DARI LAPANGAN

Pejuang Hak Anak 'Kepoin' Anak Orang Lain

08 Sep, 2017

Jannah (43) adalah seorang kader Posyandu di Desa Tambatan, Kecamatan Teluk Keramat, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Sudah setahun ini beliau juga mengerjakan tanggung jawabnya sebagai kader duta anak di wilayah dampingan Wahana Visi Indonesia (WVI) wilayah operasional Kabupaten Sambas.

Jannah (43) adalah seorang kader Posyandu di Desa Tambatan, Kecamatan Teluk Keramat, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Sudah setahun ini beliau juga mengerjakan tanggung jawabnya sebagai kader duta anak di wilayah dampingan Wahana Visi Indonesia (WVI) wilayah operasional Kabupaten Sambas. Kader duta anak merupakan sukarelawan yang dipilih oleh desa dalam mengusahakan pemenuhan hak anak di desa.

Sekalipun menjadi sukarelawan, Jannah merasa bahagia menjadi kader duta anak karena beliau bisa mendapatkan ilmu untuk memajukan Desa Tambatan. Banyak sekali permasalahan anak terjadi di desanya seperti anak putus sekolah dan gizi buruk.

Salah satu pengalaman Jannah yang paling menarik adalah ketika ia berusaha mendorong salah satu anak tetangga untuk melanjutkan sekolah dari SMP ke SMK.

“Awalnya tidak mau sekolah karena sudah terlambat (mendaftar sekolah), jadi saya kunjungi ke rumahnya dan beri kesadaran kepada anak dan orang tuanya. Tapi setelah diupayakan, anaknya (akhirnya) mau sekolah. Sekarang sudah sekolah di SMK,” ujarnya.

Tidak mudah baginya bersama rekan-rekan kader duta anak lainnya dalam mengusahakan pemenuhan hak anak di desa karena sebagai sukarelawan seringkali harus mendapat tantangan dari masyarakat sendiri. Namun sekarang ia mengaku lebih memperhatikan anak dalam hal positif.

“Sekarang jadi kepoin anak orang (lain), dalam arti positif,” kata salah seorang duta anak yang bersama dengan Ibu Jannah dalam acara Deklarasi Desa Layak Anak oleh Pemerintah Desa Sayang Sedayu, Kabupaten Sambas dalam rangkaian Perayaan Hari Anak Nasional.

Setelah 10 tahun WVI hadir di wilayah ini karya kader duta anak ini menghasilkan buah yang manis karena terjadi perubahan di masyarakat desa. Kader duta anak yang sebelumnya hanya berjumlah lima orang dan mengalami penolakan sudah bertambah menjadi 35 orang. Wadah forum anak untuk anak-anak dapat berkespresi dan berpartisipasi dalam pembangunan desa pun sudah 11 hari dibentuk bahkan Pemerintah Desa sudah mendeklarasikan Desa Layak Anak.

Semoga semakin banyak orang yang terus mengupayakan pemenuhan hak anak sebagai calon penerus agar bangsa ini bisa menjadi bangsa yang maju.

 

Ditulis oleh Yoel Setiawan, Child Protection Specialist, Wahana Visi Indonesia zonal Kalimantan Barat