20 Area, 10 Tahun, Satu Panggilan
Salah satu bonus pekerja kemanusiaan adalah bisa melakukan perjalanan dinas keliling Indonesia. Apalagi, bepergian ke desa-desa terjauh dan terindah ini justru menjadi perjalanan yang melatih rasa rendah hati dan memperkaya perspektif. Hadir di tengah kehidupan anak-anak yang paling rentan adalah sebuah kesempatan istimewa. Kepedulian dan komitmen untuk mengupayakan kesejahteraan anak bertumbuh subur dalam tiap perjalanan.
Selama sepuluh tahun menjadi pekerja kemanusiaan, Eduard Christian (33) telah mengunjungi lebih dari 20 kabupaten di Indonesia. Kunjungan ke area dampingan Wahana Visi Indonesia (WVI), dari Nias di barat hingga Merauke di timur, selalu menyimpan cerita tersendiri bagi sosok yang akrab disapa Edu. Namun, ia paling banyak belajar dan bertumbuh ketika bertugas sebagai koordinator monitoring dan evaluasi di Nias Selatan jelang akhir tahun 2015.
“Setiap kali bertemu dengan anak-anak, salah satu pertanyaan yang sering saya berikan adalah ‘Kalau sudah besar nanti mau jadi apa? Apa cita-citamu?’. Mungkin bagi banyak orang pertanyaan ini terkesan tidak ada apa-apanya, sangat sederhana, atau hanya jadi pertanyaan basa-basi. Namun, saya baru menyadari kalau pertanyaan ini begitu berdampak dan penuh makna bagi anak-anak di area terjauh,” ungkap Edu.
Ketika seorang anak yang sebelumnya jarang mendapat sorotan ditanya “Apa cita-citamu?”, pertanyaan ini menandakan adanya perhatian lebih terhadap anak-anak. Dibalik jawaban polos “Mau jadi dokter!” atau “Jadi guru,”, anak-anak sebenarnya sedang menyalakan semangat untuk berjuang lebih lagi dan melampaui batas-batas yang mereka alami. Pertanyaan ini memantik keberanian untuk bermimpi.
“Waktu itu ada satu anak yang dengan lantang menjawab, ‘Saya mau jadi astronot, Kak,’. Hal ini tentu tidak biasa bagi sebagian besar anak di sana. Kebanyakan menjawab cita-cita yang sering mereka lihat sehari-hari. Namun dari jawaban anak ini saya menyadari bahwa hal terpenting yang perlu anak-anak dapatkan adalah inspirasi, teladan, dan eksposur akan banyak hal baru yang mampu mengubah hidup mereka,” jelasnya.
Mendampingi anak-anak di Nias Selatan juga mengajarkan Edu tentang komitmen, terutama ketika situasi sedang tidak baik-baik saja. “Satu momen di tahun 2016 jadi titik terendah saya selama bekerja di WVI. Ketika saya dipercayakan untuk mengelola program pengentasan tuberkulosis tapi ada satu anak perempuan tidak tertangani dengan tepat hingga harus pergi lebih cepat,” tuturnya. Ia merasa gagal mengelola program dengan baik. “Waktu itu rasanya ingin mengundurkan diri dari WVI,”.
Momen tersebut menjadi salah satu titik balik penting dalam hidup Edu. Ia menyadari bahwa kalimat, “Do your best and God will do the rest,” benar-benar perlu dipraktikkan dalam kerja kemanusiaan. Subjek pekerjaan ini adalah manusia itu sendiri, dengan latar belakang yang berbeda dan berbagai faktor penentu yang arbitrer, sehingga banyak hal berada di luar kendali.
“Sebaik apapun perencanaan, sepintar apapun manusia atau sehebat apapun tim kita, ketika kita terlibat dalam kerja-kerja kemanusiaan, Tuhan yang menjadi pengendali utama. Setelah kejadian itu saya selalu mencoba memberikan waktu untuk berkomunikasi dengan Tuhan sesibuk apapun jadwal saya. Jadi perlu semakin bergantung, merendahkan hati, dan pastinya harus tahu diri pada penyelenggaraan Tuhan yang sempurna itu,” ujar lulusan Universitas Katolik Parahyangan ini.
Anak dan masyarakat Indonesia yang pernah Edu temui adalah guru terbaik yang mengajarkan banyak nilai kehidupan. WVI menjadi ruang kelasnya. Sepuluh tahun terakhir Edu belajar bagaimana menjadi pribadi yang selalu bersyukur, melihat ke bawah, hadir sepenuhnya untuk anak dan masyarakat yang paling rentan, dan terus berbagi dengan apa yang dimiliki – yang tidak melulu berbentuk materi.
“Membantu sesama itu tidak akan bisa berhenti karena situasi terus berubah dan isu yang dihadapi terkait kemiskinan juga akan selalu ada karena ini bagian dari cara dunia bekerja. Jadi menurut saya membantu sesama itu tidak bisa diukur dari jenis pekerjaan, kemampuan finansial, atau dari keahlian tertentu saja, melainkan siapapun, kapanpun, dan dengan cara apapun bisa, asal mau dan ini tidak bisa dibatasi oleh waktu,” tegasnya.
Banyak pembelajaran yang Edu dapatkan selain juga isu kerentanan anak yang Edu saksikan, tidak membuatnya jadi pesimis. Sebaliknya, ia menemukan begitu banyak potensi yang tidak boleh terlewatkan begitu saja. Saat ini, dengan peran sebagai Operations Management Lead di kantor nasional WVI, Edu tidak kehilangan optimisme akan masa depan anak-anak Indonesia.
“Saya amat yakin Indonesia tidak kekurangan orang baik yang memiliki hati untuk terus mewujudkan kehidupan anak-anak yang utuh sepenuhnya. Kuncinya adalah berani menjadi solusi dan mau berkontribusi tanpa perlu menunggu orang lain bertindak lebih dulu. Indonesia tidak akan kekurangan anak-anak hebat. Kita sebagai orang dewasa yang punya jawaban untuk membangun lingkungan yang lebih baik, berani atau tidak,” tegasnya.
Berkaca dari apa yang Edu bagikan, ini saatnya kita mulai memenuhi linimasa hidup dengan perjalanan yang dapat membantu sesama, terutama anak yang berada di desa terjauh di Indonesia. Dalam setiap perjalanan yang kita lakukan, pada setiap orang yang kita temui, jangan lupa menyempatkan untuk hadir dan peduli. Dalam setiap pekerjaan yang Tuhan percayakan, jangan lupa untuk terus berkarya dari hati dan beri ruang untuk Tuhan pegang kendali.
Penulis: Mariana Kurniawati (Communication Executive)