Kebersihan Menstruasi Tidak Tabu Lagi

18 Mei 2026

Mariana Kurniawati

Bagikan sekarang

cover image

Dira baru saja menginjak usia 12 tahun. Ia tinggal di sebuah desa yang berada di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Sebagai anak perempuan, ada satu kata yang menjadi rahasia besar dan menakutkan bagi Dira yaitu, menstruasi. Setiap kali teman-temannya berbisik, “Datang bulan,”, Dira menunduk. Ia merasa risih dan bingung. Yang ia ketahui, menstruasi adalah darah yang kotor. Dira masih belum memahami mengapa menstruasi terjadi atau bagaimana cara menghadapinya.

Informasi yang tepat mengenai menstruasi belum tersirkulasi dengan baik di tengah Dira dan anak perempuan lain di desa. Proses fisiologis alami yang dihadapi setiap perempuan ini malah jadi topik yang cenderung dihindari, ditutupi dengan rasa malu. Menstruasi juga makin jadi momok saat akses air bersih belum tersedia di sekolah. Hal ini semakin menutup diskusi tentang kebersihan menstruasi.

Dira dan para siswi lain di sekolahnya berhak mengakses fasilitas sanitasi yang layak dan memiliki pemahaman yang tepat mengenai menstruasi. Hal ini sangat penting untuk kesehatan dan juga perlindungan mereka. Karena itu, sebagai mitra desa tempat Dira tinggal, Wahana Visi Indonesia (WVI) mengupayakan adanya perubahan.

Secara bertahap, kolaborasi antara WVI dengan pemerintah desa membuka akses air bersih di sekolah. Toilet sekolah direnovasi dan ditambah jumlah biliknya. Bilik untuk perempuan dan laki-laki pun terpisah. Lalu, diadakan pelatihan untuk murid-murid mengenai menstruasi. Salah satu pesertanya adalah Dira. Ia dilatih agar bisa menjadi fasilitator manajemen kebersihan menstruasi di sekolahnya.

Awalnya, Dira ragu dan malu-malu saat terpilih sebagai salah satu peserta pelatihan. Namun, suasana pelatihan yang edukatif dan ceria berhasil meruntuhkan dinding kecemasannya. Materi-materi yang disampaikan para narasumber membuat Dira mulai paham tentang fase menstruasi, cara menjaga kesehatan reproduksi, siklus hormon, serta mitos atau fakta mengenai menstruasi. Selain itu, satu topik penting yang Dira pahami adalah manfaat pembalut yang bersih dan akses air bersih yang layak.

Seusai pelatihan, Dira menjadi corong informasi mengenai menstruasi untuk teman-teman di sekolahnya. Ia sempat gugup. Tapi, keinginan untuk berbagi ilmu tidak dapat ia bendung lagi. Ia juga tidak ingin lagi ada teman yang dirundung karena menstruasi.

“Teman-teman, menstruasi bukan sesuatu yang memalukan,” seru Dira. Ia juga menjelaskan cara menghitung siklus menstruasi dan pentingnya saling mendukung sesama teman perempuan maupun laki-laki. Para teman laki-laki pun turut menyimak apa yang Dira sampaikan. Mereka mulai belajar untuk lebih saling menghargai.

Kini, Dira merasa senang dan bangga pada dirinya sendiri karena sudah berani dan berhasil menyampaikan topik yang selama ini ia hindari. Baginya, menstruasi bukan sesuatu yang menakutkan lagi tetapi normal terjadi kepada anak perempuan yang memasuki usia remaja.

“Dulu aku sembunyi di balik ketidaktahuan, tapi ini aku berdiri tegak karena pengetahuan. Memahami tubuhku sendiri adalah cara terbaik untuk mencintai diriku,” pungkas Dira.

Penulis: Hotson Fiago (Staf program WASH BP di Sintang)

Penyunting: Mariana Kurniawati (Communication Executive)