Bayi Lahir dengan Kesulitan Menyusu di Posko Bencana Sumut, Staf Kesehatan bagi Edukasi Perah ASI
Anak-anak penyintas bencana banjir dan longsor di Tapanuli Tengah, Sumut
Liputan6.com, Jakarta - Bencana banjir bandang dan longsor di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara (Sumut) menyisakan duka dan cerita perjuangan para korban terdampak.
Salah satunya datang dari seorang bayi yang lahir di posko pengungsian. Menurut staf spesialis kesehatan Wahana Visi Indonesia (WVI) Vita Aristyanita, bayi ini lahir dengan kesulitan menyusu.
Merespons kasus ini, Vita pun mengarahkan ibu dan ayah bayi untuk memerah air susu ibu (ASI) dan kemudian memberi ASIP (Air Susu Ibu Perah) dengan menggunakan sendok.
“Saya tidak pernah terpikir sebelumnya kalau bisa perah dan kasih ASI pakai sendok. Berarti bayi saya tidak perlu susu (formula),” ujar sang ibu seperti mengutip keterangan yang diterima Health Liputan6.com, Selasa (23/12/2025).
Vita adalah salah satu tim respons bencana WVI yang telah berada di Tapanuli Tengah sejak 9 Desember 2025. Tugasnya mendampingi anak-anak dan masyarakat yang terdampak banjir dan longsor pada akhir November lalu.
Sebelum tim Vita, sudah ada tim WVI lain yang datang hampir 3 pekan lalu. Hingga kini, tim tersebut telah menjangkau sekitar 5.000 penerima manfaat melalui berbagai upaya. Termasuk penyaluran 24.000 liter air bersih, pemasangan 130 meter pipa untuk memenuhi kebutuhan dasar, dan pembukaan dapur PMBA (Pemberian Makan Bayi dan Anak)/Balita. PMBA telah mendistribusikan 2.208 paket makanan bergizi hingga Selasa, 23 Desember 2025.
Bencana Lumpuhkan Kehidupan Anak dan Masyarakat Tapanuli Tengah
Technical Sectors Director WVI, Yacobus Runtuwene, menyampaikan bahwa bencana ini melumpuhkan kehidupan anak dan masyarakat di Kabupaten Tapanuli Tengah.
“Setelah hampir tiga minggu respons tanggap bencana kami lakukan, kami menyaksikan langsung bagaimana bencana ini melumpuhkan kehidupan anak dan masyarakat di Kabupaten Tapanuli Tengah,” ujarnya.
Melihat dampak yang ada di lapangan, pihaknya berencana memperpanjang durasi tanggap bencana hingga Juni 2026 dan juga akan bergerak ke Aceh.
Pengungsian Jauh dari Kata Layak
Saat ini, mayoritas masyarakat masih berada di tempat pengungsian yang jauh dari kata layak. Akses transportasi dan logistik juga masih cukup menantang.
Kondisi ini mempersulit masyarakat untuk kembali menjalani aktivitas seperti semula. Juga mempersulit akses bantuan yang ditujukan untuk mereka.
Guna memberi dukungan psikososial pada para anak, pihak Yacobus mengaktifkan Ruang Ramah Anak. Setidaknya, layanan ini bisa menjangkau 1.404 anak di masa tanggap bencana.
Ruang Ramah Anak membantu anak-anak pulih dari trauma melalui aktivitas bermain, belajar, dan pendampingan agar semangat mereka tetap terjaga usai bencana.
Sebanyak 687 balita pun telah menerima program kesehatan untuk mengurangi risiko kurang gizi. Pendampingan dan konseling juga dilakukan kepada para ibu agar dapat terus memberi ASI.
Ingin Kembali ke Rumah
Salah satu bocah yang terdampak bencana, Nia, mencurahkan perasaan bahwa dirinya ingin kembali ke rumah.
“Rumahku kena banjir dan longsor sehingga tidak bisa ditempati lagi. Dua hari, keluargaku menginap di gereja terdekat. Kemudian, kami pindah ke pengungsian,” kata Nia.
Meski begitu, Nia tetap bersyukur karena di pengungsian ia memiliki banyak teman dan banyak bantuan datang.
“Meski situasi ini sulit, aku bersyukur berada di sini karena banyak teman, banyak bantuan, stok makanan cukup, bersih tempatnya, dan bisa ikut kegiatan dari kakak-kakak WVI. Harapanku semoga semuanya baik-baik saja dan aku bisa kembali ke rumah,” harapnya.
Sumber: Bayi Lahir dengan Kesulitan Menyusu di Posko Bencana Sumut, Staf Kesehatan bagi Edukasi Perah ASI | Liputan6.com