Pelopor Pesantren Aman Bencana di Lombok Timur

29 Juni 2026

Mariana Kurniawati

Bagikan sekarang

cover image

Salah satu desa di Lombok Timur terletak di bawah bayang-bayang Gunung Rinjani. Pemandangan dari desa luar biasa indah, namun wilayah ini juga menyimpan risiko bencana yang nyata yakni, gempa bumi dan erupsi gunung berapi. Di tengah lanskap inilah, berdiri sebuah Pondok Pesantren (Ponpes) yang mendidik pulihan santri setiap harinya.

Selama bertahun-tahun, kegiatan belajar-mengajar berjalan seperti biasa. Namun, kesadaran akan letak geografis yang rawan memantik sebuah pertanyaan: “Bagaimana jika bencana datang saat para santri sedang mengaji atau belajar?”. Ini yang menjadi titik balik hadirnya sebuah perubahan di Ponpes tersebut.

Karena keselamatan santri adalah prioritas utama, Ponpes ini mengambil langkah berani yang belum pernah dilakukan oleh pesantren lain di wilayah tersebut. Pihak pengurus Ponpes memutuskan untuk mengadopsi konsep Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).

Langkah ini berjalan dengan pendampingan. Proses penyusunan rencana kontingensi lahir dari kolaborasi erat dan difasilitasi oleh para ahli di bidang kemanusiaan dan penanggulangan bencana. Kolaborasi antara Wahana Visi Indonesia (WVI), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Palang Merah Indonesia (PMI), serta Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) terlaksana dengan baik.

Selain itu, para santri, ustadz, dan ustadzah berpartisipasi aktif dalam pelatihan SPAB. Para guru da santri memperoleh pembekalan pengetahuan yang komprehensif mengenai manajemen risiko bencana, pengenalan potensi bahaya di lingkungan sekitar, hingga pembentukan struktur tim siaga bencana di pesantren.

Setelah mendapat wawasan di sesi pelatihan, guru dan santri juga mengikuti simulasi bencana. Sesaat setelah sirine tanda bahaya berbunyi, seluruh penghuni pesantren langsung mempraktikkan teori yang telah dipelajari. Para ustadz dan ustadzah dengan sigap menunjukkan area titik kumpul, sementara para santri melakukan evakuasi mandiri secara tenang menuju ke titik kumpul yang aman.

Pengalaman praktik langsung inilah yang mendasari penyusunan dokumen kesiapsiagaan untuk Ponpes. Di dalam dokumen tersebut, setiap skenario yang ditulis telah dipastikan sesuai dengan kondisi riil di lapangan.

Hasil dari pelatihan, simulasi langsung, dan komitmen seluruh pihak adalah tersusunya Rencana Kontingensi (Renkon) SPAB yang sah dan terukur. Dokumen ini bukan sekedar pajangan di atas kertas melainkan sebuah panduan hidup. Renkon ini mencakup:

· Prosedur evakuasi mandiri

· Pembagian peran tim siaga bencana pesantren

· Pengelolaan logistik darurat

· Pemulihan trauma pasca bencana yang inklusif untuk lingkungan pesantren.

Semua ini dilakukan agar setiap anak dan dewasa yang berada di area Ponpes dapat siap siaga, selamat, dan terlindungi.

Pencapaian ini menorehkan sejarah baru yaitu, Ponpes ini menjadi Satuan Pendidikan Keagamaan pertama di Kabupaten Lombok Timur yang memiliki Rencana Kontingensi berstandar Satuan Pendidikan Aman Bencana. Tak kalah penting, budaya siaga pun tumbuh dan melekat pada para guru dan santri. Para santri tahu persis ke mana harus melangkah dan bagaimana melindungi diri dalam hitungan detik tanpa rasa panik. Keterlibatan TSBD pun menjadikan sistem kesiapsiagaan di dalam Ponpes terintegrasi langsung dengan sistem penanggulangan bencana di tingkat desa. Keberhasilan ini tidak hanya membawa rasa aman tetapi juga inspirasi kawasan yang meruntuhkan stigam bahwa pesantren sulit tersentuh program kedaruratan modern.

Ponpes ini membuktikan bahwa iman dan ilmu berjalan beriringan dengan kesiapan menghadapi risiko bencana. Langkah kecil dari lereng Rinjani ini sekarang siap menjadi cetak biru bagi ribuan pesantren lain di Pulau Lombok.

Penulis: Nurpita Friska Sagala (Koordinator program kantor operasional WVI di Lombok)

Penyunting: Mariana Kurniawati (Communication Executive)

Pelopor Pesantren Aman Bencana di Lombok Timur