BERITA & CERITA

Memajukan Desa dengan Pancasila Ala Bloro

02 Apr 2019

Soter Sani Nurak (49), Kepala Desa Bloro di halaman kantor desa.

Desa Bloro di Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan desa dampingan Wahana Visi Indonesia (WVI) Area Program Sikka. Belakangan ini selalu ada inovasi yang diluncurkan di sini. Setelah peluncuran aplikasi mobile posyandu pada 2017 dan Sistem Informasi Desa (SID) berbasis komputer pada 2018, tahun 2019 ini Desa Bloro memperkenalkan sarana pengaduan warga tentang pelayanan publik berupa Kotak Saran dan SMS Pengaduan (Call Center)

“Marilah kita bersama-sama ke arah yang lebih baik,” ujar Soter Sani Nurak (49), Kepala Desa Bloro menanggapi kemajuan yang telah dicapai desanya. Sejak dipercaya warga untuk menjabat menjadi kepala desa pada September 2013, ia selalu berusaha agar ada perubahan dari tahun ke tahun.

Soter mengatakan, “Ada filosofi yang telah membawa desa ini menjadi lebih maju.” Ia pun menjelaskan tentang lima pilar perwujudan filosofi warga Desa Bloro, yaitu kula kameng (kerja sama dan musyawarah), sudan sogor (partisipasi dan pengendalian), dodor ho’or (kepedulian dan lingkungan), bekat epan (pengembangan bakat dan kemampuan), serta tepo molo (harapan dan impian). “Inilah Pancasila versi kami.”    

Desa yang dapat ditempuh dengan perjalanan mobil selama 30 menit dari ibu kota kabupaten Maumere ini memiliki moto “Ayo Bersama Menggagas Masa Depan Desa Bloro”. Menurut Soter, moto ini memotivasi warga untuk terus berkarya. “Terutama bagi kami para pelayan masyarakat.” Upaya Soter dan seluruh warga desa tidak sia-sia. Tahun 2018 lalu Desa Bloro menjadi salah satu dari 68 desa lainnya terpilih dari 74.754 desa se-Indonesia untuk menerima penghargaan Desa Terbaik Nasional dari Menteri Desa, Eko Putro Sandjojo.    

“Beberapa tahun lalu pun kami menerima penghargaan dari WVI, menjadi Juara 1 dalam Lomba Desa Pemerhati Kesehatan Ibu dan Anak Kecamatan Nita,” ujar Soter. Ia meneruskan, desanya pun bangga dengan prestasi anak-anak desa melalui kegiatan Forum Anak dampingan WVI. “Berkat dukungan WVI juga kami selalu melibatkan partisipasi anak dalam musrenbang desa.”      

Pencapaian lain yang diperoleh Desa Bloro antara lain kepemilikan Akta Lahir. Kini sudah 96% anak memiliki Akta Kelahiran. Selain itu terkait akses air bersih. “Desa ini paling susah mendapatkan air bersih,” kata Soter. Ia bercerita, sudah beberapa kali program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas), tapi gagal. Juga pendekatan ke Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). “Saya lalu berdiskusi dengan Bupati bagaimana mengatasi masalah ini. Akhirnya kami gunakan Dana Desa membuat bak besar untuk menampung air yang ‘ditembak’ dari atas.”

Masih ada satu hal yang ingin diwujudkan Soter menjelang akhir masa jabatannya tahun 2019 ini. “Saya ingin lebih memajukan pariwisata desa ini karena belum berkembang secara utuh. Ada satu objek wisata yang menarik, di mana wisatawan bisa mengetahui sejarah, asal-usul Desa Bloro,” harapnya sambil menutup perbincangan.

 

Ditulis oleh: Regina Veronica Edijono, Editor, Wahana Visi Indonesia

Artikel Terkait

22 Aug 2019

Fokus Belajar, Fokus Menyusui

Fokus Belajar, Fokus Menyusui

Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada bersama Wahana Visi Indonesia (WVI) untuk pertama kalinya melaksanakan…

21 Aug 2019

Cegah Stunting dan Stop Kekerasan Anak Jadi Tema Perayaan HUT RI ke-74

Cegah Stunting dan Stop Kekerasan Anak Jadi Tema Perayaan HUT RI ke-74

Memperingati HUT RI ke-74 di tingkat Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, NTT, Wahana Visi…

19 Aug 2019

Mematahkan Pesimistis dengan Decak Kagum

Mematahkan Pesimistis dengan Decak Kagum

“Yang kamu buat itu adalah sia-sia, jangan terlalu percaya diri karena tidak mungkin…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube