Beraspirasi dan Unggul, Perempuan-perempuan Maju dari Kupang

Beraspirasi dan Unggul, Perempuan-perempuan Maju dari Kupang

Sebuah desa di Kabupaten Kupang sudah melibatkan perempuan dalam kegiatan-kegiatan di desa. Namun, perempuan diundang hanya untuk membantu menyiapkan konsumsi bagi peserta forum musyawarah. Perempuan di desa sangat dipercaya dalam hal mengasuh anak sehingga hanya satu partisipasi aktif mereka yaitu, sebagai kader Posyandu. Kebanyakan perempuan di desa tersebut bahkan sudah menjalankan peran kader Posyandu selama kurang-lebih 15 tahun. Tanpa sekalipun beraspirasi dalam kegiatan lainnya di desa. 

Tradisi ini mulai berubah ketika tiga perempuan di desa tersebut mendapat peluang untuk menjadi pemimpin musyawarah. Ketiganya terpilih sebagai fasilitator desa program ENVISION (Enabling Civil Society for Inclusive Village Economic Development), hasil kerja sama WVI dengan Uni Eropa. Dengan pelatihan dan pendampingan tentang isu GESI (Gender Equality And Social Inclusion), mereka bukan hanya bertugas menyajikan kopi dan kue, melainkan memandu jalannya kegiatan. Mereka juga bahkan mendorong agar mama-mama, yang hadir sebagai anggota forum, berani mengungkapkan pendapat. 

“Seusai musyawarah, kami biasanya masih duduk sama-sama dengan mama-mama yang sempat menyampaikan usulan. Kami ingin memastikan kalau apa yang disampaikan di forum itu tercatat dengan benar,” cerita Mama Yuliana, salah satu dari ketiga perempuan pemimpin di desa ini. 

Bagi ibu dari dua orang anak ini, memimpin musyawarah memang bukan hal yang mudah tapi penting untuk dilakukan seorang perempuan. Perempuan yang memimpin akan menjadi contoh bagi perempuan lainnya. Selain itu, aspirasi perempuan pun akan lebih banyak tertampung karena kehadiran perempuan yang memimpin. Seringkali musyawarah di tingkat dusun berjalan dengan perdebatan program desa, belum lagi ada saling curiga antar anggota masyarakat. Namun Mama Yuliana, bersama dengan Mama Lenci dan Mama Selfina selalu berusaha memastikan apa yang diusulkan perempuan di tiap dusun tercatat dan tersampaikan pada pemerintah desa. 

“Setiap kali saya memandu musyawarah di dusun, saya selalu sampaikan kepada masyarakat, terlebih perempuan atau mama-mama agar mereka jangan takut. Harus berani menyampaikan usulan atau pendapat tentang apa yang mereka alami,” cerita Lenci. “Karena ketika usulan itu tersampaikan, maka pemerintah bisa lebih memberi perhatian. Pendapat mama-mama akan dianggap sebagai kebutuhan. Tapi kalau mama-mama takut dan tidak mau bicara, maka orang tidak akan tahu apa yang mama-mama butuhkan,” lanjutnya dengan percaya diri. 

Kegigihan, ketelitian, dan jiwa kepemimpinan yang dimiliki ketiga perempuan ini membawa mereka terpilih menjadi anggota Tim 11 Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes). Tim ini merupakan kelompok kerja yang terdiri dari sebelas orang terpilih dari berbagai unsur yang ada di desa. Mama Yuliana, Mama Lenci, dan Mama Selfiana terpilih sebagai anggota yang mewakili kaum perempuan dan pemuda. 

Di tengah kesibukan keseharian masing-masing, Mama Yuliana, Mama Lenci, dan Mama Selfiana berkarya tidak sebatas partisipasi dalam kegiatan-kegiatan desa. Meskipun Mama Yuliana harus berperan sebagai ibu rumah tangga, pengusaha catering, ayam potong serta jajan pasar, tapi ia bersama Mama Lenci dan Mama Selfiana masih berinisiatif memajukan kehidupan remaja-remaja perempuan di desa. 

“Walaupun inisiatif kami untuk memberikan pelatihan menenun pada remaja di desa sempat menuai perdebatan, tapi akhirnya kami berhasil meyakinkan pemerintah desa. Karena kali ini, pelatihan ini ditujukan khusus untuk remaja perempuan di desa. Supaya mereka bisa punya keterampilan dan membantu mereka mencari uang daripada harus jadi TKW (Tenaga Kerja Wanita) dan pulang malah membawa cerita pahit,” ungkap Mama Lenci. 

Tiga serangkai ini bertekad dan bermimpi agar remaja perempuan di desa bisa berkarya di desa. Tidak perlu jauh-jauh mencari kerja ke luar negeri dan menghadapi risiko tertipu atau bahkan menjadi penyintas kasus kekerasan. Pelatihan menenun di desa diharapkan dapat menjadi solusi agar remaja perempuan tetap bisa berdaya sekaligus terlindungi. 

“Banyak bekal yang kami dapat dari program ENVISION ketika kami dilatih menjadi fasilitator desa. Awalnya kami bingung mau kerjakan apa, tapi ternyata inilah hasilnya. Kami bertiga yang sekarang, menjadi perempuan-perempuan unggul di desa,” ujar Mama Lenci. 

Upaya pemberdayaan perempuan tidak hanya soal keikutsertaan dalam program dan kegiatan desa. Yang paling penting, kebutuhan perempuan terakomodir, perempuan terlibat langsung, serta perempuan sadar bahwa tidak ada perbedaan hak dengan laki-laki.  

Mama Yuliana, Mama Lenci, dan Mama Selfiana telah membuktikan bagaimana perempuan dapat memimpin di desa yang tadinya bertradisi patriarkis. Langkah mereka juga menjadi terang bagi kehidupan perempuan lain yang ada di desa, muda ataupun tua. 

 

 

Penulis: Tim ENVISION untuk wilayah Kupang, Nusa Tenggara Timur 

Penyunting: Mariana Kurniawati (Communication Executive


Artikel Terkait