BERITA & CERITA

Selalu Ada Harapan di Tengah Keterbatasan

05 Apr 2019

Neni saat mengayun AH di tempat kesayangannya. AH menikmati hari-hari bersama Neni dengan beraktivitas seperti ini.

#SatuHatiUntukSulteng –Tak biasanya Palu diguyur hujan. Panas terik yang biasa melanda Palu hari ini berganti dengan hujan lebat. Sekelompok anak-anak asyik bermain air ditengah guyuran hujan deras. Saat Neni (38) berkunjung, AH (5) tengah bergabung bersama anak-anak sebayanya bermain hujan. Girang tawa mereka terdengar dari kejauhan.

Neni memanggil AH. AH hanya menoleh dan tetap melanjutkan bermain air bersama dengan temannya. Neni memang rutin datang ke rumah AH. Sebagai kader yang rutin mendampingi AH, Neni berkewajiban untuk menjenguk dan memonitor kondisinya.

Terakhir pasca kontrol, kondisi AH sudah semakin membaik, ia sudah tidak lagi memakan kayu ataupun plastik. Ia kini juga bisa merespon ketika ada orang memanggilnya, meski tidak seperti anak-anak pada umumnya namun perkembangan ini cukup signifikan dari sebelumnya. Jadwal kontrol rutin yang sebelumnya dilakukan dua kali seminggu kini hanya perlu dilakukan satu bulan sekali. Meski demikian proses treatment yang dijalani oleh AH mengharuskan dia untuk tetap bergantung pada obat-obatan.

“Kalau dia telat mengkonsumsi obat, biasanya giginya akan gemelutuk seperti gatal ingin makan kayu lagi,” cerita Neni.

Dokter juga menyarankan agar proses treatment ini dibantu dengan pola makan yang sehat dan memastikan asupan konsumsi buah dan daging harus rutin diberikan. AH juga disarankan untuk menghindari konsumsi cokelat.

Dari hasil pemeriksaan yang rutin dilakukan, dokter menyatakan bahwa AH positif mengalami autisme yang juga didukung dengan gangguan PICA. PICA adalah gangguan makan yang ditandai dengan perilaku makan yang tidak wajar, yaitu keinginan memakan suatu benda yang sebenarnya tidak untuk dimakan. Hal ini kian menjadi pasca bencana terjadi, ditambah ketidak pahaman orangtua bagaimana mengatasi hal ini.

Sebagai kader yang pernah mendapat pelatihan tentang perlindungan anak, Neni tahu persis bahwa setiap anak berhak untuk bisa hidup utuh sepenuhnya sama seperti anak-anak yang lain. Hingga saat ini Neni masih tetap semangat mendampingi AH dan ibunya setiap kali harus kontrol ke dokter. Neni menyadari keterbatasan kondisi keluarga AH membuat akses informasi dan cara mendapatkan pelayanan yang benar tidak diketahui oleh orangtua AH.

Ibu AH memiliki tiga orang anak. Sebagai ibu rumah tangga, aktivitas sehari-harinya adalah mengurus kebutuhan rumah dan anak-anaknya. Suaminya yang bekerja sebagai buruh harian lepas jarang berada di rumah di siang hari.

“Saya mendampingi AH dan ibunya untuk mengurus BPJS nya, hanya karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk rutin membayar premi bulanan, saat ini saya bersama dengan pemerintah desa sedang menguruskan BPJS yang nantinya bisa sepenuhnya disupport oleh pemerintah,” terang Neni menceritakan proses pendampingannya saat ini.

Dari hasil pemantauan yang rutin ia lakukan, nantinya akan ia laporkan ke PATBM (Perlindungan Anak Total Berbasis Masyarakat) di tingkat kecamatan. PATBM inilah nantinya yang akan menjadi jembatan ke pihak Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) dalam mengambil langkah strategis dalam penanganan kasus anak. PATBM merupakan sebuah gerakan dari jaringan atau kelompok warga pada tingkat masyarakat yang bekerja secara terkoordinasi dalam upaya perlindungan anak.

Sebagai seorang ibu, Neni juga bisa merasakan harapan para orangtua agar anak-anaknya bisa hidup dan tumbuh kembang seperti anak-anak lain di lingkungannya. Seringkali pola asuh dan cara orangtua bereaksi terhadap permasalahan yang dialami oleh anak kerap dirasa kurang tepat. Hanya saja, hal ini sering terjadi mengingat keterbatasan informasi dan pemahaman orangtua terkait pola asuh yang tepat.

“Saya senang bisa mendampingi anak-anak yang memang memerlukan bantuan karena mereka juga memiliki hak untuk mendapat perlakukan yang layak sama seperti anak-anak lainnya,” ujar Neni menceritakan harapannya.

Sebelumnya, AH kerap mendapat perundungan dari para anak-anak tetangga karena ia dianggap berbeda dan kebiasaannya yang kerap dianggap tidak lazim. Hal ini membuat Ibu AH lebih memilih mengurung AH tinggal saja di dalam rumah. Namun, sekarang karena Neni membantu pendampingan termasuk juga memberikan pemahaman perlahan kepada masyarakat, perlahan-lahan anak-anak mulai bermain kembali bersama AH.

Ibu AH merasa senang dengan perkembangan yang terjadi pada anaknya. Awalnya ia sempat putus asa tentang bagaimana perkembangan AH kedepannya. Setidaknya kini ia tahu apa yang terjadi dengan anaknya, dan langkah apa saja yang mesti ia lakukan untuk membantu tumbuh kembang anaknya. Meski di tengah keterbatasan ekonomi dan minimnya informasi, Ibu AH tetap memiliki harapan anaknya bisa kembali normal sepenuhnya, bisa sekolah dan juga beraktivitas selayaknya anak-anak yang lain.

 

Ditulis oleh: Melya Findi Astuti, Communication Officer of CENTRE Wahana Visi Indonesia

Artikel Terkait

13 Sep 2019

100 Balita Meriahkan Pekan ASI di Pedalaman Asmat

100 Balita Meriahkan Pekan ASI di Pedalaman Asmat

Pekan ASI Sedunia yang dirayakan pada minggu pertama bulan Agustus setiap tahunnya, merupakan…

11 Sep 2019

Air Terjun Kini Mengalir ke Rumah

Air Terjun Kini Mengalir ke Rumah

#SatuHatiUntukSulteng - Kekeringan bukanlah sesuatu yang baru bagi warga Desa Wombo…

10 Sep 2019

WVI Dorong Pemda Sulteng Berkomitmen untuk Perda Pencegahan Perkawinan Anak

 WVI Dorong Pemda Sulteng Berkomitmen untuk Perda Pencegahan Perkawinan Anak

Isu perkawinan anak sempat merebak belakangan ini setelah beberapa media mengangkat isu tersebut.…

Ikuti Kami

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube