Ibu-ibu Beri Nilai Tambah Sampah di Surabaya

14 April 2026

Mariana Kurniawati

Bagikan sekarang

cover image

Sampah masih menjadi masalah utama di Surabaya. Perubahan pengelolaan sampah di salah satu kelurahan yang Wahana Visi Indonesia (WVI) dampingi bermula pada September 2025. Saat itu Fitri (48) mengikuti kegiatan studi tiru pengelolaan bank sampah di Karawang dan Bekasi bersama WVI. Dari pengalaman tersebut muncul gagasan untuk menyatukan gerakan pengelolaan sampah warga yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri melalui pembentukan Bank Sampah Induk di tingkat RW. Melalui sosialisasi, pendampingan, dan kerja bersama masyarakat, gerakan ini perlahan berkembang dan membawa perubahan nyata bagi lingkungan.

“Saat kembali dari kunjungan, saya melihat kondisi yang sebenarnya memiliki potensi besar namun belum terkelola dengan baik. Wilayah yang terdiri dari 18 RT saat itu hanya memiliki tiga bank sampah di tingkat RT. Kegiatan yang ada masih berjalan sendiri-sendiri, belum terkoordinasi, dan belum memiliki sistem pengelolaan yang jelas. Dari situ muncul gagasan sederhana: Bagaimana jika semua gerakan ini disatukan?,” ucap Fitri.

Dengan semangat tersebut, mulai dirintis pembentukan Bank Sampah Induk sebagai pusat koordinasi. Tujuannya bukan hanya menampung sampah tetapi juga menyatukan gerakan warga agar lebih terarah, saling mendukung, dan dapat berkembang bersama.

Di awal proses, tidak semua warga langsung memahami pentingnya memilah sampah. Sebagian masih menganggap sampah sebagai sesuatu yang tidak bernilai. Konsistensi partisipasi warga juga sering naik turun. Selain itu, koordinasi antar RT membutuhkan waktu karena belum terbiasa bekerja dalam sistem yang terhubung. “Bersyukur dan terima kasih kepada WVI selalu melakukan pendampingan baik pelatihan pemilahan sampah, pelatihan pembukuan serta jadi teman konsultasi jika terjadi permasalahan,” tuturnya.

Proses pendekatan kepada warga dilakukan secara perlahan. Dengan edukasi dan pendampingan yang konsisten, warga mulai diajak untuk melihat sampah dari sudut pandang yang berbeda. Bahwa sampah tidak hanya perlu dibuang, tetapi bisa dikelola dan memiliki nilai ekonomi.

RT yang sebelumnya belum bergerak mulai tertarik untuk bergabung dan membentuk bank sampah di lingkungannya. Semangat kebersamaan mulai tumbuh, dan warga mulai merasakan manfaat dari kegiatan tersebut.

Dalam waktu kurang lebih empat bulan, perkembangan yang terjadi cukup menggembirakan. Dari awal hanya tiga bank sampah, kini telah berkembang menjadi 15 bank sampah aktif di tingkat RT, ditambah partisipasi dari sekolah di wilayah RW.

Tidak hanya itu, gerakan ini juga mulai dikenal di wilayah lain. Beberapa warga dari kelurahan lain mulai ikut menyetorkan hasil pilahan sampahnya ke Bank Sampah Induk, meskipun masih dalam skala kecil melalui masjid dan salah satu RW.

Sejak mulai berjalan pada awal November 2025 hingga Maret 2026, rata-rata sampah yang terkumpul mencapai 1,3 hingga 1,5 ton setiap bulan dengan omset Rp 1.000.000,- sampai Rp 1.500.000 per bulan dari nasabah aktif dan sedekah sampah di wilayah RW tersebut. Partisipasi masyarakat juga meningkat pesat, terlihat dari jumlah nasabah aktif yang telah mencapai 604 orang pada Februari 2026. Dalam lima bulan, Bank Sampah Induk sudah mengelola 5,2 ton sampah.

Lebih dari sekadar angka, perubahan terbesar sebenarnya terlihat pada pola pikir masyarakat. Lingkungan menjadi lebih tertata, jumlah sampah yang diangkut gerobak berkurang, dan warga mulai menyadari bahwa sampah memiliki nilai ekonomi.

Bu Fitri berharap kedepannya Bank Sampah Induk tidak hanya menjadi tempat pengelolaan sampah, tetapi juga berkembang sebagai pusat edukasi lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Selain itu, gerakan ini dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih, tertata, dan berkelanjutan.

“Bagi kami, bank sampah bukan sekadar tempat menabung sampah, tapi telah menjadi gerakan perubahan. Dari sesuatu yang dulu dianggap tidak bernilai, sampah kini menjadi berkah dan jalan untuk membangun kesadaran, kebersamaan, dan harapan akan masa depan lingkungan yang lebih baik”, ujar Fitri.

“Proses ini menumbuhkan kepedulian, mengembangkan potensi diri, serta mendorong kontribusi nyata dalam pengelolaan sampah di lingkungan kami. Dari sini, kesadaran masyarakat dan semangat gotong royong ikut tumbuh dan terus bergerak ke arah yang lebih baik. Terima kasih WVI atas pendampingan dan kebersamaan yang telah diberikan selama ini,” tambahnya.

Penulis: Andi Nugroho (WASH Officer kantor operasional WVI di Surabaya)
Penyunting: Mariana Kurniawati (Communication Executive)