Citi Indonesia Bantu Alat Pertanian dan Sumur Bor Petani Sumba Timur

Citi Indonesia Bantu Alat Pertanian dan Sumur Bor Petani Sumba Timur

Oleh KORNELIS KEWA AMA/FRANSISKUS PATI HERIN

WAINGAPU, KOMPAS — Citi Indonesia menggandeng Yayasan Wahana Visi Indonesia mendonasikan alat pertanian, sumur bor, pupuk, dan bibit bagi petani di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, dalam rangka memulihkan ekonomi warga sektor pertanian setelah dihantam badai Seroja, 3-5 April 2021, dan pandemi Covid-19. Bantuan ini diprioritaskan bagi 168 kepala keluarga petani yang benar-benar membutuhkan dukungan saat memasuki puncak kemarau.

Country Head of Corporate Affairs Citi Indonesia Puni Ayu Anjungsari dalam kegiatan webinar dengan Pemda Sumba Timur, perwakilan petani, dan Wahana Visi Indonesia, di Waingapu, Jumat (23/7/2021), mengatakan, keterlibatan Citi Indonesia sebagai bagian dari perwujudan tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat Sumba Timur. Ini bagian dari Citi Global Community Day tahun 2021 ke-16.

Citi Indonesia menurut Anjungsari menggandeng Yayasan Wahana Visi Indonesia mendonasikan dana senilai Rp 200 juta untuk pengadaan alat pertanian, pupuk, sumur bor, dan benih serta pompa air. Bantuan ini diserahkan kepada 168 kepala keluarga, yang tergabung dalam kelompok tani di Sumba Timur. ”Peristiwa itu menyebabkan bendungan dan irigasi Kambaniru rusak berat sampai hari ini,” katanya.

”Citi Global Community Day” merupakan kegiatan tahunan Citibank Indonesia, cabang yang dimiliki Citigrup, Inc-New-York, Amerika Serikat. Citibank hadir di Indonesia sejak 1968 dan merupakan salah satu bank berjejaringan internasional, terbesar di Indonesia.

Citibank mengoperasikan 10 cabang di enam kota besar. Citibank memiliki transaksi konsumen sekitar 33.000 titik pembayaran, dan jaringan distribusi korporasi sekitar 6.000 lokasi di 34 provinsi, dengan 70.000 anjungan tunai mandiri.

Kertelibatan Citi Indonesia tahun 2021 mengusung tema “food insecurity”, terfokus pada masalah kerawanan pangan dan kelaparan. Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu provinsi yang sangat rentan akan krisis pangan dan kelaparan. Curah hujan yang minim di provinsi ini menyebabkan kekeringan berkepanjangan, yang berdampak pada rawan pangan, gizi buruk, stunting, dan permasalahan kemanusiaan lainnya.

Sekali setahun

Petani di NTT pada umumnya dan Sumba Timur khususnya hanya bisa memanen sekali dalam satu tahun. Itu pun belum tentu sukses karena curah hujan terbatas, kemudian diperburuk dengan bencana alam lain seperti Badai Seroja, Covid-19, kebakaran lahan, hama belalang, dan kekeringan. Citi Indonesia berkolaborasi dengan program “back to farm” yang diinisiasi oleh Wahana Visi Indonesia (WVI).

Digital, Partnership, dan Innovation Director of Corporation WVI, Asteria Aritonang mengatakan, donasi Rp 200 juta itu bertujuan mendorong pemulihan kegiatan pertanian untuk meningkatkan mata pencarian warga berdampak.

“Program ini akan dilaksanakan pekan ketiga bulan Juli 2021 dan berakhir pada bulan September 2021. Penyaluran bantuan melalui toko-toko lokal yang telah bekerjasama dengan WVI di Sumba Timur. Bantuan diserahkan kepada kelompok tani, terdiri dari 168 kepala keluarga,”kata Aritonang.

Ia mengatakan, ketahanan pertanian dan pangan di NTT masih menjadi kendala besar bahkan sebelum Badai Seroja dan pandemi Covid-19. Bantuan ini diarahkan untuk mendorong katahanan pangan mandiri di kalangan petani dalam jangka panjang.

Pihak WVI mendampingi petani Sumba Timur sejak 2007 dengan kegiatan di bidang pendidikan, kesehatan, dan pengembangan ekonomi masyarakat. Masalah utama yang dihadapi petani adalah kekeringan, yang berdampak sangat luas bagi kehidupan mereka. Tidak hanya gagal panen tetapi juga kesulitan air bersih yang berdampak pada sanitasi buruk. Warga harus berjalan kaki sampai belasan kilometer untuk mendapatkan sumber air.

Kesejahteraan petani, berdampak langsung pada kesejahteraan hidup anak-anak. Jika asupan gizi dan sanitasi terjamin, mereka akan bertumbuh dan berkembang dengan sumber daya yang tercukupi.

Bendungan

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumba Timur Mikhale Jakalaki mengatakan, Pemda Sumba Timur mendukung program ini. Kerusakan bendungan dan irigasi Kambaniru setelah diterjang Badai Seroja menyebabkan 4.442 hektar lahan pertanian di Kecamatan Kota Waingapu dan Kecamatan Kambera Sumba Timur tidak dapat diolah. Kerusakan bendungan itu sedang dalam proses perbaikan.

“Diupayakan agar bantuan dari Citi Indonesia dan WVI itu juga dimanfaatkan untuk membangun sumur bor dan pompa untuk setiap kelompok petani. Air menjadi masalah serius yang dihadapi petani," ujarnya.

Dengan kehadiran sumur bor ini diharapkan petani bisa menanam jenis tanaman hortikultura seperti sayur-sayuran dan bumbu dapur. Mereka bisa tanam tiga kali dalam setahun,”kata Jakalaki.

Ia mengatakan, bantuan itu datang tepat waktu. Saat ini petani hendak memasuki puncak kemarau, yakni Agustus-November 2021. Pada saat ini biasa terjadi rawan pangan luar biasa akibat kekeringan, disertai sejumlah masalah lain seperti gizi buruk.

Bantuan itu bisa mengantisipasi masalah rawan pangan selama puncak kemarau itu. Pemda pun telah menyediakan beras sosial sebanyak 100 ton mengantisipasi puncak kemarau ini.

Anggota Kelompok Tani “Akasia” Sumba Timur Agustinus Sardjana menyampaikan terimakasih kepada Citi Indonesia dan WVI. Ia berharap mendapatkan bantuan itu, meski dalam bentuk kelompok tani.

“Jumlah 168 kepala keluarga petani mendapat bantuan itu. Kepedulian mereka menjadi tanggungjawab petani bagaimana memanfaatkan dan mengembangkan bantuan itu sehingga bisa bermanfaat bagi kami sendiri. Kami harap ada dukungan lain dari Dinas Pertanian setempat untuk usaha ini,”kata Sardjana.

 

Link artikel: https://www.kompas.id/baca/nusantara/2021/07/23/citi-indonesia-membantu-alat-pertanian-dan-sumur-bor-bagi-petani-sumba-timur


Artikel Terkait