BERITA & CERITA

Kelasku Tak Lagi di Tenda

09 Jul 2019

Salah satu bangunan PAUD yang didirikan atas kerja sama Wahana Visi Indonesia dan PT IBM Indonesia

#LombokBangkitKembali - Gempa bumi yang melanda Lombok satu tahun silam mengakibatkan banyak terjadinya kerusakan termasuk fasilitas pendidikan. Fasilitas pendidikan mengalami kerusakan paling tinggi, jumlahnya bahkan bisa mencapai 1.194 unit. Selain itu tercatat setidaknya 9.311 anak yang membutuhkan dampingan psikososial, pendidikan dan perlindungan akibat terjadinya gempa tersebut.

Terkait hal tersebut, Wahana Visi Indonesia (WVI) melalui tim respons tanggap bencana gempa Lombok (Lombok Earthquake Emergency Response/LEER) bekerja sama dengan PT IBM Indonesia menyediakan ruang sahabat anak dan membangun ruang belajar sementara untuk beberapa sekolah yang bangunannya rusak.

Sebanyak dua sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang terdampak gempa di Desa Sokong, Kecamatan Tanjung menjadi target pembangunan ruang kelas sementara. Dalam pelaksanaannya, 61 murid harus mengungsi di lapangan dengan tenda sementara untuk tetap melanjutkan proses belajar.

“Saya masih ingat, padahal hari Sabtu pagi itu kita semua yasinan sebelum menempati ruangan yang baru itu hari Senin nanti. Malam Seninnya malah gempa, bangunannya rusak tidak bisa kami tempati lagi,” ujar Emi, salah satu guru PAUD mengingat kejadian setahun silam.

Emi juga menceritakan bahwa tenda sementara yang digunakan untuk proses belajar mengajar pun bukan tenda yang layak, melainkan tenda darurat yang hanya didirikan menggunakan spanduk-spanduk atau baliho-baliho.

Guru-guru dan murid-murid merasa sangat terbantu dan bersyukur dengan adanya ruang kelas sementara ini. Mereka tidak lagi belajar di tenda yang panas.

“Di sini tidak begitu panas kayak di tenda. Kalau di tenda panas banget,” ungkap Qonita salah satu siswa yang sekolah mendapatkan bantuan.

Emi turut menjelaskan bahwa kondisi belajar mengajar di tenda sungguh membuat anak-anak pun dirinya menjadi tidak nyaman.

 “Kami bersyukur sekarang sudah ada ruang kelas ini karena sebelumnya di tenda panas sehingga jam 9 anak-anak harus sudah pulang. Walaupun di sini juga panas tetapi disini bisa setidaknya pulang jam 10 atau 10.30 karena tidak sepanas waktu di tenda atau lebih tepatnya hanya menggunakan baliho. Bersyukur juga waktu musim hujan sudah ada di kelas jadi tidak becek dan kena banjir,” cerita Emi.

Selain itu dalam kegiatan ruang sahabat anak, anak-anak di Lombok diajak untuk membaca, mewarnai, bermain bersama, membuat kerajinan tangan serta belajar tentang kesehatan dalam situasi bencana.

Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang layak. Meski dalam situasi bencana tidak berarti mereka tidak memiliki akses untuk memperoleh pendidikan yang layak. Melalui ruang belajar sementara dan kegiatan ruang sahabat anak ini, kesejahteraan anak dapat terpenuhi dan anak bisa hidup utuh sepenuhnya.

Ditulis oleh: Zara Fitria, Accountability Officer Lombok Earthquake Emergency Response Wahana Visi Indonesia

Artikel Terkait

16 Aug 2019

HAN Pertama di Pedalaman Asmat

HAN Pertama di Pedalaman Asmat

Tanggal 23 Juli 2019 merupakan hari yang istimewa bagi anak-anak Indonesia, pasalnya hari…

15 Aug 2019

Memberi Hidup untuk Sesama

Memberi Hidup untuk Sesama

Hari Kemanusiaan Sedunia - Nurhayati (47), biasa disapa Nur, telah menjadi…

14 Aug 2019

Pahlawan Jamban

Pahlawan Jamban

Hari Kemanusiaan Sedunia - Tinggal jauh dari keluarga, teman dan kota…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube