DARI LAPANGAN

Memulai dari Diri Sendiri Sebelum Menjadi Panutan Bagi Orang Lain

6 hari yang lalu

Anastasia Bhebhe (43) asal Desa Uluwea, NTT, saat memanen sawi dari hasil Kebun Gizi untuk dikonsumsi keluarganya. Beliau merasa senang karena dapat memanfaatkan pekarangan rumahnya untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarganya.

Menjadi salah satu wanita yang menjabat dalam tatanan pemerintahan sebagai Kasie Pelayanan di Desa Uluwae memberikan beban tersendiri bagi Anastasia Bhebe (43). Dirinya merasa perlu untuk menjadi panutan masyarakat sekitarnya terutama untuk memberikan pengaruh positif bagi kehidupan masyarakat.

Guna memenuhi tujuannya tersebut, Mama Anas, begitu Anastasia biasa disapa, mencoba untuk memanfaatkan pekarangan sekitar rumahnya untuk dipenuhi sayuran bergizi. Hamparan aneka sayuran tersebut disebut juga sebagai Kebun Gizi.

Sejak Mei 2017 minggu ke-4 setelah mengikuti pelatihan Kebun Gizi-II yang difasilitasi oleh Wahana Visi Indonesia (WVI) Area Development Program (ADP) Ngada, Mama Anas mulai giat mempraktikan setiap instruksi pengolahan pekarangan yang berorientasi pada pertanian organik. Dengan menggunakan teknik penggalian dua kali (double digging) pada setiap bedeng sayuran yang berukuran 3 x 1 meter, ia mencoba berkebun dengan peralatan seperti abu dapur, sekam padi, batang pisang, dedaunan hijau, kotoran ternak, MOL (Mikroorganisme Lokal), pupuk bokashi padat dan cair serta pestisida alami.

Mama Anas kerap melakukan praktik tersebut seorang diri karena ia hanya tinggal bersama nenek dan putrinya.

BACA JUGA : BERBUAT BAIKLAH DAN BIARKAN TUHAN YANG BEKERJA

“Di rumah, hanya ada saya, nenek dan 1 anak perempuan saya. Jadi untuk kebun gizi, mulai dari proses persiapan bahan-bahan pembuatan bedeng, pupuk bokashi dan pestisida dilakukan oleh saya sendiri,” ujarnya.

Usahanya kini membuahkan hasil. Tepat pada Agustus 2017 silam, Mama Anas telah memiliki 2 jenis bedeng yaitu 4 bedeng gali dua kali (2 bedeng sawi, 1 bedeng pakcoy dan 1 bedeng bayam) serta 9 bedeng biasa dengan berbagai jenis sayur-mayur misalnya terung, kangkung, paria, tomat, kacang panjang, cabai; dan beberapa jenis bumbu antara lain daun bawang, daun seledri dan lengkuas.

Mama Anas juga sangat merasakan manfaat dari metode teknik gali dua kali, beliau menyatakan sayur-sayuran dari hasil teknik tersebut sangat baik. Selain itu tekstur tanah yang dihasilkan juga berbeda karena menggunakan pupuk organik dalam pengaplikasiannya.

“Dulu, saya biasa pakai pupuk urea untuk menyuburkan tanah namun setelah 6 bulan tanah menjadi keras. Kalau yang sekarang, tekstur tanah masih lembut dan tidak mudah pecah seperti dulu,” ungkapnya.

Kebun Gizi yang diciptakan Mama Anas ternyata memberikan perubahan pola makan di keluarga kecilnya. Sebelum adanya Kebun Gizi, ia mengaku hanya mengonsumsi sayuran yang sama setiap harinya. Namun, pasca kehadiran kebun tersebut di halaman rumahnya, Mama Anas telah memiliki beragam pilihan sayuran seperti pakcoy, bayam, kangkung, sawi, kacang panjang, dan sebagainya. Selain itu, Kebun Gizi juga berkontribusi pada kesehatan putri semata wayangnya.

“Anak saya pada bulan Juli 2017 berat badannya 14,5 kg dengan status gizi baik dan pada bulan Agustus 2017 naik 500 gram. Sekarang berat badannya menjadi 15 kg dengan status gizi baik,” jelasnya.

Mama Anas tidak pernah lelah memperbanyak bedeng-bedeng sayuran di pekarangan rumahnya. Bahkan ia berencana menambah tanaman lainnya agar bisa menginspirasi masyarakat sekitarnya untuk ikut membangun Kebun Gizi di rumah mereka.

 

Ditulis oleh Gloria Seran, Field Facilitator Wahana Visi Indonesia