19 Juni 2026
Mariana Kurniawati
Bagikan sekarang

Anak bukan hanya perlu berpartisipasi, melainkan berpartisipasi yang bermakna. Artinya, anak menjadi subjek yang aktif mengobservasi, mengkritisi, dan mengubah lingkungan sekitarnya. Salah satu cara yang Wahana Visi Indonesia (WVI) lakukan untuk mendukung partisipasi anak yang bermakna adalah dengan melakukan penelitian yang dipimpin oleh anak atau biasa dikenal sebagai Children-Led Research (CLR).
Anak-anak di salah satu desa dampingan WVI di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, telah melakukan CLR. Salah satu peneliti anak yang terlibat aktif bernama Meirlin (15). Ia memulai penelitian ini karena mengamati teman-teman sebayanya yang menikah di usia anak. Melalui penelitian ini, Meirlin jadi memahami penyebab dan dampak pernikahan usia anak sekaligus menyampaikan hasil temuannya kepada pemerintah desa.
“Teman SMP saya adalah anak yang sangat aktif dan baik. Namun suatu ketika saya mendengar kabar bahwa ia memutuskan berhenti sekolah tanpa alasan yang jelas. Beberapa waktu kemudian saya mengetahui bahwa dia berhenti sekolah karena menikah di usia yang sangat muda. Saya sedih dan bingung serta mulai bertanya kenapa dia memutuskan untuk menikah. Pertanyaan saya juga disertai pikiran negatif lainnya,” ungkap Meirlin.
Apa yang Meirlin rasakan kemudian ia tuangkan dalam sebuah penelitian. Selain Meirlin, para anggota Forum Anak Desa juga terlibat sebagai peneliti.
Bagi Meirlin, keterlibatannya dalam CLR bukan hanya menjadi kesempatan untuk mendorong perubahan di lingkungannya, tetapi juga pengalaman yang mengubah dirinya. Ketika berpartisipasi aktif dalam CLR, Meirlin menemukan keberanian dan kepercayaan dalam dirinya bahwa ia mampu melakukan sesuatu untuk teman-teman sebayanya.
Ketika berproses menyusun penelitian ini bersama teman lainnya, Meirlin mulai memahami bahwa keputusan anak-anak berhenti sekolah lalu menikah dipengaruhi oleh berbagai faktor yang kompleks. CLR tidak hanya menjadi ruang diskusi, tapi juga mendorong anak-anak melakukan wawancara langsung untuk menggali kondisi yang benar-benar terjadi di lingkungan mereka.
“Dari situ saya mengetahui salah satu faktor yang menyebabkan teman-teman saya berhenti sekolah yaitu, ekonomi. Menikah dianggap sebagai pilihan yang paling mudah. Sejak saat itu saya berhenti menghakimi dan justru semakin ingin mencari solusi untuk masalah ini. Saya yakin saya bisa membantu teman-teman saya,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa penelitian yang dilakukan mulai menunjukkan perubahan positif di lingkungan sekitar. “Mereka perlahan mulai memahami pentingnya menyelesaikan pendidikan terlebih dulu dan mulai kembali berani mengejar cita-cita mereka,” imbuhnya.
Melihat kondisi tersebut, Meirlin berharap anak-anak di desanya dapat memiliki kesempatan untuk terus melanjutkan pendidikan tanpa harus terburu-buru menikah di usia anak. Ia juga berharap pemerintah desa dapat menghadirkan solusi nyata dan kebijakan yang lebih tegas terkait pencegahan pernikahan usia anak.
Penulis: Agata Yuspita (Sponsorship Information Officer kantor operasional WVI di Bengkayang)
Penyunting: Mariana Kurniawati (Communication Executive)