BERITA & CERITA

Meningkatkan Panen Jagung dengan ‘Jalur Ganda’

15 May 2019

Teknologi Jalur Ganda membantu para petani di Sumba Timur untuk menghasilkan lebih banyak jagung dalam setahun

Tahukah Anda? Bila di dalam satu keluarga mengonsumsi jagung setiap hari, maka diperlukan sekitar 1.200 kg jagung untuk memenuhi kebutuhan keluarga tersebut selama satu tahun. Faktanya, petani umumnya hanya mampu menghasilkan 300 hingga 500-an kg per tahunnya. Hal ini menunjukkan betapa mimpi swasembada jagung masih harus diperjuangkan di Indonesia.

Di NTT, titik terang mulai tampak dengan pengenalan teknologi double track (DT) atau jalur ganda yang sejauh ini telah memberikan bukti yang menjanjikan terhadap peningkatan produktivitas jagung.

Tony Basuki, salah seorang fasilitator yang juga peneliti pertanian di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi NTT menuturkan bahwa teknik ini mengatur persaingan unsur hara, gas (karbondioksida dan oksigen yang diperlukan tanaman) dan cahaya matahari agar tanaman dapat tumbuh optimal.

“Polanya menanam satu lubang satu biji. Jadi saat benih jagung tumbuh, maka tidak ada perebutan makanan. Selain itu, jagung merupakan tanaman yang memerlukan sinar matahari penuh. Tidak hanya itu saja, DT juga mengatur jarak antar tanaman jagung,” jelas Tony kepada para petani di Desa Wudipandak.

Tertarik dengan penjelasan Tony, kelompok tani Waturara yang beranggotakan 19 orang ini memutuskan untuk membuat suatu kebun percontohan. Kebun percontohan seluas 8 are tersebut sengaja dibuat di musim panas, agar hasilnya dapat segera dibandingkan. Jika berhasil baik, maka bisa segera dipraktikkan di kebun masing-masing saat musim hujan tiba.

Kelompok kemudian memilih lahan. Salah satu anggota kelompoknya yakni Simon Londu Tay (42) karena memiliki kriteria yang cocok, antara lain kebunnya sudah berpagar dan dekat dengan sumber mata air.

“Memang, kita ada rasa takut dan cemas kalau-kalau jagungnya tidak tumbuh karena ini teknologi masih baru di Sumba Timur. Tapi saya tetap tertarik untuk mencoba,” cerita Simon.

Ia pun menjelaskan bahwa umumnya para petani di tempatnya menanam sebanyak 4 hingga 5 biji jagung dalam satu lubang dan hasil yang diperoleh sekitar 300 kg saja.

Mulai tanam di September 2018, para petani di kelompoknya menyaksikan suatu yang menggembirakan. Jagung tumbuh dengan segar. Batangnya terlihat besar dan menampung rata-rata dua hingga tiga buah jagung. Meski demikian, mereka juga mendapat gangguan dari hewan, terutama anjing, yang memakan buah jagung muda. Pada Desember 2018, kelompok Waturara berhasil mendapatkan sekitar 900 kg jagung pipil dari kebun percontohan tersebut.

Hasil panen dibagikan secara merata kepada semua anggota kelompok. Sementara sisanya dijadikan bibit dan dijual seharga Rp8.000/kg.

Melihat hasil panen yang dua kali lipat dibandingkan cara tanam biasanya ini, membuat banyak petani di Desa Wudipandak segera menirunya. Simon bahkan memperluas lahan tanam jagungnya menjadi 20-25 are.

Written by: Staf Area Program Sumba Timur Wahana Visi Indonesia

Artikel Terkait

09 Aug 2019

Menghidupkan Tanah Gersang Sekolah

Menghidupkan Tanah Gersang Sekolah

Botol air mineral bekas yang berisi air terikat di tiap pohon yang tertanam…

30 Jul 2019

Menjangkau Jiwa untuk Kelola Lahan Secara Organik

Menjangkau Jiwa untuk Kelola Lahan Secara Organik

Tangannya cekatan membersihkan rumput-rumput yang mulai tumbuh degan subur di antara tanaman terung…

25 Jul 2019

FOTO: WVI Sumba Timur Rayakan HAN 2019 dengan Kasih Sayang

FOTO: WVI Sumba Timur Rayakan HAN 2019 dengan Kasih Sayang

Sumba Timur merupakan kabupaten di NTT yang menerima pelaporan kasus kekerasan tertinggi terhadap…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube