Karena, Oleh, dan Untuk Air

Karena, Oleh, dan Untuk Air

Ama Linus adalah seorang kepala desa di Kabupaten Nias Selatan. Desa tempat ia tinggal sempat mengalami kesulitan akses air bersih terutama ketika musim kemarau. Sambil duduk santai di teras rumah dan meneguk kopi hangat, Ama Linus menceritakan awal masalah yang dialami desanya. “Sebenarnya desa kami punya sumber air yang tidak kering meskipun kemarau. Jadi tidak akan sampai kehabisan air. Hanya saja, kalau musim kering, kami harus jalan lebih jauh ke sumber air tersebut. Sudah ada juga pipa-pipa untuk mengalirkan air, tapi tidak ke semua rumah di desa. Makanya ada banyak warga yang protes. Beberapa bahkan sudah tidak mau lagi menjaga fasilitas air yang sudah ada. Akibatnya, aliran air jadi terganggu kalau musim kemarau,”.

Ayah dari lima anak ini juga menjelaskan bahwa konflik yang terjadi di masyarakat semakin memanas saat momen pemilihan kepala desa dan bupati. Bahkan kondisi politik bukan hanya memperkeruh konflik air bersih melainkan merembet ke hal-hal lain. Saat itu, Ama Linus sudah merasa putus asa dan tidak berharap bahwa desanya dapat kompak kembali. Ia merasa bahwa desanya tidak bisa berkembang lagi. “Lona fahasara dodo ba mbanua (Tidak ada persatuan lagi di desa),” ujarnya. 

Ama Linus masih tidak habis pikir bila mengingat kondisi desanya saat itu. Namun, sekarang ia sudah bisa tersenyum kembali. Begitu juga dengan seluruh masyarakat, terutama anak-anak yang ada di desanya. Air sudah sangat dekat. Pipanisasi sudah menjangkau semua rumah. Anak-anak tidak perlu berjalan jauh lagi untuk mengambil air di musim kemarau. Selesai bermain atau melakukan kegiatan lainnya, anak-anak bisa langsung membuka kran air yang berada di dekat rumah mereka lalu mencuci tangan dan kaki hingga bersih. 

Sosok Ama Linus, kepala desa yang memiliki semangat juang memajukan desanya menjadi faktor penting yang membuat masyarakat desa bersatu kembali dan air bersih mengalir kembali. Ia bersama aparat desa dan tokoh masyarakat lainnya bersama-sama merangkul seluruh masyarakat. Bersama-sama berusaha menjelaskan dan memotivasi masyarakat agar makin paham tentang pentingnya kebersamaan dan gotong royong di desa. Usaha Ama Linus dan pemerintah desa ini pun berbuah manis. 

Bermitra dengan Wahana Visi Indonesia, melalui program ASCA for WASH, semangat Ama Linus pun bersambut. WVI turut mendukung proses sosialisasi dan memfasilitasi beberapa pertemuan di desa agar proses penyediaan air bersih berjalan berdasarkan kesepakatan dan komitmen masyarakat desa. Di bawah kepemimpinan Ama Linus dan aparat desanya, masyarakat bermufakat untuk bersama-sama membangun fasilitas air bersih yang menjangkau semua rumah. Supaya tidak ada lagi rumah yang sulit mendapatkan air bersih. Masyarakat sepakat untuk membangun fasilitas ini secara bergiliran setiap minggu hingga seluruh pembangunan selesai. 

“Saya sangat bersyukur semangat untuk bersatu, peduli satu sama lain, dan mengutamakan kepentingan bersama dapat muncul lagi di desa ini. Luka lama atau konflik yang pernah terjadi sudah makin pulih. Saya rasa ini semua bisa terjadi karena kami semua butuh air bersih. Memang benar kalau dibilang air itu adalah sumber kehidupan,” ujar Ama Linus. Hari itu ia akhiri dengan membeli selang untuk mengalirkan air ke area kandang babi di dekat rumahnya. “Supaya kandangnya tidak bau lagi,” katanya sambil beranjak dari teras rumah.

 

Penyunting : Mariana Kurniawati (Communication Executive)


Artikel Terkait