Bahaya Hoaks, Ancaman Nyata dalam Mitigasi Bencana

Bahaya Hoaks, Ancaman Nyata dalam Mitigasi Bencana

Penyebaran hoaks, misinformasi, dan disinformasi menjadi salah satu faktor penghambat dalam mitigasi bencana.

Informasi yang tidak tepat atau hoaks, baik yang disebarkan secara sengaja maupun tidak sengaja, dapat menimbulkan dampak sekunder. Hal ini tentunya memperparah risiko bencana.

General Manager Zona Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara Barat, Wahana Visi Indonesia (WVI) Johny Noya mengatakan, hoaks terkait kebencanaan berpotensi menimbulkan kepanikan dan membuat resiliensi masyarakat turun.

Bahkan akan menyebabkan ketidakpedulian karena ada hal-hal tidak tepat yang diberitakan,” ujar Johny, dalam workshop Aksi Antisipatif untuk Pengurangan Risiko Bencana, di Cawang, Jakarta Timur, Jumat (20/10/2023).

Johny menekankan pentingnya penguatan kapasitas masyarakat, pemerintah, dan elemen terkait agar mampu menyampaikan berita atau informasi dengan tepat. Dengan begitu, informasi terkait kebencanaan yang berasal dari pemangku kepentingan, seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bisa sampai ke masyarakat secara tepat.

“Masyarakat bisa tahu kepada siapa dia akan mendapatkan informasi yang tepat itu, sehingga tahu apa yang akan dilakukan. Ketika bencana itu terjadi, ini akan meminimalisasi korban yang timbul, baik jiwa maupun materi,” tutur dia.

Salah satu upaya WVI memperkuat kapasitas masyarakat dan mengurangi risiko bencana yakni melalui program Anticipatory Action for Disaster Mitigation.

Program ini berupaya meningkatkan aksi dini masyarakat berbasis prakiraan cuaca yang inklusif dan tanggap gender, serta menghasilkan protokol aksi antisipasi.

Hal penting dalam protokol aksi antisipasi adalah informasi peringatan dini yang dikeluarkan BMKG dan disebarluaskan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Kendati demikian, tidak tertutup kemungkinan masyarakat juga terpapar dengan informasi-informasi keliru.

Oleh sebab itu, WVI menggandeng Tim Cek Fakta Kompas.com untuk memberikan edukasi dan sosialisasi mengenai cara melindungi diri dari hoaks terkait bencana.

Anticipation Project Team Leader Maria Natalia Pratiwi mengatakan, berdasarkan pada pengalaman sebelumnya, hoaks terkait bencana cukup banyak beredar di masyarakat.

“Di sini WVI berupaya melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat agar dapat memilah mana informasi yang benar dan mana informasi yang tidak benar,” kata Maria.

Maria mencontohkan, konten hoaks yang banyak beredar misalnya, video peristiwa bencana dengan narasi mengenai lokasi dan waktu yang keliru.

“Banyak sekali berita-berita hoaks itu dari video. Video kejadian di tempat A, tapi seolah-olah narasinya dibuat itu adalah kejadian di tempat B. Itu sangat berbahaya dan dapat menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat,” ucapnya.

Dengan meningkatnya kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam memilah informasi, Maria berharap risiko bencana dapat berkurang, sehingga dampak yang dirasakan dapat menurun.

“Kami berharap bisa melakukan sosialisasi dan edukasi lebih luas lagi ke masyarakat, dan itu berarti literasi digital sangat penting untuk masyarakat,” ujar dia.

Dalam workshop tersebut hadir belasan warga dan anggota tim siaga bencana tingkat rukun warga (RW) Kelurahan Kampung Melayu, serta perwakilan dari pemerintah kelurahan.

Ada pula perwakilan dari BMKG, Damkar Kelurahan Kampung Melayu, BPBD, dan Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Timur.

Anticipation Project Team Leader Wahana Visi Indonesia (WVI) Maria Natalia Pratiwi dalam workshop Aksi Antisipatif untuk Pengurangan Risiko Bencana, di Cawang, Jakarta Timur, Jumat (20/10/2023).

Anticipation Project Team Leader Wahana Visi Indonesia (WVI) Maria Natalia Pratiwi dalam workshop Aksi Antisipatif untuk Pengurangan Risiko Bencana, di Cawang, Jakarta Timur, Jumat (20/10/2023).(KOMPAS.com/KRISTIAN ERDIANTO)

Kenali agar tak mudah dibohongi

Berdasarkan pemaparan Editor Cek fakta Kompas.com Bayu Galih Wibisono, penyebaran hoaks dalam situasi bencana dapat menyebabkan kepanikan dan dampaknya mitigasi terhambat.

Menurut dia, hoaks dibuat untuk menghilangkan kepercayaan terhadap pihak berwenang. Ia mencontohkan hoaks dengan narasi “Wapres imbau warga miskin bersedekah untuk cegah bencana”.

Klaim tersebut dibagikan dalam bentuk tangkapan layar judul berita. Namun, setelah ditelusuri narasi tersebut tidak benar dan merupakan konten hasil rekayasa.

Ada tiga modus penyebaran hoaks yang dapat diidentifikasi. Pertama, daur ulang atau konten lama diproduksi lagi dengan keterangan yang disesuaikan masa kini.

Kedua, manipulasi gambar yang memperkuat narasi. Padahal, bisa jadi gambar tersebut tidak ada kaitannya dengan peristiwa yang dinarasikan dan hanya untuk memancing rasa penasaran.

Contohnya, narasi soal “banjir 4 meter yang merendam Balai Kota DKI Jakarta”. Namun, video sebuah gedung terendam air bukanlah gedung Balai Kota.

Ketiga, narasi spekulatif soal konspirasi. Modus seperti ini pernah ditemukan pada narasi terkait penyebab gempa di Turkiye dan Suriah pada Februari lalu.

Ketiga, narasi spekulatif soal konspirasi. Modus seperti ini pernah ditemukan pada narasi terkait penyebab gempa di Turkiye dan Suriah pada Februari lalu.

Narasi yang beredar menyebutkan, bencana itu terjadi karena serangan sistemik untuk melawan orang-orang Kurdi. Padahal, gempa yang terjadi merupakan gempa tektonik.

Lantas, apa yang bisa dilakukan ketika menemukan konten yang dicurigai sebagai hoaks? Langkah pertama, telusuri dari mana konten itu bermula.

Setelah itu, cek sumber informasi, apakah sahih, kredibel dan bisa dipertanggungjawabkan. Kemudian, periksa keterangan waktu, lokasi peristiwa, dan motivasi penyebar hoaks.

Kelima hal ini merupakan pilar dasar dalam verifikasi agar tidak sembarangan menyebarkan informasi.

 

https://www.kompas.com/cekfakta/read/2023/10/24/084600182/bahaya-hoaks-ancaman-nyata-dalam-mitigasi-bencana?page=all#page2


Artikel Terkait