BERITA & CERITA

Mimpi untuk Gereja Layak Anak

05 Sep 2019

Bapak Kuku sebagai salah satu peserta yang terlibat dalam lokakarya Gereja Layak Anak

Dalam rangka meningkatkan peran serta dan kapasitas gereja dalam pemenuhan hak-hak anak, terutama dalam upaya pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap anak, Wahana Visi Indonesia (WVI) Area Program Bengkayang bekerja sama dengan perwakilan gereja-gereja di Bengkayang mengadakan lokakarya Gereja Layak Anak di Kecamatan Sungai Betung.

Acara yang melibatkan perwakilan pendeta gereja-gereja Kristen dan Katolik, ketua umat serta para guru sekolah minggu ini dilakukan demi mendukung terlaksananya Desa Layak Anak dan Kabupaten Layak Anak di Bengkayang.  

Lewat lokakarya ini gereja diajak untuk menjadi tempat dalam menyuarakan hak-hak anak serta mendukung anak dalam setiap kegiatan termasuk pengambilan keputusan di rumah. Gereja juga diharapkan dapat menjadi garda depan yang peka melihat kebutuhan terbaik bagi anak.  

Kuku, salah satu peserta yang juga sebagai Gembala Sidang Gereja PIBI Getsemani Kawan mengatakan, keikutsertaannya dalam lokakarya Gereja Layak Anak membuatnya kembali tergugah untuk memenuhi hak-hak anak. Meski begitu, menurutnya pewujudan Gereja Layak Anak tidak bisa dilakukan jika tidak adanya dukungan dari pihak-pihak lainnya.

“Untuk mewujudkan keinginan tersebut perlu komitmen yang tinggi dari semua pihak mulai dari pemerintah desa, PATBM, KPA dan rohaniawan. Karena sebaik apapun sistem yang dibangun di desa  takkan berhasil jika tidak ada komitmen dari pihak yang bersangkutan. Dan memenuhi hak anak adalah tanggungjawab bersama, sehingga perlu kerjasama dari semua pihak,” jelasnya.  

Bagi Kuku, Gereja Layak Anak bisa terwujud jika semua pihak menggunakan kasih sebagai motor penggerak.

“Semoga ke depannya ada pihak yang konsen untuk memperhatikan gereja-gereja secara lebih konkret, tidak hanya memberikan edukasi yang bersifat umum sehingga bisa mendukung terwujudnya gereja yang layak anak,” pungkasnya.

Pada lokakarya ini, WVI mengajak setidaknya 37 gereja di Bengkayang dengan berbagai kriteria seperti; gereja yang minim kegiatan untuk anak, gereja dengan pendanaan terbatas, serta gereja yang masih kekurangan kapasitas serta peranan orang tua dalam melindungi anak. Semua ini dilakukan demi mengubah gereja untuk lebih peka terhadap berbagai kepentingan anak serta terus mengupayakan perlindungan anak dimulai dari gereja.

 

Ditulis oleh: Timotius Winner, Technical Program Coordinator Area Program Bengkayang dan Putri ianne Barus, Communications Officer Wahana Visi Indonesia

 

Artikel Terkait

06 Sep 2019

Anak Sikka Lakukan Karnaval Demi Bebas dari Kekerasan

Anak Sikka Lakukan Karnaval Demi Bebas dari Kekerasan

Bersamaan dengan perayaan kemerdekaan Republik Indonesia, Agustus 2019 lalu, Wahana Visi Indonesia (WVI)…

02 Sep 2019

Optimis Menuju Desa Tanpa Budaya BAB Sembarangan

Optimis Menuju Desa Tanpa Budaya BAB Sembarangan

Sekretaris Desa Merapi Umar (49) adalah seorang yang sangat pro terhadap kehidupan anak…

21 Aug 2019

Cegah Stunting dan Stop Kekerasan Anak Jadi Tema Perayaan HUT RI ke-74

Cegah Stunting dan Stop Kekerasan Anak Jadi Tema Perayaan HUT RI ke-74

Memperingati HUT RI ke-74 di tingkat Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, NTT, Wahana Visi…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube