BERITA & CERITA

Kebun Sayur Itu Mengubah Segalanya

02 Nov 2018

Mama Pia saat berada di kebun gizi miliknya

#ProgramAsmatSehat - Pia Tosime (39), biasa dikenal sebagai Mama Pia, seorang ibu rumah tangga yang sangat peduli akan keempat orang anaknya. Meski memiliki perhatian dan rasa sayang yang luar biasa bagi anak-anaknya, bagi Mama Pia, sayuran tidak begitu penting untuk menjadi makanan sehari-hari dalam keluarganya. Ia bahkan tidak mengerti akan pentingnya sayuran untuk kesehatan dan pertumbuhan anak-anaknya.

Bukan tanpa sebab baginya untuk tidak memberikan sayuran kepada anak-anaknya. Perjalanan dua jam menuju tempat penjualan sayur di Pasar Atsj, dengan melewati sungai dan membutuhkan bahan bakar minyak yang banyak, membuat Mama Pia sangat kesulitan untuk mendapatkan sayuran.

Namun, setelah mendapat sosialisasi dan pendampingan dari Wahana Visi Indonesia (WVI) tentang pentingnya sayuran bagi nutrisi anak, serta bagaimana cara membuat kebun gizi (kebun yang ditanami berbagai sayuran.red), Mama Pia mulai mengubah kebiasaannya.

Sejak sosialisasi tersebut dilakukan, ia kini telah memiliki kebun gizi pribadi di pekarangan belakang rumahnya. Selain itu, kini ia juga telah memahami betapa pentingnya mengonsumsi sayuran, yang bermanfaat bagi tumbuh kembang anak-anaknya. Kebun seluas 7 m2 milik Mama Pia menjadi saksi ditanamnya beberapa bibit sayuran seperti kacang panjang, kangkung dan sawi.

Lewat pengetahuan barunya tersebut, Mama Pia berharap bisa mengembangkan kebun sayurnya dengan lebih luas lagi. Dengan begitu, ia juga bisa membantu masyarakat di dusunnya untuk mengonsumsi sayuran, lewat penjualan yang akan dilakukannya.

Dengan menjual sayur, Mama Pia berharap dapat membeli bibit sayur sendiri tanpa harus menunggu pemberian bibit dari WVI.

“Terima kasih atas perhatian Wahana Visi Indonesia, termasuk telah memberikan saya benih sayuran,” pungkasnya.

Sejak melakukan respons tanggap bencana kejadian luar biasa di wilayah tempat tinggal Mama Pia, WVI telah berhasil mengajak delapan orang untuk menciptakan kebun gizi mereka sendiri. Bahkan, sejak kedatangan WVI di Asmat Papua pada awal 2018 silam, WVI telah mendampingi 23 kepala keluarga untuk membuat kebun gizi di halaman tempat tinggal mereka.

Hingga respons ini berlanjut, pihak WVI masih terus melakukan koordinasi dengan Dinas Pertanian setempat dan gereja untuk bisa terus melanjutkan program-program yang telah berjalan di Asmat.

Berikut adalah gambaran respons WVI di Asmat hingga 31 Oktober 2018:

Ditulis oleh: Petrisius Fatin, Staf respons tanggap bencana Asmat Wahana Visi Indonesia

Artikel Terkait

16 Apr 2019

Semangat yang Tak Pernah Patah

Semangat yang Tak Pernah Patah

#PeduliSentani – Telah lebih dari 3 minggu tinggal di posko evakuasi pasca bencana, tidak…

11 Apr 2019

Tahunan Tak Miliki Tempat Tetap, Bangunan PAUD Holistik Integratif Efata Akhirnya Diresmikan

Tahunan Tak Miliki Tempat Tetap, Bangunan PAUD Holistik Integratif Efata Akhirnya Diresmikan

Sebuah lagu dan tarian dari puluhan anak-anak siswa PAUD Efata terdengar merdu dan…

08 Apr 2019

Mengenal Baik dan Buruknya Makanan di Posko Pengungsian

Mengenal Baik dan Buruknya Makanan di Posko Pengungsian

#PeduliSentani - Matahari bersinar terik hari itu. Namun, panas terik matahari…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube