Jadi Guru Cilik untuk Dampingi Adik-adik

Jadi Guru Cilik untuk Dampingi Adik-adik

Bukan hanya orang dewasa yang bisa berperan sebagai guru, tapi anak-anak pun bisa. Bukan hanya mengajar anak-anak lainnya, seorang guru cilik juga bisa mengajarkan orang dewasa banyak hal. Bukan hanya berbagi wawasan seperti di sekolah, melainkan juga pelajaran tentang keberanian dan kepedulian untuk memajukan anak-anak di desa. 

Sesti, seorang anak perempuan yang masih berusia 12 tahun, adalah seorang guru Bahasa Inggris cilik di desanya yang berada di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Sudah satu tahun Sesti bergabung dalam kelompok anak yang difasilitasi oleh WVI bermitra dengan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT). “Dalam kelompok ini, saya bersama teman-teman belajar Bahasa Inggris, membaca, menulis, dan bermain bersama. Sebelum ada kelompok belajar ini memang saya dan teman-teman juga selalu bermain bersama namun kami tidak ada kegiatan belajar bersama,” cerita Sesti. 

Pertemuan kelompok anak ini rutin dilakukan satu minggu sekali. Kelompok anak ini ibarat les tambahan bagi anak-anak di luar kegiatan sekolah. Setiap kali pertemuan, anak-anak yang hadir akan memulai kegiatan dengan membaca buku bersama-sama. WVI dan GMIT bekerja sama menyediakan buku-buku cerita anak, meja belajar, dan peralatan lainnya untuk mendukung berlangsungnya kegiatan kelompok anak ini. “Setelah membaca buku cerita maka saya akan menceritakannya kembali kepada teman-teman tentang apa yang sudah saya baca dan itu kami lakukan secara bergantian, lalu adik-adik yang lebih kecil belajar membaca dan menulis,” Bu Guru Cilik ini menjelaskan rutinitas pertemuan kelompok anak. 

Kelompok ini sangat berarti bagi Sesti karena menjadi wadah untuk dirinya berperan sebagai guru bagi anak-anak lainnya, terutama anak yang usianya lebih kecil. Selain sama-sama belajar, Sesti juga mengembangkan kemampuan untuk memimpin, mengungkapkan pendapatnya, serta menjadi panutan bagi teman-temannya. 

“Karena rajin mengikuti kegiatan kelompok anak, saya dan teman-teman yang tadinya tidak mengerti jadi bisa menulis dan membaca dalam Bahasa Inggris. Nilai mata pelajaran Bahasa Inggris saya di sekolah juga bagus,” tutur Sesti dengan bangga. 

Selain menjadi anak perempuan yang mampu memimpin dan mahir ber-Bahasa Inggris, Sesti juga ingin menunjukkan bahwa, “Walaupun saya dari desa tapi saya juga bisa belajar Bahasa Inggris yang saya tahu adalah bahasa dunia,”. Sesti tidak memandang lokasi tempat tinggalnya sebagai batasan untuk mempelajari banyak hal, bahkan di tengah keterbatasan tersebut ia bersedia berbagi wawasan dengan anak lain. 

Semangat Sesti untuk terus belajar dan tidak menyia-nyiakan kesempatan merupakan alasan mengapa WVI dan mitra-mitra lokal secara konsisten melakukan pendampingan pada anak-anak. WVI dan mitra-mitra lokal menjaga agar anak-anak seperti Sesti dapat terus menyalakan semangat belajar walaupun sehari-hari mereka tinggal dalam kondisi yang serba tidak ideal. 

Mari berjalan bersama WVI untuk terus menyalakan semangat, mewujudkan harapan bagi setiap anak di Indonesia. Dukungan Anda dapat disalurkan melalui wahanavisi.org/sponsoranak. 

 

 

Penulis : Randi Tafuli (Staf Lapangan GMIT, mitra lokal WVI di Timor Tengah Selatan) 

Penyunting: Mariana Kurniawati (Communication Executive


Artikel Terkait