Ibu Odong: Berjalan 5 Kilometer demi Mendampingi Ibu dan Anak

4 September 2026

Mariana Kurniawati

Bagikan sekarang

cover image

Setiap pagi, Ibu Odong memulai harinya sebagai seorang petani. Namun, sejak bergabung sebagai relawan Program PASTI, ada satu tanggung jawab lain yang tidak pernah ia abaikan: mendampingi ibu hamil dan orang tua baduta yang membutuhkan dukungan melalui kegiatan Pos Gizi DASHAT (PGD).

Bagi Ibu Odong, 52 tahun, menjadi relawan bukanlah hal yang mudah. Ia harus membagi waktu antara pekerjaan di ladang dan tanggung jawabnya mendampingi masyarakat. Jarak dari rumah menuju lokasi Pos Gizi DASHAT pun cukup jauh. Ia berjalan kaki sekitar 4–5 kilometer, bahkan berangkat sejak pukul 05.30 WIB agar dapat mengikuti kegiatan dari awal hingga selesai. Awalnya, Ibu Odong sempat ragu untuk bergabung. Selain kesibukannya sebagai petani, ia memiliki keterbatasan dalam membaca dan menulis jarak dekat. Namun, dukungan dari suami dan anak-anaknya membuatnya berani mengambil kesempatan untuk mengikuti pelatihan relawan yang diselenggarakan Wahana Visi Indonesia melalui Program PASTI.

"Saya ingin membantu ibu-ibu hamil dan anak-anak di kampung saya. Kalau saya bisa mendapatkan pengetahuan, saya juga bisa menyampaikannya kepada mereka," menjadi semangat yang mendorong Ibu Odong untuk terus terlibat.

Dari Petani Menjadi Relawan yang Berani Berbicara

Sebelum mengenal Program PASTI, Ibu Odong sudah aktif sebagai kader Posyandu di desanya. Namun, melalui pelatihan relawan PASTI dan keterlibatannya dalam Pos Gizi DASHAT, ia mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru mengenai kesehatan, gizi, pola asuh, kebersihan, serta pengolahan makanan bergizi bagi ibu hamil dan baduta.

Kegiatan PGD berlangsung selama 12 hari berturut-turut. Dalam kegiatan tersebut, ibu hamil mendapatkan pembelajaran mengenai nutrisi dan kebiasaan makan yang baik, dilanjutkan dengan edukasi kesehatan. Ibu Odong tidak hanya hadir sebagai peserta pelatihan, tetapi juga aktif mendampingi, mengamati hasil penimbangan dan pengukuran, serta memberikan pesan-pesan sederhana kepada ibu hamil dan orang tua baduta.

Ia mengingatkan keluarga tentang pentingnya pola hidup bersih dan sehat, pola asuh yang baik, serta konsumsi makanan bergizi yang mencakup sayuran, ikan, daging, telur, susu, dan sumber nutrisi lainnya.

Namun, perubahan terbesar terjadi dalam diri Ibu Odong sendiri.

Sebelumnya, ia belum pernah memberikan edukasi secara langsung kepada ibu hamil dan orang tua baduta. Setelah mendapatkan pelatihan dan pengalaman langsung di PGD, ia menjadi lebih percaya diri untuk berbicara dan membagikan pengetahuan kepada masyarakat.

Pengetahuan yang Tidak Berhenti di Kelas

Bagi Ibu Odong, pengetahuan yang diperolehnya bukan hanya untuk dirinya sendiri.

Ia mulai melihat bahwa perannya sebagai relawan dapat memberikan manfaat lebih luas bagi lingkungan sekitar. Ia berusaha menjadi motivasi bagi relawan lainnya, membagikan pengalaman, dan mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan ibu dan anak.

Salah satu hal yang paling membuatnya bahagia adalah melihat antusiasme orang tua baduta yang datang membawa anak mereka mengikuti kegiatan PGD. Interaksi dengan sesama relawan dan dukungan pemerintah desa semakin menguatkan keyakinannya bahwa keterlibatan masyarakat dapat membawa perubahan positif.

Kini, meskipun tetap menjalankan pekerjaannya sebagai petani, Ibu Odong semakin termotivasi untuk menyebarkan pengetahuan tentang pengolahan makanan bergizi, pola asuh, dan kebersihan kepada masyarakat di sekitarnya.

Menjadi Relawan, Menjadi Penggerak Perubahan

Perjalanan Ibu Odong menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari seseorang yang memiliki banyak sumber daya atau pendidikan formal. Terkadang, perubahan dimulai dari seseorang yang memiliki kepedulian dan kemauan untuk belajar.

Dari seorang petani yang sempat ragu karena keterbatasan dirinya, Ibu Odong kini menjadi relawan yang lebih percaya diri dalam mendampingi ibu hamil dan orang tua baduta.

Ia berharap semakin banyak keluarga mendapatkan informasi dan dukungan yang mereka perlukan agar ibu hamil tetap sehat dan anak-anak dapat tumbuh serta berkembang secara optimal.

"Setelah mengikuti Program PASTI melalui Pos Gizi DASHAT, saya percaya kegiatan seperti ini dapat dilakukan di daerah dan desa lainnya. Semakin luas jangkauannya, semakin banyak anak, keluarga, dan masyarakat yang mendapatkan akses terhadap gizi yang cukup dan lingkungan yang mendukung kesejahteraan mereka."

Harapan untuk Keberlanjutan

Bagi Ibu Odong, berakhirnya sebuah program bukan berarti berakhir pula upaya mendampingi masyarakat.

Ia berharap Wahana Visi Indonesia, khususnya melalui Program PASTI, dapat menjangkau lebih banyak wilayah karena masih banyak ibu hamil dan anak-anak yang membutuhkan pendampingan. Ia juga berharap semakin banyak keluarga memperoleh informasi dan sumber daya yang cukup untuk memberikan pola asuh terbaik bagi anak-anak mereka.

"Yang saya dapatkan dari program ini tidak ingin saya simpan sendiri. Saya ingin terus membagikan pengetahuan kepada ibu-ibu dan relawan lainnya."

Bagi Ibu Odong, langkah sederhana seperti berjalan kaki menuju lokasi PGD, berbagi pengetahuan, dan mendampingi satu keluarga demi satu keluarga adalah bagian dari upaya yang lebih besar, memastikan ibu dan anak di komunitasnya memiliki kesempatan untuk hidup sehat dan tumbuh secara optimal.

Program PASTI (Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Indonesia) adalah program kemitraan antara Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN dengan, Tanoto Foundation, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), dan PT Bank Central Asia Tbk. Program ini diimplementasikan oleh Wahana Visi Indonesia sebagai pelaksana utama dan Yayasan Cipta sebagai sub-pelaksana.