BERITA & CERITA

Menabung Saham untuk Kebun Kakao

12 Mar 2019

Nurianti (wanita kedua dari kiri) bersama teman-temannya yang tergabung dalam VSLA Sipakamase di Pinrang Sulawesi Selatan

Menabung adalah hal yang biasa dilakukan oleh banyak orang. Namun, tidak bagi Nurianti. Ibu dari empat orang anak ini tidak terbiasa menyimpan penghasilan yang didapatkannya, hingga ia bergabung dengan VSLA (Village Saving Loan Accumulating), sebagai salah satu implementasi program Cocoa Life di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.

VSLA merupakan suatu kelompok masyarakat yang dibentuk bersama-sama agar masyarakat bisa menabung uang mereka dalam bentuk saham dan meminjam modal dari tabungan tersebut. Setiap anggota VSLA bisa membeli saham dan melakukan pinjaman sebanyak jumlah saham yang mereka miliki. Nilai saham dan maksimum pinjaman yang bisa dilakukan biasanya ditentukan di awal pertemuan. Pada wilayah Pinrang, aktivitas VSLA difasilitasi oleh Wahana Visi Indonesia (WVI) dan didukung oleh Mondelez.

Nurianti telah bergabung dengan VSLA Sipakamase di Desa Sipatuo, Pinrang sejak awal 2018. Ia menjadi orang yang bertugas menghitung uang di VSLA ini. Nurianti dan 16 anggota lainnya (3 pria dan 14 wanita) kerap berkumpul di hari Jumat untuk membeli saham ataupun melakukan. Pada kelompok ini, setiap anggota bisa membeli satu saham dengan harga Rp10.000 dengan maksimum pembelian lima saham di setiap pertemuan. 

Setiap anggota bisa meminjam uang sejumlah dua kali saham yang mereka miliki. Misalnya seorang peminjam memiliki 5 saham, maka ia hanya bisa meminjam sebesar Rp100.000. Pinjaman akan diberikan pada pertemuan ketiga.

Peminjam harus membayar bunga sebesar 2 persen dan mengembalikannya dalam empat bulan. Jika mereka tidak bisa melunasinya tepat waktu, maka peminjam harus membayar denda sebesar Rp500 per bulan berjalan. Selain itu, setiap anggota juga harus membayar dana sosial Rp2.000 di setiap pertemuan, yang nantinya dana tersebut bisa digunakan bagi kebutuhan mendadak yang bersifat sosial.

VSLA dilakukan dalam satu kali siklus. Satu siklus biasanya berjalan beberapa bulan. Saat ini, VSLA Sipakamase telah berada dalam siklus kedua. Berbeda dengan siklus pertama yang menggunakan cara manual untuk merekam arus uang dan pinjaman, di siklus kedua kali ini anggota bisa lebih mudah menghitung jumlah saham atau uang dan mengecek arus uang. Kali ini mereka menggunakan aplikasi daring VSLA, di mana semua anggota bisa melihat informasi secara transparan.

“Di siklus pertama kami menggunakan kertas untuk menuliskan jumlah saham atau uang. Tapi sekarang kami menggunakan aplikasi. Semua data tercatat di sana,” ujar Nurianti.

“Siklus kedua ini fokusnya untuk kakao dan memudahkan petani membeli pupuk atau pestisida. Bagi anggota VSLA, kami bisa meminjam uang dan membeli pupuk dengan harga murah langsung ke penjual pupuk yang juga adalah anggota VSLA,” ungkap wanita yang telah lima tahun mengelola kebun kakao ini.

Nurianti mengaku, keikutsertaannya dalam VSLA membuahkan banyak perubahan. Pelatihan terkait pengaturan keuangan yang diterimanya dalam program Cocoa Life, membuat Nurianti  mampu mengubah kebiasaan buruknya dalam mengatur keuangan keluarga.

Dulu saya tidak tahu caranya menabung. Dulu saya selalu belanja, baru menabung jika ada sisa. Sekarang kami mengetahui caranya bahwa jika ada penghasilan, sisihkan dahulu, jadi penghasilan tidak langsung habis, masih ada tersisa,” ungkapnya.

Kini, Nurianti mengaku tidak lagi mengalami kesulitan ekonomi di tengah bulan berjalan akibat kebiasaannya membelanjakan penghasilan secara keseluruhan. Dengan pelatihan yang diterimanya, Nurianti bisa mengatur biaya sekolah anak dan kebutuhan sehari-hari keluarganya, tanpa harus menghabiskan seluruh penghasilan per bulan.

Tak hanya terkait pengaturan keuangan, Nurianti dan anggota VSLA lainnya juga mendapatkan pelatihan program Cocoa Life lainnya berupa Community Action Plan, sosialisasi hak anak, pelatihan public speaking, pelatihan kepemimpinan, pelatihan pengelolaan ekonomi rumah tangga hingga pelatihan Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan).

 

Ditulis oleh : Putri ianne Barus, Field Communication Officer Wahana Visi Indonesia

 

#Mondelez #CocoaLife

Artikel Terkait

22 May 2019

Saya Tidak Perlu Lagi Membeli Sayuran

Saya Tidak Perlu Lagi Membeli Sayuran

Sayuran menjadi salah satu komponen penting untuk memenuhi kebutuhan gizi anak, khususnya bagi…

20 May 2019

Sponsorku Mengubahkanku

Sponsorku Mengubahkanku

Bukan keinginan Salma menjadi seorang anak sponsor Wahana Visi Indonesia (WVI).…

17 May 2019

Geliat Semangat Pascagempa 7.4 di Palu

Geliat Semangat Pascagempa 7.4 di Palu

Nadine (7) tampak berseri-seri ketika menunjukkan papan nama usaha cuci motor milik ayahnya.…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube