adalah dengan membeli air. Satu jerigen atau setara lima liter air bersih diberi harga RP 2.500 sampai 3.000. Bapak Edi biasa membeli empat sampai enam jerigen saja per hari karena pengeluaran ini pun terasa berat untuk dirinya yang bekerja sebagai petani.

“Kalau kami beli tiga jerigen harga 10 ribu itu untuk satu hari saja. Habis terpakai bahkan tidak cukup. Harus tambah lagi tiga jerigen. Jadi satu hari itu bisa empat atau lima jerigen, bahkan bisa enam untuk kebutuhan air di rumah. Kami beli tapi hanya untuk air minum saja. Karena mata air sering dirusakkan oleh banjir. Jadi kami harus beli air minum, air bersih. Kalau untuk air cuci kami bisa atasi dengan air hujan,” ujar Bapak Edi.

Kesulitan akses air bersih bagi Distin dan keluarganya perlu segera disudahi. Distin dan anak-anak lain yang berada di dusun yang sama perlu segera memiliki akses air bersih agar tidak ada lagi terlambat ke sekolah dan tidak ada lagi waktu bermain yang terganggu karena menimba air ke kali. Hadirnya akses air bersih di rumah juga dapat membuat Distin dan keluarganya benar-benar bisa menerapkan hidup bersih dan sehat.

“Harapan saya, ada air minum atau air bersih buat kami. Buat kami rasa senang sedikit, buat kebutuhan rumah tangga. Jangan terus-terus ambil air di kali. Sudah sejak kecil sampai berumah tangga, sudah punya cucu, tapi air bersih ini tidak pernah kami nikmati,” pungkas Mama Netty.

Di momen kampanye ENOUGH ini, Anda bisa mengubah donasi menjadi air bersih untuk Distin, keluarganya, dan komunitasnya yang berada di Timor Tengah Selatan. Klik tautan mywvi.id/enough untuk salurkan air bersih ke rumah Distin!

Penulis: Mariana Kurniawati (Communication Executive)

Hidup Seorang Anak di Dusun Tanpa Keran Air