Distribusi Bantuan kini Semakin Mudah

Distribusi Bantuan kini Semakin Mudah

Agus Wijaya (30), begitu ia akrab disapa rekan-rekannya, tergabung di Forum Komunikasi Gerakan Pemuda (FKGP) NTB sejak 2009. Bersama forum ini, Agus aktif melakukan kegiatan-kegiatan sosial masyarakat sampai saat ini.

Pada saat gempa Lombok tahun 2018, Agus bersama rekan-rekannya turut menjadi korban gempa berkekuatan 7.0 SR tersebut. Meski demikian, mereka tetap melakukan respons tanggap bencana dengan menyalurkan bantuan dari perorangan ataupun organisasi kepada masyarakat terdampak kala itu. 

Kini pengalaman distribusi bantuan yang berbeda dirasakan Agus ketika menyalurkan dana bantuan nontunai di proyek ICSR di NTB, hasil kerja sama Wahana Visi Indonesia dan FKGP, yang didanai oleh AHP (Australian Humanitarian Partnership) melalui pemerintah Australia

"Penyaluran bantuan yang kami lakukan pada saat Gempa Lombok tidak menggunakan kajian kebutuhan terlebih dahulu, sehingga barang yang didistribusikan sering tidak sesuai kebutuhan masyarakat. Tambahan lagi, kami pun tidak bisa mengidentifikasi masyarakat yang sudah atau belum  mendapatkan bantuan karena kami tidak mempunyai data by name by address,” ujar Agus menceritakan pengalamannya terdahulu.

Agus menjelaskan, hal berbeda ditemuinya saat turut terlibat dalam proyek ICSR WVI. Lewat penggunaan aplikasi LMMS (Last Mile Mobile Solution), proses distribusi bantuan yang dilakukannya menjadi lebih mudah. Menurutnya, lewat proses pengkajian kebutuhan masyarakat di awal juga membantu masyarakat mendapatkan bantuan sesuai kebutuhannya.

“Calon penerima bantuan didaftarkan terlebih dulu di sistem LMMS, sehingga masyarakat yang datang menerima bantuan hanya perlu menujukan kartu LMMS yang sudah dibagikan sebelumnya. Alhasil, proses distribusi berjalan tertib dan cepat," tambah Agus.

Proyek ICSR diimplementasikan oleh WVI bekerja sama dengan 12 mitra lokal yang tersebar di NTT, NTB, sulawesi Tengah, Maluku Utara dan Papua. Distribusi bantuan ini bertujuan untuk membantu keluarga terdampak COVID-19 yang tidak menerima bantuan sosial pemerintah dan disabilitas, mampu memenuhi kebutuhan dasar keluarga dan pendidikan anak minimal selama dua bulan.

Bantuan ini diberikan dalam 2 tahapan, yakni Rp600ribu per tahap per rumah tangga. Sejumlah 4.189 penerima bantuan dijangkau melalui aplikasi ini, dengan total 2.219 disabilitas (975 laki-laki, 902 perempuan, 196 anak laki-laki dan 146 anak perempuan). Dengan menggunakan aplikasi ini, bantuan dapat didistribusikan dengan cepat dan efektif.

Ditulis oleh: Rista Simbalagi, MEAL Coordinator Proyek ICSR Wahana Visi Indonesia

 


Artikel Terkait