DARI LAPANGAN

Memberdayakan ASKA untuk Penduduk Indonesia

10 Jul 2018

Kelompok ASKA diperuntukkan bagi orang dewasa atau anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan

Menjadi miskin dan tidak memiliki pemasukan yang baik untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari masih dirasakan oleh penduduk negeri ini. Data Badan Pusat Statistik 2018 mencatat, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 25,68 juta orang (10,12%) hingga semester dua 2017. Angka tersebut ternyata turut berelasi terhadap rendahnya kesempatan penduduk miskin untuk mengakses sistem keuangan.  

Didasari masih tingginya kemiskinan dan rendahnya akses masyarakat pada sistem keuangan tersebut, Wahana Visi Indonesia (WVI) mengembangkan kelompok simpan model ASKA (Asosiasi Kelompok Simpan Pinjam untuk Kesejahteraan Anak) lengkap dengan aplikasi ASKA yang berbasis android. Pelaksanaan kelompok ini dijalankan dengan tiga metode, yakni;  penumbuhan kelompok, pendampingan kelompok dan monitoring kelompok.

WVI telah menjalankan kelompok ASKA sejak 2011. Kelompok Simpan Pinjam Model ASKA, diadopsi dari model ASCA (Accumulating Saving and Credit Assosiation), model yang dikembangkan oleh VSL Assosiates. Sementara di Indonesia, nama ASCA dirubah menjadi ASKA yaitu Asosiasi Simpan pinjam untuk Kesejahteraan Anak.

Kelompok simpan pinjam ASKA mengajak masyarakat untuk terlibat langsung dalam proses menabung yang dilakukan secara individu. Masyarakat diajarkan untuk mengelola arus kas keluarga dan pemanfaatan dana yang mereka simpan di kelompok tersebut. Pemberian informasi terkait sistem pengelolaan yang transparan dari ASKA, juga membuat masyarakat lebih berani menempatkan uang mereka di kelompok simpan pinjam. Hingga hampir tujuh tahun perjalanannya, perkembangan kelompok ini memang nyata terjadi. 

Kelompok ASKA dikembangkan dengan landasan memenuhi kebutuhan masyarakat miskin yaitu mengelola arus kas keluarga, tersedianya dana cepat saat kondisi darurat, keamanan atas uang yang dikumpulkannya dan juga pengembangan nilai dari uang yang dikumpulkannya.

Dalam mengelola kelompok simpan pinjam model ASKA, digunakan prinsip dan ciri-ciri sebagai berikut :

  • Kelompok ASKA bersifat otonom dan dikelola sendiri karena mengarah kepada kemandirian lembaga keuangan.
  • Keanggotaan kelompok terbatas antara 10-25 orang untuk memastikan rentang kendali pengelolaan kelompok.
  • Satu siklus tabungan dan pinjaman terbatas waktu yaitu antara 9-12 bulan.
  • Tabungan dilakukan dalam bentuk saham.
  • Saham diinvestasikan dalam bentuk pinjaman anggota dengan jangka waktu pinjaman tertentu dengan memberikan jasa kepada kelompok.
  • Dalam satu siklus, saham dikembalikan kepada anggota dengan proporsi pembagian didasarkan pada besaran saham.
  • Setiap anggota mempunyai buku anggota individual untuk memastikan jumlah saham dan merunut jumlah pinjaman.
  • Anggota diseleksi oleh anggota sendiri sehingga terjadi penguatan dalam kelompok.
  • Anggota wajib hadir di pertemuan kelompok.
  • Pertemuan kelompok rutin dilakukan dengan frekuensi yang tetap, misalnya seminggu sekali, setiap 10 hari sekali, dua minggu sekali atau sebulan sekali.
  • Kelompok memberikan penghargaan bagi anggota yang paling rentan (miskin), dengan menetapkan harga saham sesuai dengan kemampuan anggota yang paling rentan (miskin). Prakteknya di Indonesia, nilai saham @Rp10.000 – Rp25.000
  • Pengelolaan kelompok sangat transparan, karena menggunakan kotak besi dengan 3 kunci untuk menyimpan seluruh uang dan buku tabungan anggota, dimana kunci dipegang oleh 3 orang yang berbeda. Pembukaan kotak hanya untuk aktivitas simpan pinjam dan dilakukan saat pertemuan di depan seluruh anggota.
  • Kedisiplinan kelompok terbangun dengan baik karena tata kelola kelompok dibangun, disepakati dan dihidupi sendiri oleh anggota. Mekanisme membangun disiplin dilakukan dengan membuat aturan denda yang besarannya disepakati seluruh anggota.
  • Membangun dana sosial yang merupakan dana yang dapat dipakai untuk kondisi darurat terutama untuk jaminan kesehatan dan pendidikan.
  • Pembatasan keanggotaan dan masa bertugas pengelola, menjadikan kelompok selalu berada dalam rentang kendali yang optimal dan transfer ketrampilan yang terus menerus antara anggota satu dengan lainnya.
  • Kepastian mendapatkan keuntungan, karena setiap tahun, seluruh saham (tabungan) dibagikan kembali kepada anggota beserta dengan pengembangannya.

Kelompok simpan pinjam ini awalnya diterapkan hanya di wilayah layanan WVI di Jakarta. Seiring berjalannya waktu, model ASKA berkembang di Surabaya (Jawa Timur), Palu, Kabupaten Sigi, dan Tojo Una Una/Touna (Sulawesi Tengah), Kabupaten Pinrang (Sulawesi Selatan) serta Kabupaten Halmahera Utara (Maluku Utara). Pada wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Timur, kelompok yang awalnya hanya berjumlah lima kelompok, kini telah mencapai 66 kelompok dengan aset yang dikumpulkan oleh anggota lebih dari Rp3 miliar.  

 

Ditulis oleh Putri ianne Barus, Field Communications Officer Wahana Visi Indonesia

Artikel Terkait

09 Aug 2018

#ResponsGempaLombok Dukung Psikososial Warga Terdampak, WVI Ciptakan Ruang Sahabat Anak

#ResponsGempaLombok Dukung Psikososial Warga Terdampak, WVI Ciptakan Ruang Sahabat Anak

Lebih dari 131 orang meninggal dunia dan lebih dari 156.000 orang masih tinggal…

01 Aug 2018

Perubahan Metode Mengajar Tingkatkan Kehadiran Murid di Merauke

Perubahan Metode Mengajar Tingkatkan Kehadiran Murid di Merauke

Suster Maria (59) jauh-jauh datang dari Pulau Flores ke Kota Merauke untuk mengikuti…

30 Jul 2018

Buku Nikah Sebagai Saksi Sejarah

 Buku Nikah Sebagai Saksi Sejarah

Menikah dan memiliki legalitas atas suatu pernikahan bukanlah suatu kendala besar untuk sebagian…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube