Tabung Sedikit, Lama-Lama Jadi Bukit

Tabung Sedikit, Lama-Lama Jadi Bukit

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Indonesia melalui panduan yang berjudul Buku Perencanaan Keuangan menjelaskan tentang apa itu perencanaan keuangan. Perencanaan keuangan merupakan seni pengelolaan keuangan yang dilakukan oleh individu atau keluarga untuk mencapai tujuan yang efektif, efisien, dan bermanfaat sehingga keluarga tersebut menjadi keluarga yang sejahtera. Secara umum, aktivitas yang dilakukan adalah proses pengelolaan penghasilan untuk mencapai tujuan finansial seperti keinginan memiliki dana kelahiran dan pendidikan untuk anak.

Dalam panduan tersebut juga disebutkan mengenai sumber utama tidak tersedianya uang tunai di keluarga adalah tidak terbiasanya menyisihkan uang penghasilan untuk ditabung. Padahal, dengan menyisihkan sebagian uang penghasilan, tiap keluarga dapat memiliki dana cadangan yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Nuriani (38), seorang ibu yang tinggal di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan menjelaskan, “Masyarakat di sini belum benar-benar memahami pentingnya menyisihkan uangnya untuk ditabung dan mengatur keuangan keluarganya dengan baik,”. 

Nuriani tinggal di daerah yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani. Dengan penghasilan yang tergantung pada hasil panen, para petani ini sebaiknya memiliki tabungan.  Dana ini dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan di saat gagal panen atau hasil panen tidak menentu sehingga kondisi keuangan keluarga pun lebih terjamin dan terencana. 

Dimulai dari isu pengelolaan keuangan keluarga inilah Wahana Visi Indonesia bekerja sama dengan Mondelez Internasional - melalui program Cocoa Life - menginisiasi kegiatan Village Saving Loan Association (VSLA). Kegiatan ini merupakan versi sederhana dari koperasi simpan-pinjam. Masyarakat desa bisa mendaftar sebagai anggota tanpa persyaratan yang terlalu rumit. Selain itu, persyaratan dan peraturan VSLA bisa disesuaikan dengan konteks masyarakat di daerah tersebut. VSLA biasanya terdiri dari 10-25 anggota. Selain untuk dewasa, VSLA juga bisa beranggotakan anak-anak. 

Pada tahap awal, Wahana Visi Indonesia melakukan sosialisasi tentang Pengelolaan Ekonomi Rumah Tangga (PERT). Kesadaran masyarakat akan pentingnya mengatur keuangan keluarga perlu ditingkatkan terlebih dahulu. Selanjutnya, masyarakat baru diperkenalkan tentang VSLA. Masyarakat di Kabupaten Enrekang kemudian sepakat untuk membuat VSLA bagi para petani dan anak-anak petani di desa. Tujuan VSLA di kabupaten ini adalah menjadi lembaga yang membantu masyarakat mengelola ekonomi rumah tangga agar anak-anak bisa hidup sejahtera. Setelah terbentuk VSLA untuk dewasa, terbentuk juga VSLA anak di salah satu desa di Kabupaten Enrekang.

VSLA yang diberi nama Anak Bayam ini beroperasi sejak November 2019. VSLA Anak Bayam terbentuk karena inisiatif anak-anak yang melihat orang tuanya merasakan manfaat dari kelompok simpan-pinjam ini. Anak-anak ini juga terbiasa ikut dan melihat aktivitas simpan-pinjam orang tuanya sehingga mereka sudah terbiasa dengan cara kerja VSLA. Awalnya kelompok ini masih beranggotakan 18 anak tetapi seiring berjalannya waktu anggotanya bertambah menjadi 47 anak. Jumlah tabungan atau saham yang disepakati setiap pertemuan adalah sebesar Rp. 7.000,-. VSLA Anak Bayam melakukan pertemuan rutin setiap satu minggu sekali. 

Dengan adanya VSLA Anak Bayam, anak-anak terbiasa menyisihkan uang jajan untuk ditabung. “Sejak adanya kelompok ini, anak di kelurahan saya mulai rajin menyisihkan uang jajan yang diberikan orang tua. Misalnya, saya diberi uang jajan oleh Ibu sebesar Rp 10.000,- tiap hari. Saya sisihkan Rp 2.000,-. Jadi nanti waktu jadwal menabung, saya sudah punya uangnya. Biasanya ada tambahan juga yang orang tua saya berikan agar bisa menabung lebih banyak di VSLA. Uang yang saya dapat dari saudara atau keluarga lainnya pun saya simpan untuk saya tabung di VSLA. Saya senang sekali dan termotivasi untuk banyak menabung sejak dini,” ujar Nur Rahmadani (13), salah satu anggota. 

Orang tua Nur Rahmadani pun menjadi anggota VSLA untuk dewasa di kelurahan tempat mereka tinggal. Selain untuk pribadi, Nur Rahmadani pun merasakan manfaat VSLA bagi keluarganya. Orang tuanya jadi memiliki tabungan yang dapat menjamin tersedianya dana pendidikan untuk Nur Ramhadani. Kini, anak-anak dan orang tua semakin giat dan termotivasi menabung untuk dapat memenuhi berbagai kebutuhan keluarga, terutama kebutuhan anak-anak.

Perencanaan dan pengelolaan keuangan keluarga dapat dimulai dengan meningkatkan kesadaran dan kegemaran akan menabung. Tiap keluarga dapat mulai merencanakan dan mengelola keuangan keluarga dengan melakukan tiga langkah mudah di bawah ini :  

  1. Tetapkan apa saja tujuan keuangan dalam rumah tangga. Seperti VSLA yang ada di Kabupaten Enrekang, tujuan utamanya adalah untuk membantu pengelolaan ekonomi keluarga petani yang fokus pada kesejahteraan anak. Sehingga VSLA ini dapat menjadi solusi agar anak-anak petani di Enrekang dapat hidup dalam kondisi keluarga yang lebih terjamin secara ekomoni. 

  2. Lakukan periksa kondisi keuangan keluarga setidaknya satu tahun sekali. Mengacu pada panduan Buku Perencanaan Keuangan yang diterbitkan OJK, keluarga sebaiknya dapat mengetahui pos keuangan mana yang tidak sehat. Lebih cepat terdeteksi pos mana yang tidak sehat akan lebih baik. 

  3. Buatlah anggaran rumah tangga secara bulanan. Catatan anggaran setiap bulan dapat membantu keluarga dalam mengalokasikan dan mengelola penghasilan yang diterima. Anggaran rumah tangga sebaiknya mengikutsertakan porsi tabungan dan investasi. Hal ini dapat membantu tercapaiknya impian-impian keluarga serta menjadikan keuangan keluarga lebih sehat dan sejahtera.

 

 

Sumber : https://sikapiuangmu.ojk.go.id/FrontEnd/images/FileDownload/25_Buku_Perencanaan_Keuangan.pdf

Penulis : Oktavianti Mariana (Field Facilitator)

Penyunting : Mariana Kurniawati (Communication Executive)

 


Artikel Terkait