Imunisasi Cerdas, Generasi Sehat: TPK Peduli, Edukasi, dan Bereaksi

18 Mei 2026

Mariana Kurniawati

Bagikan sekarang

cover image

Ibu Muslina (32 tahun) adalah sosok perempuan tangguh yang mendedikasikan waktunya untuk masyarakat desa di Kabupaten Bengkayang. Sehari-hari, ia berprofesi sebagai guru PAUD sekaligus mengemban amanah penting sebagai anggota Tim Pendamping Keluarga (TPK) dan relawan Pos Gizi DASHAT. Tugasnya di desa tidaklah mudah; ia harus memantau kesehatan keluarga, memberikan dukungan, serta memastikan setiap anak mendapatkan hak kesehatan dasar berupa imunisasi.

Meskipun imunisasi sangat vital untuk membentuk kekebalan tubuh balita dan mencegah penyakit berbahaya seperti polio, campak, difteri, dan tetanus, tantangan di lapangan masih kerap terjadi. Kurangnya pemahaman membuat banyak orang tua enggan membawa anaknya ke Posyandu. “Ada beberapa orang tua baduta yang tidak mau mengantarkan anaknya datang imunisasi karena anaknya rewel dan demam setelah itu,” ungkap Muslina. Sebelumnya, Muslina dan kader TPK lainnya hanya bisa memberikan edukasi seadanya dan sekadar meminta para ibu untuk datang ke Posyandu tanpa bisa menjelaskan alasan medis di balik efek samping tersebut.

Titik balik bagi Muslina terjadi pada Februari 2026, ketika ia ditunjuk oleh Kepala Desa untuk mengikuti Pelatihan Peningkatan Kapasitas TPK di Pontianak yang difasilitasi oleh Program PASTI. Di pelatihan inilah, paradigma dan pengetahuannya tentang imunisasi benar-benar terbuka.

“Dari kegiatan pelatihan TPK di Pontianak, saya baru tahu bahwa imunisasi yang disuntikkan kepada anak adalah bakteri atau kuman baik yang dilemahkan untuk melawan kuman jahat dalam tubuh, yang berguna untuk menjadi imun pelindung,” ceritanya dengan antusias. Ia kini sepenuhnya mengerti bahwa demam pasca-imunisasi bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan cara kerja antibodi yang sedang terbentuk.

Pengetahuan baru ini mengubah sudut pandang Muslina secara drastis. Ia kini menjadi kader yang lebih percaya diri dan bertugas sebagai fasilitator bagi rekan-rekan TPK di tingkat kecamatan. “Dengan adanya perubahan sudut pandang yang sangat penting ini, menjadi motivasi saya untuk berbagi ilmu dengan teman-teman TPK sehingga dapat disosialisasikan di Posyandu. Tujuannya adalah edukasi yang dapat membuka hati dan pikiran orang tua baduta akan pentingnya manfaat imunisasi,” tambahnya.

Berawal dari rasa tanggung jawabnya sebagai kader, Muslina kini menikmati perannya berbicara di depan banyak orang dan mengedukasi masyarakat. Ke depannya, ia berkomitmen untuk terus belajar agar edukasi yang ia sampaikan dapat diterima dengan baik oleh para orang tua.

“Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Wahana Visi Indonesia terkhusus pada Program PASTI atas waktu, kesempatan, dan ilmu yang sudah dibagikan kepada saya. Jika tidak ada program ini, mungkin saya tidak tahu ilmu yang sangat berguna bagi saya sebagai TPK,” tutur Muslina mengakhiri ceritanya. Ia menyimpan harapan besar agar seluruh orang tua di luar sana segera terbuka hatinya untuk rutin membawa anak mereka imunisasi demi terciptanya generasi yang sehat dan tangguh.

Penulis: Lea Sabrina (Penyedia Jasa Individu Program PASTI di Kalimantan Barat)

Penyunting: Theresia Kristianingrum (Communications Specialist PASTI)