Keterbatasan Dana Bukan Halangan: Semangat Pak Saleh Selamatkan Generasi Sekadau dari Stunting

18 Juni 2026

Mariana Kurniawati

Bagikan sekarang

cover image

Hadapi Efisiensi Anggaran dengan Aksi Nyata

Sejak tahun 2025, desa yang dipimpin oleh Pak Saleh telah sukses menjalankan program Pos Gizi DASHAT (PGD) yang dibiayai 100% oleh Dana Desa. Namun, tantangan nyata datang pada tahun 2026 ketika desa harus melakukan efisiensi anggaran secara besar-besaran. Kondisi ini sempat mengancam keberlanjutan pelaksanaan kelas PGD.

Menolak menyerah pada keadaan, Pak Saleh segera mengambil langkah taktis. Ia menginstruksikan Kader Pembangunan Manusia (KPM) untuk melakukan pendataan ulang. Hasilnya, ditemukan 17 anak bawah dua tahun (baduta) yang secara kriteria medis masih sangat membutuhkan intervensi kelas PGD.

Berbekal data valid tersebut, bapak yang gemar berolahraga ini segera menyusun proposal. Ia melangkah langsung menemui pimpinan perusahaan yang beroperasi di sekitar desanya untuk mengajukan bantuan dana Corporate Social Responsibility (CSR).

"Saya langsung menghadap kepada pimpinan perusahaan dan menjelaskan bahwa anak yang berisiko stunting ini perlu segera diatasi karena berhubungan dengan perkembangan masa depan mereka. Hal ini sangat mendesak dilakukan di 3 dusun. Jika kita ada niat baik untuk masyarakat, pasti ada yang datang membantu," ujar Pak Saleh dengan penuh keyakinan.

Usaha persuasifnya membuahkan hasil manis. Pihak perusahaan sepakat menyalurkan dana sebesar Rp4.000.000. Dana ini kemudian digabungkan dengan sisa alokasi Dana Desa yang juga sebesar Rp4.000.000. Dengan total dana Rp8.000.000, desa berhasil memastikan ke-17 anak tersebut mendapatkan asupan gizi yang layak selama 23 kali pertemuan.

Mengubah Perilaku, Menumbuhkan Harapan

Bagi Pak Saleh, PGD bukan sekadar program pemberian makan gratis, melainkan ruang edukasi dan perubahan perilaku. Di sela-sela kesibukannya, ia rutin berkunjung untuk memantau langsung jalannya kelas.

  • Membangun Nafsu Makan Anak: "Saya sangat senang ketika melihat anak-anak makan bersama. Anak yang biasanya susah makan di rumah, di sini mereka mau makan karena melihat teman-temannya," ceritanya.

  • Edukasi Gizi Orang Tua: Pak Saleh menyadari kebiasaan para ibu yang kerap memberi makanan "asal enak di lidah" tanpa melihat komposisi gizinya. Kehadiran relawan edukator di kelas PGD sangat membantu memberikan pemahaman baru tentang cara mengolah makanan yang tepat.

Tentu saja, perjalanan ini memiliki tantangan tersendiri. Cuaca yang berubah-ubah membuat anak rentan sakit batuk pilek, dan terkadang ada orang tua yang absen karena kesulitan transportasi. Mengatasi hal ini, Pak Saleh terus menyuntikkan semangat kepada para kader di lapangan.

"Saya menyampaikan kepada kader agar kegiatan ini bukan sekadar dilaksanakan. Minta orang tua untuk mempraktikkan menu makanan yang sudah dilatih di rumah agar berat badan anak mereka bisa naik. Orang tua juga harus aktif belajar menerima edukasi!" tegasnya memberi semangat.

Komitmen Jangka Panjang

Dampak nyata dari konsistensi kelas PGD ini sangat terasa. Jika sebelumnya ada lebih dari 20 anak yang harus mengikuti kelas pemulihan, kini angkanya telah menurun menjadi 17 anak berkat perbaikan gizi di desa tersebut.

Di akhir ceritanya, Pak Saleh menyampaikan apresiasi atas pendampingan yang telah diberikan. "Terima kasih kepada Wahana Visi Indonesia dan Program PASTI yang sudah mau bekerja sama dengan kami dalam peningkatan kapasitas PGD ini. Kami jadi belajar bagaimana memberikan pola makan yang benar kepada anak-anak dan ibu hamil. Ke depannya, kami berkomitmen kuat untuk terus menganggarkan kegiatan PGD di tahun-tahun yang akan datang."

Kolaborasi cemerlang dari Kabupaten Sekadau ini menjadi bukti nyata: efisiensi dana desa bukanlah sebuah akhir, melainkan titik mula bagi inovasi dan kemitraan demi masa depan anak-anak yang lebih cerah.

Kisah ini lahir dari Program PASTI (Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Indonesia), yang merupakan hasil kolaborasi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Tanoto Foundation, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), dan PT Bank Central Asia Tbk, serta diimplementasikan oleh Wahana Visi Indonesia dan Yayasan Cipta untuk memperbaiki status gizi ibu dan anak hingga Januari 2027.