Simpan Pinjam Hijau dari Pesisir Lombok Timur

17 Maret 2026

Mariana Kurniawati

Bagikan sekarang

cover image

Di Lombok ada kata yang cukup populer di tengah masyarakat yaitu, “bank rontok” atau “bank subuh”. Dua kata yang sama artinya itu adalah praktik simpan pinjam yang mengarah ke rentenir. Rentenir berkedok koperasi, datang pagi buta (subuh) dan menggedor pintu rumah nasabah. Pemerintah daerah di Lombok Timur, bahkan di level Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sejak lama menolak praktik ini. Berbagai program dilakukan, tapi praktik ini masih berlangsung. Pengalaman di pesisir timur Lombok Timur, tepatnya di dua desa dampingan Wahana Visi Indonesia (WVI) bisa menjadi contoh bagaimana kelompok perempuan bisa menjadi jalan keluar fenomena “bank rontok” dan “bank subuh” itu.

Suasana Ramadhan tidak menghalangi aktivitas sejumlah ibu-ibu di satu desa yang berada di Kabupaten Lombok Timur. Duduk di lantai tanpa tikar, mereka membawa buku kecil, amplop tabungan, dan sesekali tawa yang pecah di sela percakapan. Pertemuan seperti ini sudah menjadi rutinitas dua kali dalam sebulan. Di tempat sederhana itulah, puluhan perempuan pesisir perlahan membangun kekuatan ekonomi mereka sendiri.

Mereka tergabung dalam kelompok ASKA (Asosiasi Simpan Pinjam untuk Kesejahteraan Anak), sebuah model tabungan komunitas yang WVI terapkan di desa-desa pesisir Lombok Timur. Bagi sebagian orang mungkin hanya kegiatan menabung biasa. Namun bagi perempuan di sini, ASKA adalah ruang belajar, saling membantu, sekaligus pintu menuju usaha kecil yang sebelumnya tak pernah mereka bayangkan. Menyelamatkan mereka dari jebakan pinjaman rentenir.

“Hari ini kebetulan kami bagi santunan dan bagi hasil usaha,’’ kata Ketua ASKA Pelangi, Rosmawati.

null

Pada pagi di pertengahan bulan suci Ramadhan itu sejumlah anak-anak mendapatkan bingkisan dan uang santunan dari kelompok ini. Uang santunan itu merupakan keuntungan yang didapatkan dari kegiatan usaha kelompok. Kegiatan santunan ini rutin dilakukan bersamaan dengan pembagian sisa hasil usaha untuk anggota kelompok yang berjumlah 28 orang. Pada awal tahun 2026 ini, jumlah tabungan kelompok sudah mencapai RP 62 juta.

Sebagian besar anggota kelompok ini terdiri dari buruh tani dan pedagang kecil. Semua anggota kelompok memiliki kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama. Mereka menabung, lalu tabungan itu diputar menjadi modal usaha anggota kelompok. Kelompok akan mendapatkan tambahan modal dari jasa pinjaman itu. Salah satu yang membuat anggota senang meminjam dan mengembalikan adalah seluruh keuntungan itu akan dikembalikan ke mereka. Semua mendapatkan porsi yang adil sesuai dengan kepemilikan saham mereka.

“Saya bisa tambah bahan jualan karena ada kelompok ini,’’ kata Dian, salah seorang anggota kelompok yang berjualan aneka lauk pauk dan camilan. Selama bulan puasa ini dia menambah barang jualan sesuai kebutuhan warga yaitu, takjil. Semua modalnya dari ASKA Pelangi.

Perempuan dan Ketahanan Ekonomi Pesisir

Desa-desa pesisir di Indonesia sering menghadapi tantangan ekonomi yang kompleks. Ketergantungan pada sektor perikanan membuat pendapatan rumah tangga sangat dipengaruhi musim dan kondisi laut. Dalam situasi seperti itu, keberadaan usaha kecil yang dijalankan perempuan menjadi penopang penting bagi ekonomi keluarga. Selain itu, saat mereka membutuhkan dana darurat untuk kesehatan dan pendidikan, mereka bisa mengakses dengan mudah ke kelompok. Tidak perlu persyaratan seperti meminjam ke bank, atau tidak kehilangan aset ketika harus meminjam ke rentenir. Melalui ASKA, perempuan di desa-desa pesisir tidak hanya menabung tetapi juga belajar mengelola keuangan, menjalankan usaha, hingga membangun jaringan sosial.

“Dulu kami hanya berkumpul biasa saja,” kata Mastah, Ketua ASKA Mumbul Bahari.

Kelompok ASKA Mumbul Bahari beranggotakan 22 perempuan yang sebagian besar berasal dari keluarga nelayan. Siklus hidup mereka mengikuti pola kerja suami. Lima belas hari melaut, tiga hari pulang, kembali melaut. Saat suami melaut, mereka biasa kumpul membahas berbagai peristiwa yang viral di media sosial. Mereka juga aktif membuat konten kehidupan sehari-hari. Hingga kemudian WVI hadir memberikan dampingan dan literasi keuangan.

Pengeloaan keuangan dilakukan sederhana, mirip ke arisan. Hanya saja uang ini tidak dibagi habis. Anggota menyetor tabungan secara rutin, jumlah setoran akan dihitung sebagai saham. Lalu dana yang terkumpul dapat dipinjam kembali oleh anggota lain yang membutuhkan. Bunga pinjaman rendah dan ditentukan berdasarkan kesepakatan bersama. Bagi banyak keluarga pesisir yang selama ini sulit mengakses lembaga keuangan formal, mekanisme ini menjadi solusi penting.

“Kalau anak sakit atau ada kebutuhan mendadak, kami bisa langsung meminjam dari ASKA,” kata Mastah. “Bunganya kecil, sekitar dua persen saja, dan nanti dibagi lagi untuk kelompok.”

Kepercayaan antaranggota menjadi kunci kesuksesan. Tidak ada jaminan, tidak ada proses administrasi rumit. Semua berjalan berdasarkan kesepakatan dan tanggung jawab bersama. Karena itulah, ketika melakukan pendampingan, WVI menyasar perempuan yang sebenarnya sudah berkelompok secara informal.

“Sekarang banyak dari luar yang mau ikut bergabung setelah tahu manfaatnya,’’ katanya.

null

Cerita serupa juga datang dari Maesum, ketua kelompok usaha UMA. Ia mengingat bagaimana kehidupannya sebelum mengikuti berbagai pelatihan yang difasilitasi WVI.

“Dulu kami hanya istri-istri nelayan,” katanya. “Sekarang kami bisa menghasilkan uang dan membantu ekonomi keluarga.”

Kelompoknya kini memproduksi berbagai olahan ikan seperti abon cakalang, abon tongkol, hingga abon ikan tuna. Produk-produk itu dijual di sekitar desa maupun pasar lokal. Saat ini kelompok mencoba komposisi yang tepat untuk usaha abon mereka. Mereka juga mulai memasarkan lewat pertemanan. Mereka juga bisa mengkonsumsi abon buatan sendiri sebagai bagian pemenuhan gizi anak-anak.

Mengolah Mangrove Menjadi Produk Bernilai

Dua desa dampingan WVI di Lombok Timur ini berada di wilayah pesisir yang masih memiliki kawasan mangrove cukup luas. Selama bertahun-tahun, mangrove lebih sering dipandang sebagai bagian dari lanskap biasa, tempat mencari ikan atau kepiting bagi nelayan. Kehadiran ASKA mencari peluang dari mangrove itu. Selain melakukan simpan pinjam, mereka juga mulai mengolah mangrove.

Di kelompok ASKA Gemilang misalnya, anggota mulai mengembangkan berbagai produk dari mangrove. Ada peyek jeruju, teh mangrove, hingga sabun cuci piring dari buah mangrove jenis Sonneratia alba.

null

“Selain kegiatan menabung dan simpan pinjam, kami juga membuat beberapa produk turunan mangrove,” kata Raudatul Jannah, Ketua ASKA Gemilang.

Awalnya kelompok ini hanya beranggotakan 15 orang. Setelah masyarakat melihat aktivitas mereka, jumlah anggota bertambah menjadi 23 orang pada siklus kedua. Bertambahnya anggota menandakan satu hal, semakin banyak perempuan desa yang ingin terlibat dalam kegiatan ekonomi bersama.

“Ketika masyarakat melihat kegiatan kami, banyak yang tertarik dan akhirnya ikut bergabung,” kata Raudatul.

Selain memberikan tambahan pendapatan, usaha berbasis mangrove ini juga perlahan menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya menjaga ekosistem pesisir. Mangrove bukan lagi sekadar hutan di tepi laut, tetapi sumber kehidupan yang harus dijaga agar tetap lestari. Ketika mangrove dimanfaatkan, para perempuan ini bisa menghasilkan tambahan bagi keluarga.

Program Mangrove Adaptive and Resilient Village for Enhanced Livelihoods (MARVEL) bertujuan meningkatkan aksi masyarakat dan individu untuk memulihkan dan melindungi lingkungan, meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga dan anak-anak, serta memperkuat mata pencaharian dan ketahanan masyarakat terhadap bencana terkait iklim dan bencana lainnya melalui kegiatan restorasi dan proteksi kawasan mangrove, serta kajian lingkungan, sosial dan ekonomi untuk menciptakan lingkungan yang berkelanjutan. Pelaksanaan program ini bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Timur yang difokuskan di dua desa selama dua tahun, periode Mei 2024 hingga April 2026.

Penulis: Fathul Rakhman (Konsultan penulis untuk program MARVEL di Lombok)

Penyunting: Maria Pratiwi (MARVEL Lombok Project Coordinator), Mariana Kurniawati (Communication Executive)