11 September 2026
Mariana Kurniawati
Bagikan sekarang

Satu frasa singkat – “setiap anak” – yang tertulis dalam visi Wahana Visi Indonesia (WVI) ternyata sangat bermakna untuk Anita. Sebelas tahun perjalanan karirnya berpusat pada frasa ini. Bagi perempuan yang berperan sebagai GEDSI (Gender, Disability, and Social Inclusion) Specialist, dari “setiap anak” ia banyak belajar. Karena setiap anak itu berbeda tapi tidak membeda-bedakan, di dalamnya ada anak perempuan, laki-laki, disabilitas, non disabilitas, dengan latar ragam budaya dan bahasa.
Bagi Anita, karyanya di dunia kemanusiaan merupakan panggilan yang terjawab, yang membawanya pada pemahaman mengenai pentingnya sosok anak. Banyak kesederhanaan yang ia lihat sepanjang sebelas tahun terakhir ini. Tapi justru dari situ ia bertumbuh, sama seperti anak-anak yang ia temui di desa-desa dampingan WVI.
Sop Bayam dari Dapur Sederhana
“Dari pengalaman ini, aku mulai melihat dunia secara berbeda,” ungkap Anita. Pengalaman yang ia maksud adalah live in dengan warga salah satu desa di Jawa Tengah. Momen yang ia alami saat masih SMA ini jadi penghubung pertama dengan dunia kemanusiaan. Membawanya keluar dari gelembung kehidupan yang selama ini ia ketahui.
“Waktu tinggal di rumah bersama orang tua yang menampung kita di desa, aku ikut bantu masak sop bayam. Menu sederhana yang aku tidak pernah tahu sebelumnya. Masak di dapur yang masih pakai tungku kayu,” tuturnya. Saat itu, Anita sadar bahwa ada masyarakat yang hidupnya berbeda dengan kesehariannya. Rumah yang tidak bercat dengan lantai yang tidak berubin. Tapi di dalamnya tinggal satu keluarga yang bersahaja.
Ketika ia pulang ke rumahnya di Bandung, kehidupan kembali ke ritme semula tapi dengan kacamata yang berbeda. Kembali ke sekolah lalu kuliah hingga Anita mengenal WVI tapi tidak langsung menjadi staf. Pertama, ia menjadi Sponsor Anak.
“Aku dan dua ciciku, kita patungan untuk mensponsori tiga orang anak. Waktu itu cuma aku yang masih kuliah jadi donasinya harus sisihkan dari uang jajan,” cerita perempuan yang menyukai wisata kuliner ini. Menjadi Sponsor Anak adalah salah satu cara Anita tetap terkoneksi dengan kesederhanaan dan kerendahan hati, bahkan terlibat dengan kehidupan seorang anak tinggal di tempat yang jauh.
Anita menjadi staf WVI melalui program Management Trainee pada 2015 selepas lulus kuliah. Setelah itu, ia mengemban peranan Monitoring and Evaluation Coordinator kantor operasional Kubu Raya di Kalimantan Barat serta di Jakarta. Ia meniti karier dengan menganalisis data di lapangan, memahami berbagai realitas yang dihadapi anak dan keluarga. Pengalaman ini ia jadikan pijakan untuk melangkah ke posisi Programme Officer di kantor nasional pada 2021. Ia memiliki perspektif yang kaya saat mengelola proposal program dan berkomunikasi dengan mitra global WVI, World Vision.
Pada 2026, ia mulai menjalani peran baru yang spesifik. Sebagai GEDSI Specialist, Anita berusaha memberi ruang tumbuh-kembang yang lebih setara dan inklusif bagi setiap anak.
Karena menjalani berbagai fungsi, Anita mengibaratkan WVI sebagai sebuah binder. “Jadi ketahuan ya aku dari generasi apa karena masih pakai binder. Tapi maksudnya, binder itu kan isinya bisa diganti tapi sampulnya tetap sama. Aku juga begitu. Babaknya beda-beda tapi tetap dengan sampul WVI,” ujarnya. Di dalam sampul ini, ia bertumbuh, ia terpanggil.
Berkenalan dengan Banyak Perbedaan
Anita mengawali pekerjaan di WVI dengan lebih aktif mendengar. Bersama tim di Kubu Raya dan Jakarta, ia mengunjungi banyak anak dan keluarga yang bercerita tentang kehidupan mereka. Setiap cerita unik, tidak ada yang lebih baik atau buruk. Pengalaman ini membuat Anita belajar bahwa perbedaan itu mengasah kerendahan hati.
“Setiap orang itu punya pengalaman dan kebijaksanaannya masing-masing. Sehingga kita tidak bisa merasa sebagai yang paling tahu. Justru ketika kita merasa paling tahu, malah di situlah kita tidak tahu apa-apa,” ungkapnya. Inilah titik balik Anita yang mengubahnya menjadi sosok yang berbeda dari sebelum bergabung dengan WVI. Kerendahan hati itu terus terbentuk dengan mendengarkan beribu kisah manusia lain. “Kita selalu bisa belajar sesuatu dari sesama,” imbuhnya.
Pengalaman mendampingi anak dan keluarga di desa-desa terjauh mempertemukannya dengan berbagai bentuk kerentanan. Meski kerap membuat hatinya hancur, pengalaman itu justru menguatkan komitmennya untuk terus hadir dan mendampingi mereka.
“Tapi aku juga merasakan momen yang sangat mewah. Ketika kemudian aku bertemu lagi dengan anak-anak yang sebelumnya terlihat suram, bingung dengan dirinya sendiri, berubah jadi anak yang tahu apa tujuan hidupnya, impiannya, karyanya, bisa bersuara dan memperjuangkan apa yang jadi haknya. Seseorang yang matanya berbinar, ketika bicara ada semangat,” jelas Anita.
Tentang Diskriminasi dan Kesetaraan
Anita membawa beragam cerita dari lapangan dan menjadikannya jangkar untuk peran yang ia jalani sekarang. Dengan sudut pandang yang spesifik, di antara begitu banyak isu, ia merasa publik perlu memberi sorotan pada diskriminasi. Terutama karena ada sosok anak dalam upaya-upaya mewujudkan kesetaraan gender dan inklusi sosial.
“Sebenarnya identitas nasional Bhinneka Tunggal Ika itu sangat mencerminkan kesetaraan gender dan inklusi sosial. Berbeda-beda tapi tetap satu. Hanya saja, kesenjangan sosial dan ekonomi seringkali memecah belah kesatuan ini. Manusia jadi membeda-bedakan, padahal setiap manusia itu memang berbeda,” papar perempuan keturunan Tionghoa ini.
Bagi Anita, tidak ada gunanya membeda-bedakan. Perilaku seperti ini malah semakin menonjolkan sisi manusia yang senang berasumsi. Beranggapan bahwa satu manusia memahami apa yang manusia lain butuhkan atau rasakan. Dan dalam kondisi seperti ini, anak-anak seringkali tidak mendapat ruang untuk bersuara, apalagi didengar.
Membutuhkan kerja cerdas untuk mencapai nol diskriminasi dan mewujudkan kesetaraan, untuk anak maupun kelompok marginal lainnya. Dengan perannya saat ini, Anita memberi dukungan teknis agar program pembangunan masyarakat dapat lebih sensitif terhadap isu gender dan inklusi sosial. Namun, dengan kehadirannya, Anita mencoba lebih banyak menyapa dengan tulus.
“Ini hal sederhana yang aku rasa semakin jarang dilakukan padahal bisa mengucilkan diskriminasi. Menyapa, say hi, lihat mata orang yang kita sapa, ajak berbicara, bertukar pendapat. Di saat itulah tercipta lingkungan yang lebih setara. Kita mendengar satu sama lain. Tidak berasumsi, tidak sok tahu dengan apa yang jadi pemikiran seseorang, baik itu anak atau dewasa,” pungkasnya.
Bertahun-tahun setelah banyak pengalaman untuk memaknai "setiap anak", Anita masih membawa semangat yang sama. Bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari kesediaan untuk duduk, mendengar, dan melihat setiap anak sebagai pribadi yang setara.
Penulis: Mariana Kurniawati (Communication Executive)