Menembus Jarak, Merajut Harapan: Ketika Kasih Mementaskan Transformasi Dua Arah

23 Oktober 2026

Bony Facius Gultom

Bagikan sekarang

cover image

Di balik lembar-lembar data, laporan berkala, dan ribuan baris dokumen administrasi yang rapi, senantiasa ada denyut kehidupan yang bergetar lembut. Bagi Inri Taroreh, perjalanan yang berawal pada 1 November 2012 di Wahana Visi Indonesia (WVI) bukan sekadar cerita berpindah karier dari sektor profit menuju dunia kemanusiaan. Langkah itu adalah titik awal perjalanan iman dan kemanusiaan yang kelak mengubah cara pandangnya terhadap dunia secara fundamental.

Memulai perannya sebagai Sponsorship Information Officer (SIO) di Kantor Operasional Cilincing dan Penjaringan, Jakarta Utara, Inri sempat berada di persimpangan rasa. Tugas utama Inri sejak awal bergabung adalah mengelola data anak-anak yang terdaftar dalam program Sponsor Anak (Sponsorship). Mulai dari informasi perkembangan anak, profil keluarga, hingga status kesejahteraan mereka.

Inri sempat berada di titik jenuh akibat rutinitas pengelolaan data dan sistem administrasi yang intens. Namun, sebuah pintu terbuka ketika ia turun ke lapangan. Di sana, ia menyaksikan secara langsung bagaimana angka, nama, dan kode data berubah menjadi binar mata anak-anak yang menyambut kedatangan staf WVI dengan senyum terbaik mereka. Dari sanalah pemahaman baru meresap: sponsorship bukan sekadar transaksi bantuan atau formalitas administrasi, melainkan sebuah jembatan kasih yang menghubungkan dua jiwa di tempat yang berbeda.

"Bergabung dengan WVI membuat saya lebih mengenal nilai dan budaya organisasi yang belum tentu didapat di dunia profit, khususnya belajar bergantung kepada Tuhan," kenang Inri. "Saya beruntung memiliki pemimpin yang tidak hanya mendorong kami fokus pada sistem, tetapi juga memberikan kesempatan untuk turun ke lapangan, melihat langsung implementasi program, dan memahami bagaimana sponsorship memberikan dampak nyata," ujarnya.

Ketika Senyum Winto Menghapus Stigma

“Salah satu momen yang sangat berkesan bagi saya adalah ketika bertemu dengan seorang anak bernama Winto di Bengkulu. Tidak hanya karena status ekonomi, kondisi medis turut membuat Winto mengalami banyak keterbatasan. Ia kerap mengalami kejang secara tiba-tiba hingga terjatuh tanpa sadar," cerita Inri.

Sebelum pendampingan Wahana Visi Indonesia (WVI) hadir di desa itu, Winto hidup dalam pengasingan sosial. Ia dijauhi dan harus menghadapi stigma dari masyarakat di sekitarnya. Seiring berjalannya waktu, Inri melihat bagaimana pendampingan WVI mulai membawa perubahan. Winto mulai dilibatkan dalam berbagai aktivitas anak, keluarganya dirangkul, dan perlahan-lahan, masyarakat di desa itu pun mulai berubah dalam memandang dan memperlakukan Winto.

Titik balik emosional terpancar kuat pada suatu hari di acara penutupan program desa. Di tengah riuhnya acara, kondisi medis Winto mendadak kambuh. Jika peristiwa itu terjadi beberapa tahun silam, warga mungkin akan bergeming atau menjauh, membiarkan keluarga Winto berjuang sendirian dalam kesepian. Namun hari itu, pemandangan yang tersaji begitu kontras dan mengharukan. Tanpa ragu, warga berbondong-bondong mendekat, sigap memberikan air minum, merangkul, serta menenangkan Winto dan ayahnya.

“Perubahan ini membuat saya menyadari bahwa transforming children bukan sekedar konsep teoristis di atas kertas. Keberhasilan sejati terletak pada pemulihan martabat manusia dan terciptanya komunitas yang inklusif," ungkapnya.

Mengandalkan Tuhan dalam Setiap Langkah

Langkah perjalanan karier membawanya melangkah lebih jauh. Dari seorang officer, Inri dipercaya memegang tanggung jawab yang lebih besar sebagai Sponsorship Relations and Product Enhancement Coordinator. Perubahan peran ini bukan tanpa rasa gentar. Keraguan dan kekhawatiran sempat membayangi saat ia harus mengambil keputusan-keputusan strategis serta memimpin inovasi, seperti mentransformasi korespondensi tradisional menjadi media digital yang lebih cepat dan personal.

Dalam situasi-situasi sulit dan penuh tantangan tersebut, Inri belajar untuk berserah dan sepenuhnya mengandalkan Tuhan. Ia menyadari bahwa ketika kapasitas dirinya merasa terbatas, penyertaan Tuhan selalu cukup untuk menuntunnya melewati setiap rintangan. Keberanian untuk keluar dari zona nyaman ini tidak hanya mematangkan kompetensi profesionalnya, tetapi juga membentuk pribadinya menjadi sosok yang lebih tangguh, rendah hati, dan senantiasa bersyukur.

Perasaan bahwa ia berada di tempat yang tepat kembali membuncah tatkala ia berkunjung ke sebuah desa terpencil di Manggarai Barat. Untuk mencapai desa itu, tim harus menembus pekat dan teriknya rute hutan. Di mata anak-anak yang berbinar itulah, Inri melihat masa depan Indonesia yang penuh potensi dan daya juang.

Menjaga Api Harapan Tetap Menyala

Kini, melalui pengembangan produk sponsorship yang makin relevan dan adaptif terhadap perkembangan zaman, Inri terus berkomitmen memastikan bahwa jalinan antara sponsor, anak, keluarga, dan komunitas tetap hangat dan terpercaya.

Perjalanan ini mengajarkan bahwa tidak ada perubahan besar yang dapat berdiri sendiri. Ia adalah hasil kolaborasi indah dari sponsor yang rela berbagi, staf dan kader yang tekun melayani, masyarakat yang mau membuka diri, serta anak-anak yang tak pernah berhenti bermimpi.

Bagi Inri, selama kita mau melangkah bersama dengan ketulusan dan mengandalkan Tuhan, setiap usaha kecil yang ditanam hari ini akan bermekaran menjadi transformasi yang abadi, mengubah hidup anak-anak, mengubah masyarakat, dan pada akhirnya, mengubah diri kita sendiri.

“Saya percaya bahwa tidak ada satu pihak yang bekerja sendiri. Sponsor, WVI, anak, keluarga, dan komunitas merupakan bagian dari satu ekosistem yang saling terhubung dan saling mendukung. Masing-masing memiliki peran yang berkesinambungan dalam mewujudkan kesejahteraan anak," pungkasnya.

Menembus Jarak, Merajut Harapan: Ketika Kasih Mementaskan Transformasi Dua Arah