Suara Remaja Ngawi: Dari Pelosok Desa Menuju Meja Pembuat Kebijakan

29 Mei 2026

Mariana Kurniawati

Bagikan sekarang

cover image

Di Kabupaten Ngawi, kesadaran kaum muda terhadap pentingnya gizi dan pencegahan stunting sejak dini kini semakin meningkat. Hal ini adalah buah manis dari kampanye edukasi bertajuk "1 Aksi 1 Desa" yang dijalankan secara intensif oleh GenRe Kabupaten Ngawi sepanjang tahun 2025 hingga 2026. Melalui pendampingan Program PASTI, tercatat sebanyak 247 remaja di 26 desa telah berhasil diedukasi.

Menjadi Peneliti di Kampung Sendiri

Langkah para remaja ini ternyata tidak berhenti hanya sebagai pendengar. Di empat desa percontohan pencegahan stunting, delapan remaja bersama dua Duta GenRe tingkat kabupaten dibekali kemampuan untuk melakukan Analisis Situasi (Ansit) kesehatan remaja secara langsung di lapangan.

Mereka turun tangan mewawancarai 19 narasumber, mulai dari kepala desa, guru, petugas puskesmas, remaja yang sudah menikah, hingga remaja peserta konseling. Selain itu, para Duta GenRe desa ini juga memimpin diskusi kelompok terarah (FGD) yang menggali pandangan dari 35 rekan sebaya mereka.

Dari riset mendalam tersebut, mereka menemukan berbagai fakta nyata di lapangan:

  • Masih ada remaja yang pola makannya tidak seimbang dan tidak rutin mengkonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD).

  • Masih minimnya informasi mengenai akses dan kualitas Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR).

  • Kurangnya ruang aman serta dukungan sosial bagi remaja di desa.

  • Masih sering ditemukannya kasus perkawinan pada usia anak.

  • Program-program pemerintah untuk remaja saat ini masih bersifat sektoral dan belum terintegrasi.

Transformasi Diri dan Keberanian Bersuara

Menariknya, proses riset lapangan ini tidak hanya membuahkan data berharga, tetapi juga membentuk karakter para remaja yang terlibat. Dalam sebuah talkshow pada 4 Mei 2026, dua Duta GenRe, yakni Alin dan Hanfa, menceritakan pengalaman transformatif mereka.

“Pengalaman yang paling berkesan bagi saya adalah saat bisa berinteraksi langsung dengan remaja di desa. Awalnya mereka cenderung malu atau kurang terbuka, tapi setelah diajak ngobrol santai, mereka mulai aktif dan antusias,” ucap Alin bangga.

Sementara itu, Hanfa merasakan perkembangan kepercayaan dirinya yang luar biasa. “Saya jadi lebih berani berbicara di depan orang, lebih percaya diri saat menyampaikan pendapat, dan mulai bisa mengatur waktu antara sekolah, tugas, eskul dan kegiatan Ansit. Saya juga belajar untuk lebih bertanggung jawab karena setiap catatan atau kegiatan yang kami lakukan itu berpengaruh pada teman-teman remaja lain yang ada di desa,” ungkap Hanfa.

Membawa Harapan Pemuda ke Tingkat Kabupaten

Hasil temuan ini tidak dibiarkan mengendap sebagai laporan. Para remaja dengan berani menyuarakan rekomendasi mereka di hadapan kepala desa, aparat kecamatan, hingga ke Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lintas sektor dalam pertemuan koordinasi TPPS tingkat kabupaten.

Puncak dari rangkaian advokasi ini terjadi bertepatan dengan ajang Grand Final Pemilihan Duta GenRe Kabupaten Ngawi tahun 2026. Alin dan Hanfa, didampingi tim Program PASTI, menyerahkan langsung dokumen rekomendasi tersebut kepada Bunda GenRe (Ketua TP PKK Ngawi) agar diteruskan kepada Bupati.

Rekomendasi utama mereka sangat jelas: meminta integrasi intervensi spesifik remaja—seperti edukasi gizi, pencegahan anemia, hingga pencegahan perkawinan anak—ke dalam upaya percepatan penurunan stunting melalui Surat Edaran Bupati untuk mengakomodasi kegiatan tersebut di perubahan RKPD 2026 atau 2027.

Aksi berani ini mendapat apresiasi penuh dari Bunda GenRe. Beliau menegaskan kebanggaannya melihat para remaja turun langsung ke lapangan dan berjanji bahwa hasil analisis ini akan dijadikan dasar pertimbangan program pemerintah bagi remaja di Ngawi kedepannya.

Kisah luar biasa dari Ngawi ini membuktikan bahwa mencegah stunting bukanlah sekadar urusan ibu dan balita. Pencegahan stunting sesungguhnya dimulai sejak masa remaja, ketika generasi muda diberi ruang dan akses untuk belajar, bersuara lantang, mengedukasi sesamanya, dan ikut menentukan nasib serta masa depannya.

Suara Remaja Ngawi: Dari Pelosok Desa Menuju Meja Pembuat Kebijakan