Aman Berselancar di Era Digital

Aman Berselancar di Era Digital

Sebagai remaja, berselancar di dunia digital sudah menjadi sebuah kebutuhan. Kemajuan teknologi di Indonesia beberapa tahun belakangan ini membuat akses dunia digital semakin terbuka dan bebas. Ditambah lagi dengan kondisi pandemi Covid-19 yang mengubah pola hidup dan tata cara berkegiatan masyarakat. Pembatasan pertemuan tatap muka menjadi penyebab utama para remaja lebih banyak menggunakan media sosial untuk berinteraksi. Selain juga untuk kegiatan belajar-mengajar yang dilakukan secara daring. 

Salah satu risiko dari tingginya intensitas penggunaan media sosial adalah munculnya hate speech dan cyber bullying. Kedua hal ini merupakan bentuk kekerasan terhadap anak. Salah satu upaya preventif terjadinya tindak kekerasan terhadap anak di dunia digital adalah dengan pemberian pemahaman mengenai cara aman bermedia digital dan etika di dunia digital. Wahana Visi Indonesia melalui program Family Center yang bekerja sama dengan Hanwha Life, memfasilitasi kegiatan penyusunan modul dan diseminasi literasi digital di sekolah atau RPTRA. 

Program Family Center melakukan diseminasi literasi digital bersama 600 anak di 6 Keluarahan di area Jakarta Utara dan Jakarta Timur. Materi diseminasi menggunakan modul dari Kementrian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia yang berjudul Aman Bermedia Digital dan Etis Bermedia Digital. Dalam proses implementasi, WVI bermitra dengan ICTWatch, salah satu organiasi nirlaba yang fokus pada diskursus tata kelola internet dan pengembangan literasi digital di Indonesia. 

Pada saat diseminasi, para peserta menjelaskan bahwa hate speech dan cyber bullying merupakan salah satu dampak ketidaktahuan akan etika ketika menggunakan media digital. Aturan main bermedia digital adalah hal yang perlu diketahui dan dilakukan oleh siapa saja yang mengaksesnya. Hal lain yang baru peserta sadari adalah mengenai pengelolaan data pribadi atau menjaga privasi dari data pribadi yang digunakan di dunia digital. Madinah (15), salah satu peserta literasi digital menjelaskan, “Mengikuti acara ini membuat aku mendapatkan wawasan dan menjadi tahu informasi seperti cara bersosial media yang baik, wawasan tentang cara menjaga privasi data kita. Mengikuti acara ini membuat kita jadi mendapat informasi yang belum pernah kita ketahui,”. Sejalan dengan pendapat yang disampaikan Madinah, Mutia (17) mengungkapkan hal senada, “Aku dapat banyak informasi tentang media sosial, bagaimana cara menyimpan data pribadi di media sosial, cara mengatasi kecanduan bermedia sosial. Bahkan aku jadi tau cara bermedia sosial yang baik.”. 

Selain memberikan penjelasan secara lisan, WVI juga membagikan buku saku yang berisi informasi tentang Pengantar Literasi Digital, Etika Internet, dan Keamanan Berinternet kepada para peserta diseminasi. WVI dan ICTWatch kemudian mengadaptasi dan mengkontekstualisasi hasil diseminasi tersebut agar sesuai dengan kebutuhan anak remaja. Sehingga terbitlah Modul Literasi Digital untuk Remaja. Modul ini disiapkan sebagai sarana pembelajaran dan informasi yang dapat dipublikasikan secara luas untuk kepentingan literasi digital para remaja di Indonesia. Melalui program ini, WVI dengan HanHwa Life, serta ICTWatch berharap agar para remaja dapat mempunyai bekal yang baik untuk berselancar di dunia digital. 

 

Penulis : Yonathan Prasha (Team Leader Family Center Project) 

Penyunting : Mariana Kurniawati (Communication Executive)


Artikel Terkait