Irigasi Tetes, Harapan Baru Petani di Kupang

Irigasi Tetes, Harapan Baru Petani di Kupang

Merasa takut gagal untuk mencoba lagi sesuatu yang pernah dilakukannya, sempat terlintas di pikiran Sakarias Nenobesi, seorang petani asal Desa Besmarak, Kupang. Hal itu terjadi saat proyek Moringa Wahana Visi Indonesia mengajak Sakarias untuk mengadopsi teknologi irigasi tetes. Lewat dorongan semangat yang kuat untuk mencoba sesuatu yang sebenarnya tidak baru tapi berbeda, membuatnya berubah menjadi tidak kuatir lagi untuk meraih keberhasilan.

Sakarias pertama kali mengeluti budidaya tanaman hortikultura sejak tahun 1993, dengan luasan lahan garapan hanya seluas 10 are. Memanfaatkan air yang terdapat pada kali yang hanya bisa terpakai sampai bulan Oktober yang berada di sekitar lahan, beberapa tanaman hortikultura yang mulai diusahakannya antara lain ketimun, cabai besar, sawi dan papaya.

Teknik irigasi tetes pernah juga dilakukan lewat program pemberdayaan masyarakat dengan pembiayaan dari dana desa. Tapi teknologi ini hanya dipakai dalam sekali musim tanam saja karena hasilnya di bawah dari pola lama yaitu penyiraman manual. Pada awal 2021, proyek Moringa WVI mengajak Sakarias untuk mencoba menerapkan kembali teknologi irigasi tetes tersebut.

Pada awalnya ia sama sekali tidak bersedia untuk melakukan pola ini krn sudah ada pengalaman sebelumnya. Setelah instalasi irigasi ini terpasang pada lahan, ternyata ada banyak keuntungan yang dirasakannya. Secara waktu dan tenaga serta kebutuhan air menjadi sangat efisien.

Kini Sakarias hanya membutuhkan waktu tiga jam saja untuk pengairan, sedangkan sebelumnya bisa sepanjang hari mulai dari pagi sampai malam itupun belum selesai. Pada proses pemupukan, bisa dilakukan oleh satu orang saja dengan waktu yang dibutuhkan hanya 5 menit untuk 5 bedeng saja, sedangkan sebelum dibutuhkan banyak orang dengan waktu lebih dari satu hari.

Sakarias juga mengaku kini hasil panennya bertambah banyak, bahkan bisa mencapai sepuluh kali, dari yang sebelumnya hanya enam kali saja. Istri Sakarias yang turut membantunya bertani berujar, “Kalau seperti ini, maka  kita ibu-ibu akan punya banyak waktu untuk bisa mengurus rumah tangga lebih baik lagi.”

Melihat berbagai keuntungan yang telah dirasakan dengan penerapan pola irigasi tetes ini, maka sangat diharapkan akan lebih banyak lagi petani hortikultura di Desa Besmarak secara swadaya akan bermitra dengan lembaga-lembaga keuangan. Hal ini dilakukan untuk mengakses modal dalam menerapkan teknologi irigasi tetes.

Ditulis oleh: Matheos R. Dima, Eksternal Konsultan Proyek Moringa Wahana Visi Indonesia


Artikel Terkait