BERITA & CERITA

Menciptakan Penghidupan dengan Sayuran

04 Dec 2018

Mama Banja Ata hidup lewat sayuran yang dihasilkannya sendiri. Segala kebutuhan hariannya kini bisa terpenuhi dengan mata pencahariannya ini

Suasana di paranggang (pasar tradisional.red) di Desa Kadahang siang itu cukup ramai. Transaksi jual beli terdengar di sana dan sini. Di antara banyak penjual di pasar itu, tampak seorang wanita di sebuah lapak sayuran.

Dia adalah Mama Banja Ata Hau (42), si penjual sayuran. Ia menjual banyak sayuran seperti sayuran, kale, tomat, cabe, dan sebagainya. Pagi itu ia menjajakan barang dagangannya sembari melayani pembeli yang datang.

Mama Banja tidak malu bersaing dengan para penjual lainnya yang kebanyakan berasal dari Waingapu. Meskipun menjadi pedagang sayuran bukanlah pekerjaan terpandang di desanya, Mama Banja tetap menekuni pekerjaan tersebut sepenuh hati.

Selain aktif menjual sayuran, Mama Banja juga turut terlibat dalam aktivitas palotang bersama proyek IRED Wahana Visi Indonesia. Ia biasa beraktivitas setiap Jumat di minggu ketiga di Dusun Kadahang Barang.

“Saya mendapatkan bibit dari hasil door prizes saat melakukan palotang Mei lalu,” ceritanya.

Ia mengaku bahwa sayuran yang dihasilkannya saat ini tak lepas dari campur tangan petani lainnya yang bernama Mama Gun. Kelompok sayur-mayur yang dikelola bersama, membuat Mama Banja berhasil memberanikan diri mengatur kebun sayuran di rumahnya.

“Ketika menanam sayuran dan mendapatkan panen, kami bisa mendapatkan uang dengan cepat. Tanaman kami jual untuk membeli pakan babi, nasi dan kebutuhan rumah tangga lainnya,” jelas Mama Banja.

Selain dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, Mama Banja juga bisa menyisihkan biaya sekolah anak dari hasil penjualan sayur-mayur. Bahkan, anaknya kini bisa menempuh pendidikan perguruan tinggi dari hasil usahanya tersebut.

Mama Banja beranggapan kesuksesan petani dan penjual sayur tidak terlepas dari dukungan pemerintah Desa Kadahang, tempat ia berjualan. Pemerintah desa sedemikian aktif melakukan pengawasan selama proses jual beli, memberi jaminan keamanan dan melakukan pembersihan di lokasi penjualan.

Salah satu aparat desa yang aktif untuk melakukan monitoring adalah Mama Alto Deha Babang atau biasa disapa Mama Adi (38). Mama Adi sudah 4 tahun mengabdi di desa Kadahang sebagai Kaur Umum dan Tata Usaha yang berkewajiban untuk memonitor proses jual beli yang terjadi di Pasar Paranggang. Beliau sendiripun sangat bangga dengan kelompok perempuan yang dengan gigih menanam dan menjual hasil kebun ke pasar tradisional.

“Saya bangga melihat ibu-ibu yang giat menanam sayur, bahkan tanpa rasa malu juga gengsi. Mereka tetap tegar dalam mencari penghasian tambahan,” pungkasnya.

Beliau pun bercerita kalau pemerintah desa siap mendukung masyarakat untuk menanam sayur dengan membagikan bibit sayur. Pemdes juga berusaha untuk mengusahakan tempat penjualan sayur bagi masyarakat agar sayur tersebut lebih mudah ditemui oleh para pembeli.

“Saya mau ibu-ibu sibuk dalam hal positif dan tidak hanya menunggu pendapatan dari suami. Mau berapa juga penghasilan suami, kita ibu-ibu juga harus bekerja karena yang lebih tahu isi dapur adalah kita ibu-ibu,” ujar ibu 3 orang anak ini mengakhiri obrolan siang itu.

 

Ditulis oleh: Mardiyanti Taramata, IRED project officer of Wahana Visi Indonesia

Artikel Terkait

15 May 2019

Meningkatkan Panen Jagung dengan ‘Jalur Ganda’

Meningkatkan Panen Jagung dengan ‘Jalur Ganda’

Tahukah Anda? Bila di dalam satu keluarga mengonsumsi jagung setiap hari, maka diperlukan…

07 May 2019

Berjuang Demi ‘Emas’ di Tanah Sendiri

Berjuang Demi ‘Emas’ di Tanah Sendiri

Banyak teknologi pertanian yang kini berkembang di tengah pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan. Tidak…

06 Mar 2019

Ketika Pagar Menjadi Penyelamat Panen

Ketika Pagar Menjadi Penyelamat Panen

Kampung Tanganang, Desa Tanambas merupakan desa tetangga dari Desa Prailangina, Nusa Tenggara Timur.…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube