Mangrove yang Memberdayakan Masyarakat Pesisir Lombok Timur

24 Maret 2026

Mariana Kurniawati

Bagikan sekarang

cover image

Angin dari laut membawa aroma tambak yang khas. Di salah satu petak tambak yang luas, air berwarna kehijauan beriak pelan ketika sekawanan ikan muncul sesaat di permukaan. Ikan-ikan itu berebut pakan yang dilemparkan Amaq. Dia tersenyum melihat ikan itu makan dengan lahap. Setiap hari, terasa ikan itu semakin besar.

Dia kemudian meminta salah satu anggota kelompoknya mengambil jaring lalu menebarkannya di atas air yang beriak itu. Beberapa ekor ikan nila dan bandeng terjebak di dalam jaring. Melihat ukuran ikan itu, Amaq sudah membayangkan penghasilan yang akan dia dapatkan.

“Saya mulai membuka tambak sejak tahun 1996,” kata Ketua Kelompok Tani Tambak ini.

Lebih dari dua puluh tahun lalu, Amaq dan beberapa warga mencoba mengubah lahan pesisir menjadi tambak. Harapan mereka menghasilkan ikan atau udang yang bisa menjadi sumber penghidupan bagi keluarga kandas di tengah jalan. Selama satu dekade tambak-tambak itu tidak dimanfaatkan.

Pembangunan tambak secara swadaya itu booming ketika budidaya udang vaname. Di beberapa desa pesisir Lombok, tambak swadaya ini memiliki ciri yang sama. Petak-petak kecil tak lebih dari 5 are. Mereka menggali lahan yang berada di pesisir, di dekat muara, dan seringkali dengan cara menebang pohon mangrove yang ada. Tak heran, pada masa itu ramai mencuat alih fungsi hutan mangrove menjadi tambak rakyat. Termasuk di desa tempat Amaq tinggal yang berada di Kabupaten Lombok Timur.

Sebagian tambak digali dengan menggunakan peralatan sederhana, cangkul dan sekop. Bagi yang memiliki uang lebih, bisa menyewa alat berat seperti ekskavator. Setelah tambak jadi, mereka menebar benih udang, memberi pakan setiap hari. Pada hari lain, penyuluh perikanan datang. Namun kehadiran mereka tidak berlangsung rutin dan tidak secara khusus mendampingi kegiatan budidaya di tambak.

“Penyuluh Perikanan Lapangan (PPL) datang hanya sewaktu-waktu, dan itu pun tidak terkait langsung dengan pendampingan di tambak,” ujarnya.

Akibatnya, para petani banyak belajar melalui coba-coba. Amaq masih mengingat ketika dia ikut membudidayakan udang. Saat itu udang vaname dianggap komoditas yang menjanjikan. Bayangan mendapatkan keuntungan besar sudah ditanamkan jauh hari. Menjadi penyemangat Amaq.

“Tapi tidak berhasil,” katanya. Kerugian demi kerugian membuat banyak petani tambak akhirnya menyerah. Sebagian lahan kembali terbengkalai, sementara sebagian lain hanya dimanfaatkan secara terbatas. Kegagalan tambak bukan sekadar soal ekonomi. Ia juga menyisakan rasa ragu untuk mencoba kembali. Bahkan, hingga hari ini sebagian tambak itu masih dibiarkan menganggur.

Pendampingan yang Mengubah Arah

Perubahan mulai terasa ketika program pendampingan hadir ke tengah masyarakat. Melalui program MARVEL (Mangrove Adaptive and Resilient Village for Enhanced Livelihoods) yang diinisiasi oleh Wahana Visi Indonesia (WVI) petani tambak mendapatkan pendampingan berkala. Melalui kelompok tani tambak, para petani mendapatkan pelatihan, pendampingan, serta berbagai pengetahuan baru tentang pengelolaan tambak yang lebih berkelanjutan.

“Sekarang kami sangat terbantu dengan adanya program dari WVI melalui kelompok silvofishery,” kata Amaq.

null

Silvofishery merupakan sistem pertambakan teknologi tradisional yang mengintegrasikan budidaya perikanan dengan penanaman atau pengelolaan hutan mangrove. Sistem ini dapat memberi dampak positif pada ekologi dan ekonomi. Artinya, dengan kembalinya mangrove di sekitar pesisir, ragam biota laut pun akan kembali, sehingga dapat menciptakan peluang penghasilan. Jika dulu para petani tambak menebang pohon mangrove ketika membangun tambak, sekarang mereka menanam kembali. Bahkan di dalam tambak sendiri, petani menanam beberapa mangrove.

“Kami tahu jika ada mangrove bagus, itu bisa jadi tempat ikan cari makan,’’ katanya.

Di tambak, pendekatan ini tidak hanya berfokus pada budidaya ikan, tetapi juga menghubungkan berbagai komponen lain seperti pengelolaan limbah, produksi pakan, hingga pemulihan ekosistem pesisir. Ini tercermin dari demplot kelompok yang diketuai Amaq. Di lahan miliknya terdapat juga tempat pengolahan pakan dan pengolahan sampah organik dengan menggunakan maggot. Proses budidaya kini dilakukan dengan lebih terencana. Petani mendapatkan pelatihan mengenai kualitas air, manajemen pakan, hingga cara menjaga kesehatan ikan.

“Sekarang sangat membantu kami,” ujarnya.

Saat ini, tambak yang dikelola kelompok tani tambak membudidayakan dua jenis ikan utama yaitu, bandeng dan nila salin. Bandeng dikenal sebagai ikan yang cukup adaptif terhadap kondisi perairan tambak. Sementara nila salin merupakan varietas ikan nila yang mampu hidup di lingkungan air payau. Amaq menunjukkan perbedaan nila biasa dengan nilan salin yang ada di tambaknya. Nila biasa dagingnya lebih tipis, sementara nila salin dagingnya lebih tebal.

“Berkat pendampingan ini kami juga tahu bahwa ada jenis ikan nila yang cocok,’’ katanya.

Saat ini, usia bandeng dan nila salin yang dibudidayakan sudah mendekati empat bulan. Ikan-ikan itu mulai tumbuh besar dan terlihat aktif bergerak di permukaan air tambak. Para petani tambak ini pun sedang mencari informasi harga jual ikan bandeng sebagai referensi ketika nantinya panen. Tapi sebelum masa panen pun, sudah ada beberapa warga yang tertarik membeli.

Salah satu hal menarik dari program yang dijalankan di desa ini adalah pemanfaatan sampah rumah tangga untuk budidaya maggot. Di sudut area tambak, beberapa wadah sederhana disusun berjajar. Di dalamnya, tumpukan sampah organik mulai diurai oleh larva lalat tentara hitam atau black soldier fly (BSF), yang lebih dikenal sebagai maggot.

Bagi banyak orang, sampah mungkin dianggap sebagai masalah. Namun di tangan kelompok tani tambak ini, sampah justru menjadi sumber pakan yang berharga.

“Dalam silvofishery kami dianjurkan membudidayakan maggot karena dapat membantu menyediakan pakan ikan. Termasuk juga jadi pakan ayam,” katanya menunjuk ke arah ayam kampung yang dipelihara di lokasi tambak.

Maggot memiliki kandungan protein tinggi sehingga sangat baik digunakan sebagai pakan ikan maupun ayam. Selain itu, budidaya maggot juga membantu mengurangi volume sampah organik di desa. Limbah dapur yang sebelumnya dibuang kini dikumpulkan dan digunakan sebagai pakan bagi larva.

Mengembalikan Keseimbangan Lingkungan

Budidaya maggot tidak hanya membantu menyediakan pakan ikan dan ayam yang lebih murah. Maggot menjadi bagian dari upaya memperbaiki kondisi lingkungan di sekitar desa. Sebelum program pendampingan hadir, sampah di desa sering kali tidak terkelola dengan baik. Sebagian sampah dibakar, sementara sebagian lain hanya dibuang begitu saja.

“Setelah ada pelatihan, studi banding, dan berbagai arahan, pengelolaan sampah menjadi lebih baik,” ujarnya.

Selain budidaya maggot, masyarakat juga mulai mengembangkan program bank sampah sebagai bagian dari pengelolaan limbah rumah tangga. Langkah-langkah kecil ini perlahan mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah dari masalah menjadi sumber daya baru.

Program yang berjalan di desa tidak hanya fokus pada tambak dengan sistem silvofishery. Di kawasan pesisir, masyarakat juga melakukan penanaman mangrove sebagai bagian dari upaya memulihkan ekosistem pantai. Bagi petani tambak, mangrove memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan pesisir. Akar mangrove membantu menahan sedimen, mengurangi abrasi, sekaligus menjadi habitat bagi berbagai biota laut. Ekosistem yang sehat di sekitar tambak juga berpengaruh pada kualitas air yang digunakan untuk budidaya ikan.

“Selain tambak, ada juga kegiatan penanaman mangrove,” kata Ali, salah satu petani tambak yang ikut terlibat dalam kegiatan konservasi mangrove.

null

Rumahnya kebetulan tak jauh dari lokasi pembibitan mangrove yang didukung oleh WVI. Bersama mertuanya, Ali selalu ikut kegiatan ini. Tambak miliknya juga menjadi salah satu lokasi demplot silvofishery. Merasakan manfaat mangrove yang lestari, Ali tak pernah absen dalam kegiatan konservasi mangrove. Baik pada saat pembibitan maupun penanaman.

“Saya juga mencari kepiting di sekitar mangrove,’’ katanya.

Saat air pasang Ali membawa kodong (bubu) yang terbuat dari jaring dan rangka besi. Di dalam kodong itu diletakkan umpan, biasanya daging ayam atau potongan ikan. Saat air mulai surut dia mengambil kembali kodong itu. Setiap kali turun mencari kepiting dia selalu mendapatkan hasil. Kepiting itu kemudian dijual ke pengepul yang sudah menjadi langganan.

Hasil penjualan kepiting ini menambah pendapatan keluarga. Jika hasil tambak menjadi tabungan, maka pendapatan dari kepiting adalah pendapatan harian. Ali sadar bahwa dia bisa mendapatkan kepiting dengan mudah karena kelestarian mangrovenya.

“Kadang lepas kodong di dekat tambak. Apalagi nanti kalau sudah besar mangrovenya,’’ katanya.

Budidaya Lebah Trigona di Hutan Mangrove

Selain untuk tambak, ekosistem mangrove juga memiliki manfaat ekonomi lain yakni, budidaya lebah trigona. Melihat potensi kawasan mangrove yang ada di Lombok Timur, budidaya lebah madu trigona akan sangat menguntungkan. Madu dan propolis yang dihasilkan lebah trigona memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Selain itu, budidaya lebah trigona juga termasuk mudah karena natur lebah jenis ini tidak menyengat.

Kelompok madu trigona Sulang Trigona adalah salah satu dampingan WVI melalui program MARVEL. Kelompok ini membudidayakan madu trigona di dua lokasi yakni, di hutan mangrove dan pekarangan rumah.

Ketua kelompok Sulang Trigona, Aliman awalnya mendapatkan pelatihan. Mereka dilatih cara membudidayakan lebah trigona, mengenali jenis pakannya, cara pemindahan koloni, hingga cara panen. Setelah mengikuti pelatihan itu, mereka langsung membudidayakan. Kini hasilnya sudah terlihat, sudah beberapa kali panen. Mereka juga tahu perbedaan rasa dari budidaya di hutan mangrove dan pekarangan rumah.

null

“Yang dibudidayakan di hutan mangrove ada sensasi pahit sedikit. Ini menjadi keunikannya,’’ kata Aliman.

Upaya pemberdayaan masyarakat mendapat dukungan dari pemerintah desa. Kepala Desa, Mustiadi, mengatakan bahwa berbagai program yang masuk ke desa membawa dampak positif bagi masyarakat.

“Selama dua tahun program berjalan di desa ini, kami pemerintah sangat senang bekerja sama,” katanya.

Menurutnya, program-program yang dijalankan tidak hanya menyasar sektor ekonomi, tetapi juga pemberdayaan masyarakat secara luas. Program silvofishery, budidaya madu trigona, termasuk juga program kelompok ibu-ibu yang membantu keluarga menabung dan mengelola keuangan rumah tangga. Selain itu, ada pula berbagai kegiatan pemberdayaan lain seperti penanaman mangrove dan pelibatan Forum Anak Desa dalam kegiatan konservasi mangrove.

“Ini tentu akan membawa dampak positif bagi perekonomian masyarakat dan peningkatan sumber daya manusia di desa kami,” ujar Mustiadi.

Meski demikian, ia berharap program-program tersebut dapat terus berlanjut. Menurutnya, dua tahun waktu pelaksanaan masih terasa sangat singkat untuk membangun perubahan yang benar-benar kuat di tingkat desa. “Kami sangat berharap ke depan program ini bisa dilanjutkan sehingga apa yang sudah dimulai dapat terus berkembang,” katanya.

Penulis: Fathul Rakhman (Konsulta penulis untuk program MARVEL di Lombok)

Penyunting: Maria Pratiwi (Project Coordinator MARVEL Lombok), Mariana Kurniawati (Communication Executive)