Adaptasi Kebiasaan Baru, Guru Masih Khawatir Kembali ke Sekolah

Adaptasi Kebiasaan Baru, Guru Masih Khawatir Kembali ke Sekolah

Bersama dengan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Wahana Visi Indonesia (WVI) yang didukung oleh Predikt melakukan Survei Suara Guru di Masa Pandemi Covid-19. Survei yang dilakukan pada 27.046 guru dan tenaga kependidikan di 34 provinsi ini menunjukkan hasil 76% guru masih merasa khawatir dan ragu untuk kembali ke sekolah selama masa pandemi Covid-19.  

Adanya keleluasaan bagi pemerintah daerah, sekolah dan orang tua untuk dapat melakukan pembelajaran tatap muka pada wilayah zona hijau/kuning, ternyata masih belum bisa diterima sepenuhnya oleh para guru dan tenaga pendidik. Berdasarkan survei tersebut, setidaknya 95% guru masih setuju untuk melakukan pembelajaran jarak jauh atau kombinasi.

Pada kondisi saat ini, berdasarkan sarana dan prasarana yang tersedia, sebagian besar guru berpendapat strategi yang paling baik dilakukan adalah kombinasi antara pembelajaran jarak jauh dan tatap muka (45%). Sementara sebanyak 38% guru memilih melakukan pembelajaran sepenuhnya daring, 12% lainnya memilih pembelajaran jarak jauh secara luring, dan hanya 5% yang memilih tatap muka seluruhnya.  

Education Specialist WVI Mega Indrawati mengatakan survei yang difokuskan pada guru di daerah 3T (terdepan, terluar dan tertinggal) dan pendidikan khusus ini dilakukan guna melihat gambaran kebutuhan para guru dan tenaga pendidik sebagai fasilitator pendidikan di garis depan, sekaligus mengetahui persepsi guru dan tenaga kependidikan lainnya terkait situasi sekolah akibat pandemi serta proses menuju pembukaan kembali sekolah dengan skema Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB).

“Dampak penutupan sekolah dialami oleh guru dan peserta didik. Situasi ini dapat mengakibatkan menurunnya kualitas pendidikan karena belajar dari rumah memerlukan keahlian baru, baik peserta didik maupun guru, terutama untuk sekolah luar biasa (SLB) dan sekolah di daerah 3T,” katanya.

Dari hasil survei ini ditemukan pula berbagai kebutuhan guru dan tenaga pendidik guna mendukung proses pembelajaran saat sekolah kembali dibuka. Enam puluh lima persen responden membutuhkan alat pelindung diri (masker, face shield, fasilitas cuci tangan), 37% membutuhkan insentif dan/atau akses pada kuota internet atau pulsa, 31% membutuhkan pemantauan dan pengawasan dari berbagai pihak, 27% memerlukan materi ajar sesuai kurikulum baru, 26% membutuhkan alat komunikasi, 25% membutuhkan uji swab untuk warga sekolah, dan 21% memerlukan panduan untuk pembelajaran.

Merespons hasil survei, Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemdikbud Praptono menjelaskan hasil survei dapat menjadi amunisi bagi Kemdikbud untuk menerapkan kebijakan, terutama bagi guru di daerah 3T dan guru pendidikan khusus.

“Bahwa 3 dari 4 guru merasa khawatir dengan pembukaan sekolah ini menguatkan bahwa pembukaan sekolah memang harus benar-benar menerapkan protokol kesehatan secara ketat,” tambahnya.

Survei Suara Guru di Masa Pandemi Covid-19 dilakukan pada periode 18 agustus-5 september 2020. Sebanyak 95% responden berada di daerah non 3T, 5% di daerah 3T. Di mana 74% berasal dari pendidikan umum dan 26% berasal dari pendidikan khusus (SLB).

Ditulis oleh: Amanda Putri Nugraha, Media Relation Officer dan Putri ianne Barus, Communications Officer Wahana Visi Indonesia


Artikel Terkait