Perempuan Papua Peduli Kerukunan

Perempuan Papua Peduli Kerukunan

“Kita rasa takut. Anak-anak di sekitar saya itu masih kecil pun sudah bisa bilang, memang sudah tidak ada keributan tapi masih takut karena belum rukun,” tutur Jurusella (32), seorang ibu tunggal dengan dua anak yang tinggal di Kabupaten Jayawijaya.  

Sella, begitu ia akrab disapa, dan keluarganya tinggal di daerah yang mengalami konflik berkepanjangan antarwarga dua distrik (kecamatan). Untuk sementara ini, distrik tempat tinggal Sella terkesan aman. Aksi-aksi yang membahayakan dan mengganggu tatanan sosial masyarakat mulai jarang terjadi. Namun, kesepakatan untuk bersatu juga belum terwujud. Perwakilan tiga tungku yang artinya perwakilan dari pemerintah, tokoh adat, dan tokoh agama masih belum bertemu untuk menyelesaikan masalah yang terus-menerus terjadi. Konflik tidak selalu dapat terlihat oleh mata. Tumpukan masalah yang tidak terselesaikan dapat memupuk konflik laten (tersembunyi), yakni kecurigaan dan kebencian. Konflik ini dapat menjadi bom waktu yang bisa menyebabkan pecahnya konflik kekerasan.  

Konflik kekerasan maupun laten sama-sama memberikan dampak negatif bagi masyarakat, terutama anak-anak. Konflik kekerasan sangat berisiko sehingga membuat roda kehidupan berhenti. Konflik ini menyebabkan trauma, hilangnya kepercayaan antarsesama anggota masyarakat, dan membuat masyarakat hidup dalam ancaman bahaya secara terus-menerus. Anak-anak tidak bisa pergi sekolah, pasar tidak buka, dan fasilitas-fasilitas umum seperti layanan kesehatan pun jadi sulit diakses. Setiap keluarga menutup pintu rumahnya, berlindung, dan bertahan dengan apa yang ada di rumah masing-masing.  

Konflik laten sendiri membuat ketegangan dan jarak antarsesama anggota masyarakat. “Ketika kami bertemu di jalan pun, rasa takut itu selalu muncul. Saat misa, kedua pihak yang berselisih ini tidak ingin saling bertemu,” ujar Sella. Oleh karena itu, ia berharap situasi ini bisa cepat terselesaikan sesuai dengan konteks adat di Jayawijaya, yakni dengan menggelar bakar batu wam (babi). Saat bakar batu wam, masyarakat dan perwakilan tiga tungku dari pihak-pihak yang berselisih bertemu dalam ruang diskusi terbuka dan bersama-sama bersepakat untuk rukun.  

Sella menyadari bahwa jalan menuju momen bakar batu wam itu masih panjang. Oleh karena itu, ia mencoba melakukan apa yang ia bisa untuk memuluskan jalan menuju kerukunan. Ketika program NOKEN (Transformasi Komunitas untuk Kerukunan) hadir di Kabupaten Jayawijaya, Sella menyambut baik. Selama satu tahun, Sella aktif berpartisipasi dalam tiap pelatihan yang difasilitasi oleh Wahana Visi Indonesia bersama mitra Gereja Katolik di Jayawijaya. Melalui rangkaian pelatihan ini, Sella mendapat wawasan tentang ragam konflik, metode pencegahan dan penyelesaiannya. Bahkan bersama peserta lainnya, ia bisa merumuskan visi bersama dan rencana aksi untuk membangun kerukunan yang sesuai dengan konteks Papua, khususnya Kabupaten Jayawijaya.  

“Saya paling senang ketika belajar tentang ragam konflik,” aku perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai petani ini. “Dari situ saya jadi makin tahu konflik-konflik apa saja yang terjadi di sekitar saya”. Berbekal wawasan mengenai konflik dan pentingnya kerukunan, Sella dan beberapa perempuan lain yang ada di daerahnya berinisiatif untuk mendorong tokoh agama di gerejanya agar melakukan diskusi dengan tokoh adat dan pemerintah. Sella menjadi promotor kerukunan yang terus bersuara agar isu ini tidak dibiarkan tertidur lebih lama lagi.  

Pada tahun kedua, program NOKEN hendak melanjutkan implementasi kegiatan yang mempromosikan kerukunan. Setiap pihak, baik itu pemuda-pemudi, tokoh masyarakat, perempuan, akan melakukan aksi pencegahan konflik kekerasan dan promosi kerukunan serta toleransi. Aksi-aksi ini berupa kampanye media sosial dan kegiatan kohesi sosial. Kegiatan-kegiatannya bisa beragam seperti seminar tentang kerukunan, lomba olahraga, festival seni, sosialisasi kesetaraan gender dan kesehatan reproduksi, pelatihan dan festival kreasi pangan lokal. Selain itu, peningkatan kapasitas pemuda dan perempuan juga akan terus berjalan.

Wahana Visi Indonesia bersama mitra-mitra gereja juga akan membentuk Komite Kerukunan di sembilan distrik. Komite ini akan bertanggung jawab untuk mempromosikan pembangunan kerukunan, berkontribusi dalam pencegahan konflik kekerasan, dan penyelesaian konflik horizontal dalam komunitas mereka. Aksi nyatanya, Komite Kerukunan akan turut mensosialisasikan modul program NOKEN, membangun Conflict Early Warning & Early Response (CEWER) System, serta memprakarsai dialog dan kerja sama di antara tiga tungku. Bersama-sama pemerintah kampung dan distrik, Komite ini juga akan mendokumentasikan kearifan lokal yang memuat nilai-nilai toleransi dan kerukunan. Sebelum menjalankan tugas mereka, para anggota komite yang terdiri dari pemuda, perempuan, dan tokoh masyarakat, akan diberi peningkatan kapasitas dalam hal mediasi dan pembuatan CEWER.

 

 

Penulis dan kontributor : Prananingrum (Peacebuilding Coordinator program NOKEN), Andina Larasati (Monev Coordinator program NOKEN) 

Penyunting : Andina Larasati, Mariana Kurniawati (Communication Executive) 


Artikel Terkait