29 Juli 2026
Mariana Kurniawati
Bagikan sekarang

Sofya (18), remaja perempuan dari Kota Palu, pernah merasa hidupnya berhenti terlalu cepat. Sejak duduk di bangku SMP, ia mulai merasakan perubahan pada fisiknya. Punggungnya mengalami disabilitas yang diduga karena faktor genetik. Kondisi tersebut membuatnya sulit berjalan jauh dan berdiri lama. Hal ini membuat Sofya harus putus sekolah di kelas 2 SMA. Sejak itu, mimpi-mimpi yang dulu ia harapkan perlahan meredup.
Keterbatasan ini membuat Sofya memilih menarik diri. Ia merasa malu keluar rumah karena sering mendapat tatapan atau pertanyaan tentang kondisinya. Ia banyak menghabiskan keseharian di kamar, bermain gawai, ditemani rasa cemas dan hilangnya kepercayaan diri.
Melalui program pendampingan anak putus sekolah, Wahana Visi Indonesia (WVI) yang berada di Palu, awalnya mendorong Sofya untuk kembali melanjutkan pendidikan, baik formal maupun non formal. Sofya menolak melanjutkan sekolah. Ia merasa hambatan fisiknya membuat sekolah bukan lagi pilihan yang mampu ia jalani. WVI menghormati pilihan Sofya sembari mendampingi dengan memberi dukungan psikologis. Hal ini penting dilakukan untuk membantu Sofya keluar dari tekanan yang lama ia rasakan.
Pendampingan yang konsisten perlahan membuahkan hasil. Sofya mulai berani membuka diri dan mengungkapkan ketakutannya. Meski sempat merasa tidak mampu dan tidak memiliki harapan, ia akhirnya berani mengambil keputusan besar untuk mengikuti pelatihan tata rias. Konseling yang rutin ia jalani membuat mental Sofya lebih siap untuk belajar, bertemu orang lain, dan menerima dirinya.
Di salon tempat pelatihan, Sofya menemukan kembali rasa percaya dirinya. Ia belajar dengan tekun, menjalani setiap tahapan meski ada hambatan fisik. Ia telaten menyulam bulu mata dan ini jadi keunggulannya. Pelatihan ini bukan hanya memberi keterampilan, tetapi juga keberanian untuk keluar rumah, berinteraksi, dan percaya pada kemampuannya sendiri. Sertifikat pelatihan yang ia peroleh jadi bukti nyata bahwa ia mampu melangkah maju.
“Harapan saya ke depannya, bisa jadi ahli tata rias yang bisa dipanggil orang-orang. Dari tata rias ini saya bisa dapat uang. Kalau sudah dapat uang, saya bisa bantu Papa,” ujarnya penuh semangat.
Penulis: Taufik Tri Nur Hidayat (Penyedia Jasa Individu kantor operasional WVI di Sigi, Palu, dan Donggala)
Penyunting: Mariana Kurniawati (Communication Executive)