Melawan Stigma, Memperjuangkan Hak Anak

30 Juli 2026

Mariana Kurniawati

Bagikan sekarang

cover image

Stigma terhadap anak disabilitas masih terjadi di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Masyarakat, bahkan seringkali keluarga terdekat, memandang anak disabilitas sebagai hukuman dari Tuhan. Cara pandang ini pun tertanam dalam hati orang tua, seperti Lusiana (34). Ibu dari tiga anak dengan disabilitas penglihatan ini merasa Tuhan bertindak tidak adil kepadanya.

“Dulu saya merasa selalu sial. Sejak kecil, saya memiliki kesulitan melihat. Kemudian sering dapat kekerasan dari keluarga saya. Bekas lukanya masih ada sampai sekarang. Saat sudah berkeluarga, saya melahirkan tiga anak yang punya kendala penglihatan seperti saya. Sepertinya mereka tidak perlu sekolah. Keluarga dekat saja menjauhi kami, apalagi di sekolah nanti? Mungkin Tuhan sedang main-main dengan saya,” ceritanya.

Keluar dari kemelekatan dengan stigma memerlukan penerimaan. Untuk kemudian mengisi diri dengan wawasan yang selama ini tidak pernah muncul ke permukaan. Lusiana belajar untuk melangkah keluar dari stigma tentang disabilitas bersama pendampingan dari Wahana Visi Indonesia (WVI).

Bekerja sama dengan tokoh agama, kantor operasional WVI di Bengkayang mengadakan pelatihan pengasuhan untuk orang tua anak dengan disabilitas. Lusiana menjadi salah satu pesertanya. Hal terpenting yang dipelajari dari pelatihan ini adalah berdamai dengan kondisi pribadinya, serta melihat anak disabilitas sebagai anugerah dari Tuhan. Sama seperti anak-anak non disabilitas.

Selain itu, Lusiana bersama 18 orang tua lainnya juga jadi memahami apa itu disabilitas, bagaimana melihat potensi yang dimiliki setiap anak, dan menerapkan pengasuhan positif di rumah. Tidak berhenti di situ saja, ketika kembali ke desa, Lusiana terlibat aktif dalam pertemuan rutin untuk orang tua. Di sini, Lusiana bisa saling berbagi dan menguatkan satu sama lain.

“Meskipun saya dari keluarga miskin, saya memprioritaskan pendidikan mereka. Anak-anak saya sekolahkan karena itu hak mereka, meskipun dengan disabilitas. Saya jadi lebih bisa bersyukur dengan kondisi keluarga kami. Selalu ada hal baik yang bisa saya lihat dari setiap pribadi anak-anak saya ini. Hubungan kami jadi semakin erat,” ungkapnya.

Kini, Lusiana memiliki pemahaman baru. Anaknya bukan lagi hukuman melainkan anugerah. Stigma terhadap keluarganya tidak lagi jadi penghalang untuk melindungi dan memenuhi hak anak-anaknya.

“Mama sekarang mengajak kami berdoa bersama tiap malam. Dia tidak pernah berhenti nasihati kami supaya rajin sekolah. Dia juga ajar kami untuk tetap percaya diri. Memang kami punya keterbatasan namun kami juga punya kelebihan,” ujar Rafael (14), putra kedua Lusiana.

Penulis: Sebastianus Rengga (Manager kantor operasional WVI di Bengkayang)

Penyunting: Mariana Kurniawati (Communication Executive)

Melawan Stigma, Memperjuangkan Hak Anak