Kisah Para Pembawa Perubahan

Kisah Para Pembawa Perubahan

Apa yang sama dari seorang remaja, seorang ibu, seorang kader Posyandu, dan seorang anak difabel? Kesamaannya adalah, semua bisa menjadi pembawa perubahan atau changemakers. Seorang pembawa perubahan adalah mereka yang berani mengambil langkah kreatif dan inovatif untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah yang ada di sekitarnya. Baik memicu gerakan-gerakan berskala global, maupun berpartisipasi aktif dalam pengembangan desa, siapapun yang menjadi pembawa perubahan memiliki tiga karakteristik berikut : 

  • Memiliki empati pada orang-orang yang berada di sekitarnya, juga terhadap isu-isu sosial yang ada. 

  • Memiliki motivasi untuk melakukan suatu aksi perubahan. 

  • Memiliki keberanian untuk memandang sesuatu dari sudut yang berbeda.

Seorang remaja dari Kabupaten Sintang seperti Indari mungkin nampak membawa perubahan sederhana di lingkungan sekitarnya. Begitu juga dengan Ainun Nafisah, seorang Kader Pembangunan Desa di Sulawesi Selatan. Beberapa cerita singkat dari program yang diimplementasikan Wahana Visi Indonesia bersama mitra dan masyarakat ini merupakan contoh changemakers yang sedang bersama-sama menjadi kontributor perubahan bagi kesejahteraan anak dan masyarakat di Indonesia.

 

Tidak Asal Kenyang dengan Menu Empat Bintang 

Dalam rangka Hari Kesehatan Nasional Kabupaten Sintang, Indari (14) mengikuti kegiatan “Cegah Anemia pada Remaja (CERIA)”. Karena mengikuti kegiatan ini, Indari memperoleh wawasan baru mengenai menu empat bintang. “Dulu bekal saya makanannya asal buat kenyang saja. Sekarang karena sudah tahu tentang menu empat bintang, bekal saya sudah lebih lengkap gizinnya. Tidak lagi hanya tempe dengan sayur, atau mi dengan telur,” ujarnya. Ia pun berniat untuk memberi tahu teman-temannya mengenai pentingnya konsumsi makanan menu empat bintang dan juga rutin meminum tablet tambah darah. “Supaya semua sehat dan bisa mengikuti pelajaran sekolah dengan baik,” tambah Indari.

 

Perempuan Desa Bersuara 

Ainun Nafisah (39) bukanlah ibu rumah tangga biasa. Ia adalah seorang Kader Pembangun Manusia Desa yang aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan. Tahun 2022, ia terpilih menjadi perwakilan perempuan desa yang berpartisipasi dalam Musrenbang di tingkat kecamatan. 

“Dulu itu, setiap pertemuan saya malas ikut karena saya anggap itu tidak penting. Mending mengurus kebun, dan jika saya ikut, saya hanya pergi ke pertemuan untuk ambil bantuan uang atau barang,” cerita Ainun. “Kalau sekarang, saya senang mengikuti kegiatan apapun. Rasa ingin belajar saya meningkat karena sudah terbiasa mengambil peran dalam kegiatan yang dilakukan di desa,”. Ainun mengalami perubahan dan bisa menjadi agen perubahan di desanya setelah tertarik untuk mengikuti pelatihan kepemimpinanan dan public speaking. Pelatihan ini merupakan bagian dari program Cocoa Life yang diimplementasikan Wahana Visi Indonesia bekerja sama dengan Mondelez Internasional.

 

Cegah Stunting Sebelum Genting 

“Pendek belum tentu stunting, tapi stunting sudah pasti pendek,” ujar Yulita Hastuti (32) saat menjadi fasilitator workshop peningkatan kesadaran masyarakat akan isu stunting. Yulita bukan seorang dokter, perawat, ataupun tenaga kesehatan. Ia adalah seorang kader Posyandu di sebuah desa di Bengkulu Selatan. Ia tertantang untuk menjadi fasilitator karena ingin berbagi pada sesama kader, juga masyarakat, mengenai isu yang banyak terjadi di daerahnya ini. “Saya sangat senang bisa berbagi ilmu dan pengalaman dengan kader lain, khususnya tentang stunting. Memang sudah banyak yang tahu, tapi masih banyak yang belum memahami,” jelasnya.

 

Tak Terbatas dalam Keterbatasan 

Yasinta F. Iman, seorang anak difabel dari Manggarai, sempat merasa terbatas beraktivitas karena fisiknya yang berbeda dengan anak lainnya. “Tahun 2021, saya pernah diajak pemerintah desa untuk ikut Musrenbang, tapi saya hanya sekedar datang saja,” kata Sinta, begitu dia akrab disapa. Namun, setelah mengikuti Musrenbang tersebut, Sinta jadi termotivasi untuk mengkapasitasi dirinya. Ia mampu melampaui keterbatasannya dengan aktif terlibat dalam Kelompok Anak di desanya. Apa yang ia peroleh dari Kelompok Anak bisa membawanya menjadi perwakilan dalam penyusunan rencana desa. Di hadapan pemerintah desa, Sinta menyampaikan isu-isu hak anak yang harus menjadi perhatian seluruh desa. “Saya sangat senang bisa berjuang untuk kegiatan pemenuhan hak anak di desa kami,” ujarnya. 


Artikel Terkait