Generasi Gemar Membaca dari Landak

Generasi Gemar Membaca dari Landak

Pada 2021, Wahana Visi Indonesia melakukan riset pada siswa kelas tiga SD di 28 sekolah di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Hasil riset itu memperlihatkan bahwa hanya 26% siswa kelas 3 SD yang lancar membaca dan paham. Sebanyak 84% siswa lainnya masih belum bisa membaca huruf atau sudah bisa membaca namun belum paham. Tahun 2022, angka penelitian tersebut mulai berubah menjadi lebih baik. Sudah ada 47% siswa yang lancar membaca dan paham. 

Bersama para tenaga pengajar, pengurus sekolah, dan orang tua, Wahana Visi Indonesia melalui Program Organisasi Penggerak dari Kemendikbud Ristek dan program LEGACY di Kabupaten Landak melakukan berbagai perubahan yang berhasil meningkatkan kemampuan membaca paham para siswa di sekolah-sekolah dasar di Kabupaten Landak. Sosok tenaga pengajar seperti Desi Indramiati dan Solviana Adu merupakan contoh bagaimana pelatihan Wahana Literasi sangat berpengaruh pada kualitas kegiatan belajar-mengajar. Selain itu, perbaikan fasilitas perpustakaan pun turut mendukung ketertarikan murid akan dunia literasi. “Saya senang sekarang bisa baca buku sampai selesai. Sekarang saya sudah lancar membaca,” ujar Sintia (9), siswa kelas tiga di salah satu SD.

Sintia membaca buku kesukaannya di perpustakaan ramah anak 

 

Desi dan Sekolah Literat 

Sebagai Kepala Sekolah salah satu SD di Kabupaten Landak, Desi Indramiati (31) merasa ada masalah baru yang dialaminya setelah pandemi Covid-19. Siswa yang seharusnya bisa membaca di kelas tiga, sekarang bahkan belum mengenal huruf sama sekali. Desi, yang juga merangkap sebagai guru, merasa kesulitan memberikan materi pelajaran kepada siswanya karena terjadi learning gap

Pada satu kesempatan, Desi mengikuti pelatihan Wahana Literasi, sebuah model kegiatan belajar-mengajar yang bertujuan untuk meningkatkan literasi anak usia SD. Dengan mengikuti pelatihan ini, Desi tergerak untuk membuat suatu perubahan di sekolahnya. “Saya ingin membuat sesuatu yang berbeda dan mencoba hal baru,” ungkapnya, “Walaupun sekolah ini di kampung, saya yakin siswa saya memiliki bakat,”. Desi merasa, learning gap ini bukan terjadi karena ketidakmampuan murid-muridnya. Hal ini dapat teratasi bila siswa-siswi di sekolahnya memiliki kegiatan belajar-mengajar yang menyenangkan tapi juga memicu peningkatan kemampuan membaca komprehensif.

Desi (kanan, masker hijau) menjadi peserta pelatihan Wahana Literasi 

Sekolah tempat Desi berkarya hanya memiliki tiga ruang kelas. Setiap hari, dua rombongan murid belajar dalam ruangan kelas yang sama. Namun hal ini tidak menghalangi niat Desi agar murid-muridnya pandai membaca. Ia membuat ruangan kelasnya jadi menarik. Di setiap sudut kelas, Desi membuat pojok baca. Buku-buku cerita yang ramah anak memenuhi pojok baca tersebut. Siswanya jadi sangat senang belajar bahkan saat istirahat pun siswa bisa belajar membaca. Mereka memanfaatkan buku-buku cerita maupun tulisan yang disediakan guru-guru di kelas untuk belajar membaca. 

Desi pun menjadi motor penggerak bagi rekannya sesama guru agar membuat media pembelajaran yang menarik (alat peraga edukatif), menghias kelas menjadi kelas yang literat, membuat kebun literasi, hingga mengadakan lomba literasi. Desi membuat strategi baru dengan mengubah ruangan kelas yang semula kosong menjadi kelas yang menyediakan tulisan dan gambar menarik serta sesuai dengan konteks kehidupan anak. 

“Sekarang saya senang kelas saya ada pohon, ada gambar yang ada tulisannya, dan ada pojok bacanya. Saya senang mama saya juga bantu melukis di sekolah dan sekolah saya jadi bagus,” tutur Noval, salah satu murid kelas empat. Selain guru, Desi pun berhasil menarik perhatian orang tua untuk turut mendukung kemampuan literasi anak-anaknya. Ia mengajak orang tua siswa terlibat dalam membuat lingkungan sekolah yang literat. Sekolah ini berhasil menjadi sekolah yang literat karena dukungan orang tua murid yang mau berpartisipasi. Para orang tua suka rela menyediakan peralatan dan tenaga untuk menghias sekolah. Bila hanya mengandalkan dana sekolah, Desi dan para guru tidak mampu merenovasi sekolah tersebut.

Noval berdiri di depan ruang kelasnya 

Usaha Desi, para guru, dan orang tua pun berbuah manis. Lebestin (34), wali kelas Noval mengatakan “Noval mengalami perkembangan yang cepat dalam membaca setelah kelasnya lebih menyenangkan. Dulu dia tidak bisa membaca namun sekarang dia sudah bisa membaca kata dalam kalimat,” ungkapnya. Desi dan guru-guru mengikuti pelatihan Wahana Literasi yang diinisiasi oleh Wahana Visi Indonesia melalui Program Organisasi Penggerak dari Kemendikbud Ristek Indonesia. Selain pelatihan, kepala sekolah dan guru pun mengikuti pendampingan. Selama pendampingan para pahlawan tanpa tanda jasa ini mempersiapkan materi-materi ajar yang kaya akan literasi, merancang kelas agar lebih menarik dan literat, serta meningkatkan kualitas kegiatan belajar-mengajar agar memicu kemampuan anak dalam membaca komprehensif. 

 

Solviana dan Pendekatan Psikososial 

Solviana Adu (40) adalah seorang guru SD honorer di Kabupaten Landak. Ia mengajar selama kurang lebih lima tahun. Ketika kegiatan belajar-mengajar kembali tatap muka, Solvi merasa ada kejanggalan pada murid-muridnya. Di kelas, salah satu anak didiknya sulit bersosialisasi dengan teman dan tidak bisa lepas dari orang tuanya ketika di sekolah. 

Belajar secara daring memang menjadi tantangan tersendiri bagi para guru, murid, dan orang tua. Guru sulit memantau perkembangan anak, murid SD sulit beradaptasi dengan pola belajar mandiri, dan orang tua pun harus berperan sebagai guru sekolah di rumah. Namun, selain persoalan kemampuan akademis, pandemi juga memangkas waktu anak-anak untuk bersosialisasi. “Generasi Pandemi” jadi marak terucap dari para orang tua untuk menjelaskan kesulitan anaknya dalam bersosialiasi akibat terlalu lama di rumah saja. 

Solvi sedang mendampingi muridnya belajar membaca 

“Saya merasa perlu melakukan pendekatan personal pada anak tersebut,” ujar Solvi, “Saya perlu membangun relasi dengannya. Saya memberikan kata-kata positif dan motivasi padanya,”. Solvi telah terlatih untuk melakukan hal ini karena mendapat materi tentang Dukungan Psikososial untuk Guru dan Siswa yang termasuk dalam pelatihan Wahana Literasi. 

Dalam waktu tiga bulan, anak tersebut sudah tidak perlu ditemani orang tuanya ketika di sekolah. Ia sudah senang belajar bersama teman-temannya di kelas. “Pelatihan ini membuat saya bisa menerapkan hal positif bagi anak didik saya,” tutur Solvi. Menurut Solvi, memperhatikan anak-anak secara personal bisa mendeteksi kesulitan yang dihadapi anak didik. Guru pun jadi bisa memberikan solusi bagi anak yang membutuhkan perhatian khusus. Terlebih ia menilai, siswa kelas satu SD cenderung lebih sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Sehingga mereka lebih membutuhkan dukungan psikososial agar merasa aman dan nyaman di sekolah. 

“Didiklah anak didik kita seakan-akan anak tersebut adalah anak kita sendiri,” harapan Solvi bagi tiap guru. Perhatian dan dukungan psikososial adalah hal penting untuk mendukung kelancaran kegiatan belajar-mengajar. Anak yang merasa nyaman di sekolah akan memiliki semangat belajar yang lebih tinggi. Tersedianya dukungan psikososial dari guru merupakan landasan yang penting dalam perjalanan akademis murid. 

 

Perpustakaan Sekolah dan Langko Baca 

Selain peningkatan kapasitas guru serta perubahan suasana kelas menjadi lebih literat, salah satu fasilitas penting dalam mendukung siswa semakin gemar membaca adalah perpustakaan. Sekolah-sekolah dasar di Kabupaten Landak kebanyakan tidak memiliki perpustakaan, atau bila ada pun kondisinya sudah tidak memadai.

Tampak muka perpustakaan lama dan baru di beberapa SD di Kabupaten Landak 

Bersama para tenaga pengajar dan pengurus sekolah, Wahana Visi Indonesia melakukan diskusi untuk merancang perpustakaan yang bukan hanya baru, tapi juga ramah anak. Dinding perpustakaan berwarna-warni. Area dalamnya pun diisi buku-buku cerita untuk anak-anak, bukan lagi buku pelajaran atau buku lembar kerja siswa. Para guru, bahkan orang tua pun, turut berpartisipasi agar perpustakaan kembali aktif di sekolah. 

“Anak-anak semangat sekali datang ke perpustakaan karena banyak buku cerita yang tersedia. Walaupun masih ada anak yang mengeja tetapi mereka tertarik untuk datang ke perpustakaan karena ingin mengetahui cerita dari buku. Setiap 15 menit sebelum pembelajaran inti dimulai, salah satu murid ditunjuk untuk membaca buku cerita kemudian menceritakan kembali. Anak-anak yang mendengarkan jadi tertarik juga untuk baca buku itu. Anak-anak juga jadi saling menceritakan isi buku yang mereka baca,” ujar Lina Wahyuni, seorang guru yang merasakan perubahan yang terjadi pada anak-anak setelah ada perpustakaan. 

Abdul Aziz, guru dari sekolah lainnya pun memiliki kesan yang sama, “Sebelum ada perpustakaan, proses pembelajaraan belum berjalan efektif karena anak-anak tidak minat untuk membaca. Setelah ada perpustakaan, anak-anak dapat belajar membaca di perpustakaan. Anak-anak termotivasi untuk membaca atau belajar membaca karena ada perpustakaan baru dan bagus, ada pemandu perpustakaan, dan di perpustakaan juga ada lukisannya. Selain itu, sekolah juga membuat jadwal membaca di perpustakaan untuk setiap kelas,”. 

Para guru menyaksikan bagaimana perpustakaan ramah anak dapat membantu meningkatan kegiatan belajar membaca di kelas. Guru-guru pun semakin semangat dengan mengadakan lomba-lomba kecil di kelas. Anak-anak membaca buku cerita di depan kelas, kemudian mencoba menceritakan kembali sesuai pemahaman mereka. Guru pun memberikan penilaian. Anak-anak jadi terpacu untuk berkompetisi mendapatkan nilai terbaik. Selain itu, guru juga memberikan pendampingan personal pada anak-anak yang masih belum bisa membaca.

Mita sedang membaca di perpustakaan bersama Nazra, temannya 

“Buku kesukaan saya judulnya Dunia Petak Umpet. Ceritanya bagus, tentang seorang anak yang main petak umpet di halaman rumah. Teman-temannya yang sembunyi. Saya paling suka bagian saat anak ini mencoba mencari teman-temannya. Ceritanya berakhir setelah teman-temannya ketemu. Saya suka baca buku ini di perpustakaan,” kata Mita (9), murid kelas 4 SD. Ia senang sekarang bisa membaca dan mengerti isi bukunya. Sebelum sering membaca di perpustakaan, Mita baru bisa mengeja. 

Melihat perubahan yang terjadi pada anak-anak setelah ada perpustakaan membuat para orang tua ingin berpartisipasi. Orang tua murid salah satu SD berinisiatif untuk membangun Langko Baca atau pojok baca di dekat perpustakaan sekolah. Pembangunan Langko Baca sepenuhnya menggunakan dana dan tenaga sukarela dari pada orang tua. Saat ini, selain di perpustakaan, anak-anak bisa menggunakan Langko Baca sebagai area untuk membaca buku. 

Langko Baca dari orang tua murid 

Wahana Visi Indonesia bermitra dengan tenaga pengajar serta masyarakat mewujudkan perpustakaan ramah anak ini melalui program LEGACY. Program ini bertujuan untuk mendukung program pendidikan, khususnya literasi anak Sekolah Dasar, yang saat ini sedang menjadi fokus bagi anak di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. 

 

 

Penulis, penyunting, dan kontributor : 

Mariana (Education Officer Program Organisasi Penggerak area Kabupaten Landak) 

Kristianus Pamungkas (Education Officer Program Organisasi Penggerak area Kabupaten Landak) 

Adrianto (MEAL Coordinator Kantor Operasional Landak) 

Mariana Kurniawati (Communication Executive) 


Related Articles